Satu Atap PTPN I: Menakar Narasi Laba di Balik Gurita Merger Supporting Co

Satu Atap PTPN I Menakar Narasi Laba di Balik Gurita Merger Supporting Co - ptpn1coid
Beberapa pekerja menderes lateks di kebun karet milik PTPN I. Di balik angka penjualan triliunan rupiah dan narasi merger besar, laba perusahaan tetap berakar pada kerja sunyi di lapangan. (Foto: ptpn1.co.id)

Sejak Desember 2023, wajah perkebunan negara berubah total. Lewat pembentukan Supporting Co, PTPN I bukan lagi sekadar entitas regional melainkan raksasa konsolidasi yang menelan aset PTPN II, VII hingga XIV.

Di bawah komando Direktur Utama Teddy Yunirman Danas dan pengawasan Komisaris Utama Seger Budiarjo, PTPN I memikul mandat berat: mencuci piring kotor liabilitas masa lalu sembari memacu produktivitas komoditas non-gula dan non-sawit.

Read More

Setelah dua tahun berjalan, pertanyaannya tetap sama: apakah merger ini sekadar akrobat akuntansi, atau memang membawa kesembuhan pada neraca?

Lonjakan Penjualan dan Efek Komoditas

Data menunjukkan kinerja PTPN I hingga akhir 2025 berada pada lintasan hijau. Hingga November 2025, perusahaan membukukan angka penjualan fantastis sebesar Rp3,56 triliun melonjak 122% dibandingkan periode tahun sebelumnya.

Jika melihat anatomi pendapatannya, karet masih jadi tulang punggung dengan kontribusi 79%. Sementara tembakau? Harganya naik sampai 190%, angka yang hampir tak masuk akal.

Kepemimpinan Teddy Danas memang berhasil memanfaatkan momentum pasar. Sentralisasi manajemen di bawah satu atap memungkinkan respon cepat terhadap fluktuasi harga global.

Tapi jangan buru-buru bertepuk tangan.

Lonjakan ini juga menyimpan kerentanan; ketergantungan pada harga komoditas seringkali bersifat semu jika tidak dibarengi dengan efisiensi biaya produksi yang struktural.

Kalau harga karet tiba-tiba anjlok besok, apa yang akan terjadi?

Restrukturisasi dan Disiplin Seger Budiarjo

Di kursi pengawasan, Seger Budiarjo memainkan peran krusial dalam menata tata kelola perusahaan.

Penyehatan neraca dilakukan melalui optimalisasi aset-aset idle lahan-lahan yang dulunya terbengkalai atau terjerat sengketa kini mulai digarap kembali.

Dengan standardisasi pelaporan keuangan berbasis SAP HANA, kebocoran operasional di level regional bisa ditekan lebih ketat.

Hasilnya? Neraca PTPN I mulai terlihat “berotot”. Saldo laba ditahan yang dulunya berdarah-darah kini merangkak naik.

Ini sinyal bahwa perusahaan mulai mampu membiayai operasionalnya sendiri tanpa terus-menerus bergantung pada suntikan modal negara atau utang baru.

Sebuah pencapaian yang patut diapresiasi, setidaknya untuk ukuran BUMN perkebunan.

Baca juga:
* Panggung Besar Hilirisasi Rp 371 Triliun: Peran Strategis PTPN Group dalam Peta Ekonomi Pertanian Indonesia

Tantangan 2026: Ambisi Rp9,2 Triliun

Meski performa 2025 patut diapresiasi, bayang-bayang tantangan masih besar. Manajemen telah mematok target pendapatan Rp9,2 triliun untuk tahun 2026 sebuah lompatan hampir tiga kali lipat.

Ambisi ini hanya bisa dicapai jika PTPN I berhasil melakukan hilirisasi produk, bukan sekadar menjual komoditas mentah. Jual karet olahan, bukan sekadar getah. Jual produk tembakau bernilai tambah, bukan sekadar daun kering.

Pertanyaannya: apakah infrastruktur dan SDM-nya sudah siap? Atau ini cuma target ambisius yang dibuat untuk laporan tahunan?

Secara keseluruhan, PTPN I di era Teddy dan Seger telah membuktikan bahwa integrasi vertikal mampu menciptakan efisiensi nyata. Namun, ujian sesungguhnya adalah konsistensi.

Menjaga neraca tetap biru di tengah ketidakpastian iklim dan geopolitik memerlukan lebih dari sekadar efisiensi administrasi melainkan transformasi teknologi perkebunan yang radikal. Dan itu bukan pekerjaan dua tahun.

Semoga elit PTPN 1 senantiasa istiqomah menjaga amanat Pasal 33 UUD 1945 yang ditegaskan Presiden Prabowo Subianto dan arahan Danantara.

*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan

#PTPN1 #MergerBUMN #PerkebunanNegara

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *