Menggali Potensi Sungai Lampung: Menuju Kemandirian Energi Hijau 2030

Menggali Potensi Sungai Lampung - Menuju Kemandirian Energi Hijau 2030@@
Suasana waduk Batu Tegi di Lampung dengan latar perbukitan, mencerminkan potensi besar sumber daya air sebagai tulang punggung energi hijau daerah. (Foto arsip Yopie Pangkey)

Provinsi Lampung sebenarnya punya modal alam yang luar biasa. Deretan pegunungan Bukit Barisan di sisi barat membentuk topografi unik sungai-sungai mengalir deras dari hulu ke hilir, membawa “emas biru” yang selama ini belum kita optimalkan sepenuhnya.

Padahal, ini kunci utama kalau kita mau serius soal Energi Baru Terbarukan (EBT). Di tengah hiruk-pikuk pembangunan nasional, Lampung diam-diam menyimpan potensi besar sebagai salah satu provinsi di Sumatera dengan profil energi hijau yang menjanjikan.

Read More

Cerita Sukses yang Sudah Tertulis

Kita sebenarnya sudah punya bukti nyata. PLTA Way Besai di Lampung Barat dengan kapasitas 90 MW sudah jadi ikon bukan cuma soal listrik, tapi juga efisiensi pemanfaatan sumber daya alam.

Lalu ada PLTA Way Semangka di Tanggamus, 55,4 MW, yang membuktikan kawasan itu memang punya nasib jadi hub energi hidro.

Yang sering terlupakan, Bendungan Batutegi ternyata nggak cuma buat irigasi. Dia juga ngasih kontribusi 28 MW ke jaringan listrik kita.

Belum lagi PLTM-PLTM kecil seperti Way Kemu (7 MW) dan Sukarame yang seperti anak-anak tangga, pelan tapi pasti menambah porsi EBT kita.

Total? Sekitar 25-30% subsistem Lampung sudah dari energi terbarukan. Angka yang bagus, tapi jujur saja masih jauh dari kata cukup.

Potensi yang Masih “Tidur Nyenyak”

Nah, ini yang bikin saya sedikit gemas. Data menunjukkan kita masih punya cadangan energi yang belum disentuh. Contohnya:

  • Way Semangka Lower – Infrastrukturnya sudah ada, tinggal diperluas. Potensi tambahan? Sampai 76 MW. Kenapa kita belum gerak?
  • Pesisir Barat dan Lampung Barat – Sungai-sungai seperti Way Krui, Way Nipah, Way Tebak punya debit stabil dan ketinggian jatuh air yang ideal. Kalau dikelola serius, ini bisa jadi sumber energi skala menengah yang andal.
  • Bendungan Way Sekampung – Masih bisa ditambah sekitar 5,4 MW lagi. Kecil? Iya. Tapi kalau dikumpulkan dengan potensi lain, ini jadi bermakna.

Kalau kita hitung kasar, ada setidaknya 3–5 titik sungai besar atau menengah lain yang bisa menghasilkan daya antara 20–50 MW per lokasi.

Bayangkan kalau semua itu jalan Lampung bukan lagi sekadar “konsumen” listrik dari interkoneksi Sumatera. Kita bisa jadi pemasok mandiri.

Apresiasi untuk yang Sudah Berjuang

Tentu saja, kemajuan sekecil apa pun nggak datang begitu saja. PT PLN (Persero) patut diapresiasi karena terus menjaga stabilitas sistem di tengah tantangan geografis yang nggak mudah.

Para Independent Power Producers (IPP) juga berani turun tangan, berinvestasi di proyek-proyek yang secara finansial butuh kesabaran ekstra.

Belum lagi pemerintah daerah yang mulai paham pentingnya menjaga kawasan hulu sungai sebagai daerah tangkapan air tanpa hutan yang sehat, PLTA cuma akan jadi infrastruktur tanpa roh.

Catatan untuk Pak Gubernur Rahmat Mirzani Djausal

Bapak Gubernur yang terhormat, saya yakin Bapak paham betul soal infrastruktur. Ini momentum emas untuk menjadikan Lampung sebagai role model transisi energi di Indonesia.

Saya punya beberapa catatan, kalau boleh:

Pertama, kita butuh masterplan hidro yang lebih tajam. Data potensi sungai harus diperbaharui dengan studi kelayakan awal (pre-feasibility) yang detail, sehingga investor hijau punya peta jalan yang jelas. Jangan sampai mereka datang, tapi malah bingung mulai dari mana.

Kedua, buat kebijakan insentif yang menarik bukan cuma soal pajak atau retribusi, tapi juga kemudahan birokrasi. Pengembang PLTA yang mau melibatkan masyarakat lokal di sekitar DAS harus dapat reward. Ini bukan charity, tapi strategi keberlanjutan.

Ketiga, diplomasi energi dengan pusat itu penting. Proyek-proyek hidro di Lampung harus masuk dalam RUPTL nasional versi terbaru. Kalau nggak masuk radar pusat, ya susah dapat pendanaan besar.

Keempat dan ini krusial hutan di hulu sungai harus dijaga seperti menjaga nyawa. Setiap proyek PLTA harus dibarengi program reboisasi serius. Tanpa air, turbin cuma jadi pajangan. Tanpa hutan, air nggak akan ada.

Baca juga:
* PLTP Ulubelu: Lampung Mulai Serius Garap Energi Panas Bumi

Penutup: Dari Potensi Jadi Aksi

Lampung punya segalanya: topografi, debit air, pengalaman teknis. Beban puncak kita sudah menyentuh 1.300 MW.

Artinya, penambahan minimal 3 PLTA besar dalam 10 tahun ke depan bukan lagi opsi itu kebutuhan mendesak untuk ketahanan energi.

Teknologi sudah siap, investor mulai lirik, yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian politik untuk mengeksekusi.

Mari kita buktikan bahwa Lampung bukan cuma pintu gerbang Sumatera, tapi juga gerbang menuju masa depan energi yang lebih bersih dan mandiri.

*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan

#EnergiHijauLampung #PLTANusantara #LampungMandiriEnergi

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *