Rabu pagi (28/1) di kawasan Panjang, Bandar Lampung, ada yang berbeda dari coffee morning biasa. Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Wakil Gubernur Jihan Nurlela duduk bersama jajaran direksi PT Nestlé Indonesia, Bank Indonesia, OJK, sampai bos-bos perusahaan besar lainnya.
Bukan cuma ngopi dan basa-basi. Yang dibahas: bagaimana caranya Lampung berhenti jadi cuma “pemasok bahan mentah” buat daerah lain.
Angka yang Bikin Miris
Iyai Mirza bilang terus terang: PDRB Lampung sudah tembus Rp483 triliun. Dari situ, sektor pertanian nyumbang Rp130 triliun hampir sepertiga.
Tapi yang diolah di Lampung? Baru 40%. Sisanya? Ya keluar mentah-mentah. Jagung, kopi, singkong, lada semua masih dibawa keluar provinsi dalam bentuk basah atau setengah jadi.
Kalau dihitung kasar, ada sekitar Rp100 triliun potensi nilai tambah yang “kabur” ke luar. Uangnya jalan, tapi nggak tinggal di kantong petani Lampung.
Yang nikmati ya pabrik di Jawa atau daerah lain yang punya mesin pengolahan.
Ini bukan soal sederhana. Dalam ilmu ekonomi pembangunan, kondisi ini namanya ketergantungan struktural.
Lampung jadi daerah pinggiran yang ngasih “makan” pusat industri, tapi sendirinya tetap miskin. Modal terus keluar, nilai tambah dinikmati orang lain.
Dryer Desa: Solusi Sederhana tapi Nendang
Makanya Mirza-Jihan ngeluarin program Desaku Maju. Salah satu andalannya: nyebar 500 unit mesin pengering (dryer) ke desa-desa. Kedengarannya simpel, tapi dampaknya gede.
Kenapa? Karena kalau jagung atau kopi langsung dikeringkan di desa, kadar airnya turun drastis. Beratnya berkurang, ongkos angkut turun 20-30%. Harga jualnya? Naik, karena kualitasnya lebih stabil.
Petani nggak lagi dijajah tengkulak yang manfaatin kondisi hasil panen basah.
Ini bukan mimpi. Buktinya ada di Riau yang berhasil naikkan nilai tambah sawit, atau Sulawesi Tengah yang booming gara-gara hilirisasi nikel. Prinsipnya sama: pabrik harus dekat sama sumber bahan baku.
Kalau Nestlé aja udah bisa ngekspor produk olahannya dari pabrik Lampung ke seluruh dunia, kenapa komoditas lain masih keluar dalam bentuk karung-karung mentah?
Sinergi yang Jarang Terjadi
Yang menarik dari coffee morning ini, Mirza-Jihan nggak cuma ngomong sendiri. Mereka duduk bareng bersama regulator (BI, OJK), akademisi, sampai pelaku usaha.
Ini model Triple Helix yang sering dibahas di buku tapi jarang jalan di lapangan: pemerintah, kampus, dan industri ngobrol satu meja.
Dan harus diakui, ada apresiasi buat korporasi yang hadir. PT Nestlé, PT Bukit Asam, bank-bank besar mereka nggak cuma jualan CSR.
Ada komitmen nyata: beasiswa buat mahasiswa, program kemitraan petani kopi, pelatihan SDM. Itu bukan kemurahan hati semata.
Mereka paham: bisnis cuma bisa tumbuh lama kalau masyarakat di sekitarnya juga sejahtera.
Jangan Sampai Cuma Jadi Proyek Gagah-gagahan
Tapi tantangannya jelas: konsistensi. Visi “Lampung Maju Menuju Indonesia Emas 2029” butuh lebih dari seremoni dan launching. Birokrasi harus bisa bergerak secepat dunia usaha.
Program pupuk organik cair yang mau disebar ke 2.500 desa jangan sampai cuma jadi infrastruktur tanpa isi mesin ada, tapi petani nggak dilatih.
Baca juga:
* Lampung 2026: Dari Lumbung Pangan Menuju Pusat Industri Agro Nusantara
Kalau ini bisa dijaga, Lampung bisa jadi contoh: dari daerah yang cuma ngirim bahan mentah, jadi mesin pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Gerbang Sumatera-Jawa bukan cuma buat dilalui, tapi jadi tempat di mana nilai tambah benar-benar diciptakan dan dinikmati masyarakatnya sendiri.
*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan
#LampungMaju #EkonomiLampung #GubernurMirza



