Saat Komisi II DPRD Provinsi Lampung berkunjung ke produsen unggas besar November lalu, terungkap fakta mengejutkan: setiap hari Lampung memproduksi 300-400 ribu ekor ayam, padahal kebutuhan lokal cuma 209 ribu ekor. Jadi setiap hari ada sisa 90-156 ribu ekor ayam yang nggak tahu mau diapain.
Lampung memang sudah jadi langganan surplus ayam potong sejak 2025, sejalan dengan tren nasional. Tapi tunggu dulu kalau surplus, kan harusnya semua senang? Kenyataannya justru bikin pusing tujuh keliling.
Surplus di Atas Kertas, Minus di Lapangan
Inilah ironisnya. Meski secara provinsi surplus, ternyata ada daerah yang malah kekurangan.
Ambil contoh Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) mereka defisit 616,69 ton ayam per tahun.
Kekurangannya harus didatangkan dari Lampung Tengah dan Lampung Timur.
Jadi masalahnya bukan cuma angka, tapi juga soal distribusi yang berantakan.
Ayam menumpuk di satu tempat, sementara tempat lain kehabisan. Rantai pasokan kita ternyata masih amburadul.
Pergub Penjaga Stok: Masih Relevan?
Pemprov Lampung sebenarnya punya senjata: Peraturan Gubernur Nomor 40 Tahun 2020 tentang Pemasukan dan Pengeluaran Hewan.
Regulasi ini mengatur keluar-masuknya ayam hidup supaya stok lokal terjaga.
Tapi tunggu kalau sudah surplus segini, masih perlu dijaga segala?
Yang jadi masalah sekarang bukan “jaga stok” lagi, tapi “urus kelebihan” supaya harga nggak anjlok dan peternak nggak rugi.
Makan Bergizi Gratis: Penyelamat atau Pelengkap?
Di sinilah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masuk sebagai solusi.
Komisi II DPRD Lampung gencar mendorong supaya surplus ayam ini disalurkan ke program MBG. Kemitraan dengan UMKM lokal jadi kuncinya.
Kabar baiknya, pelaku industri bilang permintaan MBG bisa dipenuhi tanpa ganggu pasokan pasar biasa.
Produksi memang lagi melimpah. Kalau dikelola transparan dan melibatkan UMKM setempat, MBG bisa jadi bantalan yang menstabilkan harga.
Peternak dapat pembeli tetap, masyarakat dapat makan bergizi sama-sama untung.
Baca juga:
* Membangun Lumbung Pangan dan Jaringan Ekonomi: Menggagas Masa Depan Agribisnis Lampung
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal: Kepemimpinan yang Peka terhadap Peternak
Patut diapresiasi langkah Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal yang mulai menunjukkan perhatian serius terhadap persoalan ini.
Di tengah kompleksitas masalah surplus ayam yang paradoks angka produksi tinggi tapi peternak tetap resah kepemimpinan yang paham akar masalah sangat dibutuhkan.
Gubernur Mirzani tampaknya memahami bahwa surplus bukan sekadar soal angka statistik, tapi menyangkut nasib ribuan peternak kecil yang bisa tergilas mekanisme pasar.
Komitmen untuk mengintegrasikan surplus produksi lokal dengan program-program strategis seperti MBG menunjukkan visi kepemimpinan yang tidak hanya reaktif, tapi juga solutif dan berpihak pada rakyat kecil.
Dengan dukungan politik yang kuat dari tingkat gubernur, kebijakan-kebijakan inovatif untuk mengatasi paradoks surplus ini akan lebih mudah diimplementasikan.
Harapannya, kepemimpinan Gubernur Mirzani dapat menjadi katalis transformasi sektor perunggasan Lampung dari sekadar produsen menjadi provinsi dengan ekosistem unggas yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Rumah Potong Ayam: Jurus Jitu yang Terlupakan
Nah, ini dia solusi yang jarang dibahas: Rumah Potong Ayam (RPA) modern.
Selama ini industri unggas kita berat sebelah bagian hulu (ternak ayam) tumbuh kencang, tapi hilir (pengolahan) jalan di tempat.
Akibatnya, kalau surplus, harga langsung bablas karena ayam hidup cepat busuk dan nggak bisa ditimbun.
RPA berstandar bisa jadi “rem darurat”. Ayam hidup diubah jadi karkas beku yang bisa disimpan di cold storage. Stok bisa diatur, distribusi lebih fleksibel, dan yang penting mata rantai dagangnya lebih pendek.
Sekarang banyak peternak jual ke pedagang besar atau calo. Marginnya hilang di tengah jalan. Kalau RPA dikelola peternak atau koperasi, keuntungan bisa balik ke kantong mereka.
Dari Jeroan Sampai Ceker: Semua Bisa Jadi Cuan
Lebih jauh lagi, RPA buka pintu ke industri pengolahan. Jeroan, usus, ceker yang selama ini cuma dijual mentah atau bahkan dibuang bisa diolah jadi produk bernilai tinggi.
Nugget, bakso ayam, keripik ceker, abon usus… peluangnya bejibun!
Nggak perlu modal gede dulu. Mulai dari skala rumahan, terus naik kelas jadi semi-modern.
Ini bisa menciptakan klaster industri unggas yang lengkap, menyerap banyak tenaga kerja, dan yang pasti nilai ekonominya berlipat ganda.
Jalan Keluar yang Realistis
Jadi surplus ayam Lampung ini dua mata pisau: bisa jadi berkah, bisa jadi kutukan.
Akan jadi kutukan kalau dibiarkan membanjiri pasar sampai harga hancur dan peternak merugi. Tapi bisa jadi berkah kalau dikelola cerdas lewat tiga langkah ini:
Baca juga:
* Lampung: Dari Lumbung Pangan Menjadi Raja Unggas
Pertama, optimalkan Program MBG sebagai penyerap pasokan yang terukur. Libatkan UMKM lokal dengan mekanisme yang jelas dan transparan.
Kedua, berikan insentif dan kemudahan regulasi untuk investasi RPA modern plus cold storage. Baik swasta maupun koperasi peternak harus didorong masuk.
Ketiga, bangun klaster industri pengolahan ayam. Kasih pembinaan, akses modal seperti KUR, bantuan pemasaran, sampai sertifikasi Halal, BPOM, dan SNI untuk produk olahan.
Dengan kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal yang responsif dan dukungan legislatif yang kuat, transformasi ini bukan lagi sekadar wacana.
Surplus ayam bisa benar-benar jadi modal membangun ekonomi daerah yang mandiri, berdaya saing, dan lebih adil untuk semua pihak terutama para peternak yang selama ini jadi tulang punggung produksi.
*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan
‘#GubernurMirza #SurplusAyamLampung #IndustriUnggas #MakanBergizisGratis



