Pasar tradisional sejatinya bukan sekadar tempat jual beli. Ia adalah jantung ekonomi kerakyatan yang telah mengakar sejak lama.
Namun kenyataannya, pasar-pasar di Bandar Lampung kini menghadapi tantangan yang jauh melampaui sekadar masalah “becek” atau kumuh.
Tantangan sesungguhnya adalah soal relevansi bagaimana pasar tradisional bertahan di tengah gempuran ritel modern yang terus menggerogoti pangsa pasarnya.
Untuk memajukan pasar rakyat, kita membutuhkan lebih dari sekadar perbaikan gedung atau pengecatan ulang.
Dibutuhkan sinergi nyata antara Pemerintah Kota, Pemerintah Provinsi, dan sektor swasta sebuah kemitraan strategis yang bekerja melampaui ego sektoral.
Sinergi Tripartit: Siapa Berbuat Apa?
Ansell dan Gash dalam risetnya tahun 2007 tentang Collaborative Governance menegaskan bahwa kolaborasi sejati bukan sekadar koordinasi rutin.
Ini adalah kemitraan setara untuk mencapai tujuan yang mustahil diraih sendirian.
Mari kita bedah peran masing-masing pihak:
Pemkot Bandar Lampung: Regulator yang Berani
Sesuai amanat UU No. 7/2014, Pemkot adalah pemegang otoritas utama. Tapi perannya tidak cukup sampai membangun lapak baru atau memperbaiki atap bocor.
Yang lebih krusial adalah keberanian mengatur zonasi. Tanpa perlindungan jarak yang tegas antara minimarket dengan pasar rakyat, pasar tradisional akan mengalami kematian perlahan slow death yang tidak disadari.
Pemkot harus berani menjamin penerapan SNI Pasar Rakyat secara konsisten. Ini bukan soal teknis semata, tapi komitmen melindungi pedagang kecil dari persaingan tidak seimbang.
Pemprov Lampung: Pengendali Rantai Pasok
Lampung adalah daerah agraris dengan surplus komoditas. Dari Tanggamus hingga Lampung Barat, hasil bumi melimpah.
Namun, berapa banyak yang benar-benar sampai ke pasar Bandar Lampung dengan harga terjangkau?
Di sinilah peran strategis Pemprov. Sebagai stabilisator, Pemprov harus memastikan distribusi berjalan lancar tanpa hambatan tengkulak berlapis yang justru memangkas margin pedagang dan membebani konsumen.
Kalau rantai pasok ini efisien, harga di pasar tradisional bisa jauh lebih kompetitif dibanding supermarket.
Sektor Swasta: Mitra, Bukan Musuh
Selama ini swasta sering dipandang sebagai kompetitor lewat mal dan minimarket. Padahal, jika diajak bermitra, swasta bisa menjadi akselerator teknologi yang sangat dibutuhkan pasar tradisional.
Bayangkan jika pasar-pasar tradisional kita sudah dilengkapi sistem pembayaran digital, platform delivery online, atau bahkan aplikasi cek harga real-time. Ini adalah keahlian yang dimiliki swasta.
Pemerintah tinggal membuka pintu kolaborasi, bukan menutupnya dengan kecurigaan.
Belajar dari Kesuksesan Surakarta
Solo adalah contoh menarik. Kota dengan kepadatan penduduk setara Bandar Lampung ini berhasil merevitalisasi pasar tradisional tanpa menggusur pedagang.
Rahasianya sederhana: perencanaan dari bawah (bottom-up) yang melibatkan pedagang sejak awal.
Hasilnya? Pasar tradisional Solo bahkan menjadi destinasi wisata budaya. Wisatawan datang bukan hanya untuk berbelanja, tapi juga merasakan atmosfer khas pasar dengan segala hiruk-pikuknya.
Potensi serupa sebenarnya ada di Bandar Lampung misalnya di Pasar Bambu Kuning namun belum tergarap maksimal.
Kita terlalu sibuk memikirkan modernisasi fisik, sampai lupa bahwa yang dicari orang adalah pengalaman autentik.
Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Gedung Baru
Memajukan pasar tradisional bukan berarti mengubahnya jadi “mal versi murah”. Justru sebaliknya kita harus memodernisasi cara kerjanya sambil mempertahankan karakter aslinya. Bagaimana caranya?
A. Catatan untuk Pemerintah Daerah:
Sudah saatnya berhenti melihat pasar hanya sebagai sumber PAD dari retribusi.
Pasar adalah jaring pengaman sosial yang menopang ribuan keluarga. Ketika pasar mati, ekonomi kerakyatan ikut mati.
Jadi investasi untuk pasar bukan pengeluaran, tapi modal sosial jangka panjang.
B. Catatan untuk Sektor Swasta:
Cobalah berinvestasi pada infrastruktur cold chain di pasar tradisional.
Kesegaran daging, ikan, dan sayuran adalah nilai jual yang tidak akan pernah bisa dikalahkan supermarket mana pun asalkan kualitasnya terjaga.
Ini peluang bisnis sekaligus kontribusi sosial.
C. Catatan untuk Masyarakat:
Dukungan paling nyata adalah dengan kembali berbelanja di pasar.
Bukan hanya sesekali untuk nostalgia, tapi menjadikannya kebiasaan. Karena pada akhirnya, pasar akan hidup kalau ada yang membelinya.
Baca juga:
* Operasi Pasar: Komitmen Lampung Menjaga Daya Beli Rakyat
Pasar tradisional adalah wajah peradaban sebuah kota.
Ketika pasar kita maju, sejahtera, dan ramai, itu artinya ekonomi kerakyatan benar-benar berdaulat.
Bukan lagi sekadar slogan di papan reklame atau janji kampanye yang menguap begitu saja.
Bandar Lampung punya semua modal untuk mewujudkannya. Tinggal kita mau atau tidak bergerak bersama.
*Penulis : Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan
‘#PasarTradisionalBandarLampung #EkonomiKerakyatan #RevitalisasiPasar



