Sebagai pemerhati pembangunan, saya melihat fenomena pembatalan 49 rute penerbangan dari China ke Jepang menjelang Imlek 2026 bukan sekadar urusan teknis maskapai, melainkan pergeseran tektonik dalam geopolitik pariwisata Asia Timur.
Langkah Beijing membatalkan puluhan rute penerbangan ke Jepang dengan dalih keamanan dan ketegangan diplomatik adalah pukulan telak bagi Tokyo.
Jepang, yang selama ini mengandalkan turis China sebagai motor utama belanja ritel dan okupansi hotel, kini harus bersiap kehilangan potensi devisa hingga ratusan triliun rupiah.
Tapi seperti kata pepatah lama, ketika satu pintu tertutup, jendela lain terbuka dan jendela itu kini mengarah ke Asia Tenggara.
Jepang Kehilangan Nyawa Ekonominya
Dampak bagi Jepang sangat serius. Data menunjukkan turis China menyumbang hampir seperempat dari total kunjungan asing.
Pembatalan ini akan memukul telak sektor perhotelan di Osaka dan Tokyo, juga industri barang mewah yang biasanya “panen” saat libur Imlek.
Jepang sekarang merasakan sendiri betapa berbahayanya terlalu bergantung pada satu pasar saja kerentanan ekonomi yang nyata.
ASEAN Jadi Alternatif Logis

(Foto: Yopie Pangkey)
Ketika wisatawan China tetap ingin berlibur saat Imlek tapi akses ke Jepang terhambat, mereka akan mencari destinasi pengganti.
Korea Selatan memang jadi pesaing ketat dengan kebijakan bebas visa dan wisata medisnya yang terkenal. Namun Indonesia punya keunggulan tersendiri.
Thailand, Vietnam, dan Indonesia membentuk “Segitiga Emas” yang siap menampung limpahan turis ini. Bagi Indonesia, ini bukan cuma soal Bali lagi.
Bagaimana kalau kita dorong Manado atau Kepulauan Riau sebagai pintu masuk utama? Lebih dekat secara geografis, dan kita punya kesamaan budaya yang lebih kuat dengan China.
Langkah Konkret yang Harus Diambil
Indonesia tidak bisa pasif menunggu. Kemenpar dan pelaku industri harus bergerak cepat:
Pertama, gencarkan promosi digital di platform China seperti Baidu, Trip.com, dan WeChat. Tawarkan paket wisata Imlek yang menarik akomodasi bagus, wisata kuliner bahari yang sedang tren di kalangan turis China.
Kedua, buka slot penerbangan charter tambahan dari kota-kota lapis kedua China langsung ke Manado, Batam, atau Labuan Bajo. Hindari kerumitan transit yang bikin ribet.
Ketiga dan ini penting, jangan coba-coba lawan Korea Selatan di urusan belanja. Indonesia harus unggul di pengalaman wisata: menyelam, golf, wisata budaya yang tidak dimiliki negara Asia Timur lainnya.
Baca juga:
* Peran Kunci Faisol Riza: Mendorong Industri Nasional Dukung Program Prioritas Prabowo
Ini Ujian Sesungguhnya
Momen Imlek 2026 adalah ujian bagi ketangkasan birokrasi dan industri kita.
Kalau kita mampu mengelola arus ini dengan pelayanan berkualitas bukan sekadar mengejar angka kunjungan Indonesia bisa menggeser dominasi Jepang dalam peta destinasi favorit warga Tiongkok untuk jangka panjang.
Pertanyaannya sekarang: apakah kita siap memanfaatkan peluang emas ini, atau justru kehilangan momentum karena terlalu lambat bergerak?
*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan
#PariwisataIndonesia #IndustriPariwisata #WisatawanTiongkok



