Lampung 2026: Dari Lumbung Pangan Menuju Pusat Industri Agro Nusantara

Lampung 2026 Dari Lumbung Pangan Menuju Pusat Industri Agro Nusantara
Petani agroforestri di Lampung menunjukkan green bean kopi, sementara mahasiswa berdiskusi di latar belakang sebagai bagian dari kolaborasi penguatan agroindustri berkelanjutan. (Foto: Yopie Pangkey)

Ada sesuatu yang berbeda dari Lampung akhir-akhir ini. Optimisme terasa menguar di setiap sudut, terutama ketika angka pertumbuhan ekonomi 2026 diproyeksikan mencapai 5,2-5,7 persen. Bukan sekadar angka biasa ini adalah bukti nyata bahwa Lampung sedang bertransformasi.

Yang tadinya dikenal sebagai gudang pangan, kini perlahan tapi pasti bergerak menjadi sentra industri pengolahan hasil pertanian yang kompetitif.

Read More

Memang, perjalanan ini tidak mudah. Selama bertahun-tahun, komoditas bernilai ratusan triliun rupiah dari Lampung justru keluar dalam bentuk mentah.

Tapi kini, cerita itu mulai berubah berkat kepemimpinan yang punya visi jelas dan strategi hilirisasi yang bukan cuma jargon.

Sektor Agro: Jantung Ekonomi yang Tak Tergantikan

Kalau kita lihat struktur ekonomi Lampung, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih jadi tulang punggung dengan sumbangan hampir 39% terhadap perekonomian daerah.

Sementara industri pengolahan menyumbang sekitar 18,93% dari PDRB, dan sebagian besarnya adalah industri makanan dan minuman.

Menariknya, lebih dari 75% bahan baku industri ini ternyata berasal dari dalam provinsi sendiri. Ini bukan kebetulan ini adalah ekosistem yang secara alamiah mendukung pengembangan agroindustri.

Dari kebun langsung ke pabrik, menciptakan rantai nilai yang terintegrasi dan efisien.

Hilirisasi: Bukan Lagi Sekadar Wacana

Transformasi besar ini tentu tidak terjadi begitu saja. Kementerian Perindustrian bersama Pemprov Lampung dan pemerintah kabupaten/kota sudah bergerak konkret.

Hilirisasi dijadikan instrumen utama, sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.

Langkah nyatanya? Ada bantuan alat pengering padi dan mesin penepung yang disalurkan ke kelompok tani dan UMKM. Ada juga reformasi birokrasi dan digitalisasi perizinan yang bikin iklim investasi makin kondusif.

Hasilnya? Realisasi investasi sampai triwulan III-2025 sudah melampaui target tahunan, terutama di sektor industri makanan, tanaman pangan, dan perkebunan.

Kolaborasi juga makin erat. Pemerintah, pelaku usaha seperti PT Great Giant Pineapple, dan akademisi duduk bersama dalam berbagai forum untuk melahirkan kebijakan yang aplikatif, bukan cuma bagus di atas kertas.

SDM Terampil: Kunci Keberlanjutan Industri

Bicara industri modern, SDM yang kompeten adalah harga mati. Di sinilah SMK dan SMTI di Lampung yang berada di bawah Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin punya peran strategis.

Dengan program studi Kimia Industri dan Analisis Pengujian Laboratorium, sekolah ini mencetak tenaga siap pakai untuk industri pengolahan hasil pertanian.

Sistem pendidikannya juga praktis: ada praktek kerja industri (prakerin) selama 6 bulan yang memastikan siswa tidak cuma paham teori, tapi juga tahu kondisi lapangan.

Ini yang disebut link and match pendidikan yang nyambung sama kebutuhan industri.

Tidak cuma itu, nantinya kehadiran Balai Diklat Industri (BDI) melengkapi ekosistem ini. BDI bertugas melatih dan menyegarkan kompetensi pekerja yang sudah terjun di industri.

Mereka juga jadi mitra strategis SMK, BLK, dan politeknik dalam menyusun kurikulum yang selalu update mengikuti perkembangan teknologi dan pasar. Tanpa BDI, rantai pasok SDM terampil bisa mandek.

Kepemimpinan yang Progresif

Prestasi Lampung hari ini tidak lepas dari kepemimpinan yang punya komitmen kuat. Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menjadikan hilirisasi sebagai gerakan bersama, bukan program elitis.

Sementara dukungan dari Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza memastikan strategi pembangunan industri nasional selaras dengan potensi dan kecepatan yang dikembangkan Lampung.

Baca juga:
* Pemprov Lampung–Kemenperin Gaet Investasi Industri Agro, Kopi dan Singkong Jadi Andalan

Tantangan Masih Ada, Tapi Jalan Sudah Jelas

Tentu saja, tidak semua sudah sempurna. Pemerataan pertumbuhan dan penguatan kapasitas UMKM masih jadi pekerjaan rumah.

Tapi dengan fondasi ekonomi yang solid, strategi yang terukur, dan ekosistem pendidikan vokasi yang makin kuat, Lampung jelas sudah di jalur yang benar.

Kalau konsistensi ini terjaga, cita-cita menjadi sentra industri agro nasional bukan lagi mimpi. Ini adalah destinasi nyata dalam peta industrialisasi Indonesia.

*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan

#IndustriAgroLampung #HilirisasiLampung #EkonomiLampung2026

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *