Oleh: Yopie Pangkey
Travel Blogger dan Pemerhati Pariwisata Lampung
—
Ramainya kunjungan wisatawan ke Lampung dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa daerah ini tidak kekurangan daya tarik.
Pantai, pulau-pulau kecil, ekowisata berbasis satwa, wisata berbasis alam dan budaya, festival kuliner terus dikunjungi, terutama pada momen akhir pekan dan libur panjang.
Namun, seperti telah dibahas dalam tulisan sebelumnya, tingginya angka kunjungan itu belum berbanding lurus dengan lama tinggal wisatawan yang masih singkat.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah Lampung diminati wisatawan, melainkan mengapa wisatawan sulit diarahkan untuk tinggal lebih lama.
Di sinilah persoalan yang jarang dibicarakan muncul: pariwisata Lampung tumbuh tanpa cerita perjalanan yang terorkestrasi.
Destinasi Banyak, Tapi Berdiri Sendiri
Lampung memiliki ratusan destinasi wisata yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota.
Namun, dalam praktiknya, destinasi-destinasi tersebut lebih sering dipromosikan sebagai titik kunjungan yang berdiri sendiri.
Wisatawan datang ke satu pantai, satu pulau, atau satu kawasan, lalu kembali pulang di hari yang sama.
Saya melihat, minim sekali narasi yang menghubungkan satu destinasi dengan destinasi lain sebagai rangkaian pengalaman. Akibatnya, perjalanan wisata berhenti pada fungsi kunjungan, bukan eksplorasi.
Lampung menjadi tempat singgah yang menarik, tetapi belum menjadi ruang jelajah yang utuh.
Pariwisata Tanpa Cerita Perjalanan
Dalam pariwisata modern, dan dari pengalaman pribadi saya, yang dicari wisatawan bukan hanya lokasi indah, tetapi cerita perjalanan.
Orang bersedia tinggal lebih lama karena mereka merasa sedang menjalani sebuah alur: hari pertama menikmati suasana kota, hari kedua menjelajah alam, hari ketiga berinteraksi dengan budaya lokal dan mencicipi beragam kuliner khas.
Di Lampung, narasi semacam ini belum menjadi arus utama. Promosi pariwisata masih didominasi oleh daftar destinasi dan unggahan visual, tanpa konteks perjalanan yang jelas.
Wisatawan dibiarkan menyusun sendiri rute, waktu, dan pengalaman mereka. Ini sesuatu yang tidak semua orang mampu atau mau lakukan, terutama wisatawan keluarga dan rombongan.
Promosi Ramai, Tapi Tidak Mengarahkan
Media promosi pariwisata Lampung saat ini cukup aktif. Destinasi dan event kerap ditampilkan di berbagai kanal. Namun, promosi tersebut lebih bersifat informatif daripada direktif.
Kegiatan promosi mengabarkan bahwa suatu tempat atau acara ada, tetapi jarang memberikan panduan bagaimana semua itu bisa dirangkai dalam satu perjalanan yang logis dan nyaman.
Padahal, promosi yang efektif bukan hanya mengundang orang datang, tetapi juga mengarahkan: berapa lama idealnya tinggal, apa yang bisa dilakukan setelah satu destinasi, dan di mana wisatawan sebaiknya bermalam.
Tanpa arahan semacam ini, wisatawan cenderung memilih perjalanan singkat yang paling praktis.
Siapa yang Mengorkestrasi Perjalanan Wisata?
Pariwisata pada dasarnya adalah sebuah sistem. Melibatkan destinasi, transportasi, akomodasi, event, dan pelaku ekonomi kreatif.
Jika semua elemen ini berjalan sendiri-sendiri, maka yang tercipta bukan pengalaman, melainkan fragmen-fragmen wisata.
Di Lampung, orkestrasi perjalanan wisata belum tampak jelas. Tidak ada pihak atau mekanisme yang secara konsisten menyusun dan menyampaikan alur perjalanan sebagai satu kesatuan.
Akibatnya, investasi hotel tumbuh, event terus digelar, destinasi bertambah, tetapi lama tinggal wisatawan tetap sulit meningkat.
Dari Daerah Transit ke Destinasi Tinggal
Secara geografis, Lampung memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang Sumatera. Namun, keunggulan ini sekaligus menjadi tantangan.
Tanpa desain perjalanan yang jelas, Lampung mudah dilalui, tetapi tidak mudah dijelajahi.
Transformasi dari daerah transit menjadi destinasi tinggal membutuhkan lebih dari sekadar promosi dan pembangunan fisik.
Kita memerlukan cara pandang baru: melihat pariwisata sebagai pengalaman berlapis yang perlu dirancang, bukan sekadar sebagai kumpulan objek dan agenda.
Baca juga:
* Lampung Ramai Wisatawan, Lama Tinggal Masih Singkat
Menata Perjalanan, Bukan Sekadar Kunjungan
Jika pariwisata ingin memberi dampak ekonomi yang lebih dalam, maka yang perlu diperkuat bukan hanya jumlah kunjungan, tetapi kualitas perjalanan.
Lama tinggal dan belanja wisatawan tidak akan meningkat hanya dengan menambah destinasi atau event.
Perlu menata bagaimana orang bergerak, berhenti, dan menikmati Lampung sebagai satu cerita utuh.
Di sinilah tantangan sekaligus peluang pariwisata Lampung ke depan.
Bukan lagi soal mengundang lebih banyak orang datang, melainkan tentang mengorkestrasi perjalanan agar mereka mau tinggal lebih lama dan kembali lagi.



