Beton Megah Tapi Tamu Cuma Numpang Lewat: Dilema Hotel di Lampung

Beton Megah Tapi Tamu Cuma Numpang Lewat Dilema Hotel di Lampung
Hotel Lampung kian megah, tapi tamu cuma menginap 1,29 hari. Kota transit terjebak satu malam, terancam oversupply tanpa strategi wisata. (Foto ilustrasi AI)

Lampung lagi rame-ramenya bangun hotel. Kalau Anda melintas di Jalan Tol Trans-Sumatera, pasti mata langsung tertuju ke deretan gedung hotel baru yang menjulang di Bandar Lampung.

Lobi megah, fasilitas bintang empat, semuanya kinclong. Tapi ada yang aneh: hotelnya makin banyak, tamu cuma singgah sebentar.

Read More

Investor Percaya, Tapi Wisatawan Cuma Mampir

Dalam lima tahun terakhir (2020-2025), ada banyak unit hotel baru bermunculan. Artinya, investor yakin Lampung punya potensi.

Wajar sih, namanya juga “pintu gerbang Sumatera” siapa pun yang mau ke pulau ini lewat jalur darat pasti nyentuh Lampung dulu.

Masalahnya, kepercayaan investor belum sejalan dengan kesetiaan wisatawan. Buktinya? Rata-rata orang cuma menginap 1,29 hari di Lampung.

Praktis satu malam doang. Bangun tidur, sarapan, terus cabut lagi. Ini jadi masalah serius buat ekonomi pariwisata kita.

Lampung Masih Jadi “Kota Peristirahatan”, Bukan Destinasi

Kalau bicara kualitas destinasi wisata, yang penting bukan cuma berapa banyak orang datang tapi berapa lama mereka tinggal dan berapa banyak uang yang mereka habiskan di sini.

Sayangnya, Lampung masih terjebak jadi kota transit. Orang berhenti di sini karena capek nyeberang dari Jawa atau mau istirahat sebelum lanjut ke Palembang.

Bukan karena Lampung sendiri punya daya tarik yang bikin mereka betah bermalam-malam.

Ini yang saya sebut “jebakan satu malam”. Hotel bertambah terus, tapi fungsinya cuma sebagai tempat istirahat sejenak, bukan bagian dari pengalaman wisata yang utuh.

Baca juga:
* Membangkitkan Pariwisata Lampung: Solusi Nyata untuk Tiga Kendala Klasik

Ke Depan: Hotel Akan Makin Banyak, Tapi Polanya Berubah

Saya yakin, sampai 2030 nanti jumlah hotel di Lampung bakal terus nambah. Cuma, yang tumbuh bukan lagi hotel-hotel beton di pusat kota yang padat dan macet.

Ke depan, pertumbuhannya akan bergeser ke hotel boutique dan resort di daerah pesisir kayak Pesisir Barat atau Lampung Barat.

Kenapa? Karena wisatawan sekarang nggak cuma nyari tempat tidur yang nyaman.

Mereka nyari pengalaman. Mereka mau bangun pagi sambil denger suara ombak, mau lihat kabut pagi di pegunungan, mau merasakan sesuatu yang nggak bisa mereka dapat di kota.

Ini yang disebut experience economy orang rela bayar lebih mahal kalau pengalamannya berkesan.

Bahaya Oversupply Kalau Nggak Ada Strategi Jelas

Masalahnya, kalau pemerintah daerah cuma fokus ngasih izin pembangunan hotel di kota tanpa memperbaiki akses ke destinasi wisata alam, kita bakal kena masalah besar: oversupply kamar hotel.

Bayangkan: hotel makin banyak, tapi tamu tetap cuma numpang lewat.

Akibatnya? Perang harga. Hotel-hotel terpaksa turunin tarif buat isi kamar. Untungnya tipis, bahkan bisa rugi.

Akhirnya yang bertahan cuma yang punya modal tebal, sementara pengusaha kecil gulung tikar.

Baca juga:
* Jual Pasir Putih, Beli Masa Depan: Dilema Pariwisata Pantai Lampung

Yang Dibutuhkan: Alasan Agar Orang Betah Lebih Lama

Pembangunan hotel harus dibarengi dengan penciptaan alasan kenapa orang harus tinggal lebih lama di Lampung.

Tanpa itu, semua hotel megah yang kita bangun cuma jadi monumen kosong buat para pelintas yang keburu-buru pulang.

Jadi, sebelum terlambat, mari kita ubah narasi: dari “Lampung kota transit” menjadi “Lampung destinasi yang layak dijelajahi lebih dari sekadar satu malam.”

*Penulis : Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan

#LampungMaju #WisataLampung #HotelLampung

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *