Hendra, Driver Online yang Tetap Ngebid di Hari Kemenangan
Pagi hari, Lebaran 2025, di salah satu sudut Kota Bandarlampung, matahari belum sepenuhnya naik, namun Hendra sudah menarik napas dalam-dalam. Lelaki berusia 34 tahun itu kembali memeriksa notifikasi di aplikasinya, sudah ada calon penumpang yang masuk ke akunnya.
Meski hari itu adalah Idulfitri, hari kemenangan bagi umat Muslim, ia tetap menggenggam erat setir motornya.
“Kalau saya nggak narik, keluarga saya nggak bisa makan enak hari ini,” katanya lirih, sembari tersenyum getir, saat mengantar saya silaturahim lebaran ke daerah Gedong Meneng, Bandarlampung, (31/3/2025) lalu.
Hendra, seorang driver ojek online, tak punya pilihan lain. Demi bisa membawa oleh-oleh saat pulang kampung ke Lampung Utara H+3 Lebaran, dia memilih tetap bekerja di hari orang lain bersilaturahmi.
Lebaran bukan lagi soal ketulusan dan kesederhanaan bagi sebagian orang seperti Hendra. Perjalanan mudik kini memerlukan modal yang tak sedikit.
Dari membeli baju baru untuk anak-anak, membayar sewa kontrakan, hingga mengisi saldo paylater untuk kebutuhan yang belum tentu penting.
“Saya sampai ambil pinjol kemarin buat beli keperluan Lebaran, termasuk biaya mudik,” akunya, dengan nada suara memelas.
Lonjakan Pinjol dan Paylater Jelang Lebaran: Fenomena Tahunan
Cerita Hendra hanyalah potongan kecil dari fenomena besar yang sedang berlangsung di Indonesia.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat lonjakan drastis dalam pemanfaatan fasilitas pembiayaan digital menjelang Hari Raya.
Seperti yang disampaikan Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK, pembiayaan melalui skema Buy Now Pay Later (BNPL) melonjak 41,9% secara tahunan per Januari 2025. Nilai outstanding-nya telah menyentuh Rp7,12 triliun.
Tak hanya BNPL, sektor peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman daring juga tumbuh signifikan, dengan nilai outstanding tembus Rp78,5 triliun. Pertumbuhan tahunan sektor ini mencapai 29,94%.
Namun yang menarik, tingkat wanprestasi atau TWP90—yang mengukur pinjaman yang macet selama lebih dari 90 hari—masih terjaga di angka 2,52%, cukup aman menurut standar industri.
Fenomena ini tidak datang tiba-tiba. Jika ditarik mundur ke tahun sebelumnya, lonjakan serupa juga terjadi di bulan Ramadan dan menjelang Idulfitri.
Masyarakat seperti mengalami dorongan psikologis dan sosial untuk “tampil” lebih di momen Lebaran, dengan segala risiko finansial yang mengikuti.
Lebaran Jadi Ajang Pamer?
Sebagian orang mungkin masih ingat bahwa Lebaran dulu identik dengan ketulusan, maaf-memaafkan, dan kesederhanaan. Kini, semua itu seakan bergeser.
Di Pulau Jawa, misalnya, penyewaan iPhone menjadi tren menjelang Lebaran. Tak sedikit warga kota besar hingga pelosok desa memanfaatkan pinjol dan paylater untuk membeli pakaian mewah, gadget terbaru, hingga oleh-oleh eksklusif agar bisa ‘tampil’ di hadapan keluarga di kampung halaman.
Prof. Admi Syarif, PhD, dosen Universitas Lampung sekaligus pengamat sosial, menyebut fenomena ini sebagai “pamer tahunan.”
Dalam tulisannya di WhatsApp Group LITB, ia mengungkap bagaimana generasi muda, termasuk mahasiswa, terjebak dalam lingkaran utang hanya demi memenuhi ekspektasi sosial. Gaya hidup instan dan tekanan media sosial menjadi penyulut utama, apalagi ketika pinjaman begitu mudah didapat hanya lewat satu klik.
“Menikmati senja di Tanjung Karang, Bersama cinta dan cahaya remang.Tak perlu mewah tak perlu berhutang, Lebaran usai, hati pun tenang,” tulis Prof. Admi di akhir refleksinya—sebuah kutipan puitis yang menyayat tetapi mengena.
Bahaya Laten: Utang Tanpa Edukasi Keuangan
Masih menurut Prof Admi, masalah utama dari fenomena ini bukan hanya karena pinjol dan paylater mudah diakses, tapi karena rendahnya literasi keuangan masyarakat.
Edukasi tentang risiko utang, bunga tersembunyi, dan dampak jangka panjang dari pembayaran minimum tidak pernah benar-benar dijelaskan oleh penyedia layanan finansial digital.
Sebagai solusi, pemerintah dan OJK perlu memperketat regulasi penyedia layanan pinjol dan paylater. Mereka harus diwajibkan menyampaikan informasi risiko secara jelas dan jujur kepada konsumen.
Selain itu, edukasi keuangan sejak dini—baik di sekolah, kampus, maupun lingkungan keluarga—harus menjadi prioritas.
Kampus dan akademisi juga tak boleh tinggal diam. Melalui program pengabdian masyarakat dan riset sosial-ekonomi, mereka bisa berperan sebagai agen perubahan.
“Dunia kampus sejatinya tidak boleh diam. Pendidikan tinggi dan para akademisi memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk aktif membentuk pola pikir masyarakat agar melek finansial dan berpikir kritis terhadap gaya hidup konsumtif,” tegas Prof Admi.
Bijak Finansial: Lebaran Tak Harus Serba Wah
Sebetulnya, esensi Lebaran tak pernah berubah. Ia tetap menjadi momen spiritual untuk memaafkan dan kembali suci. Hanya saja, dalam era digital ini, gema takbir bersaing dengan bunyi notifikasi tagihan cicilan.
Maka penting untuk mengingatkan diri sendiri bahwa kesederhanaan bukanlah kekurangan—melainkan bentuk kematangan.
Hendra, si driver online tadi, mungkin tidak membawa pulang iPhone baru atau hampers mewah. Tapi ia membawa harapan, hasil kerja keras, dan ketulusan untuk berkumpul bersama keluarga.
“Saya cuma pengin orang tua, istri dan anak saya, senang. Bahagia walau nggak pakai barang mahal,” ucapnya sambil menatap foto keluarganya di dashboard kendaraannya yang juga masih harus diangsur.
Bila kita bisa menahan diri, menolak euforia semu, dan memeluk nilai sejati dari hari kemenangan—mungkin Lebaran akan kembali menjadi milik hati, bukan gengsi.