Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal diwakili Sekdaprov Marindo Kurniawan, baru saja melakukan groundbreaking proyek hilirisasi ayam terintegrasi yang digadang-gadang jadi tonggak sejarah baru ekonomi lokal.
Tapi, di balik seremoni potong tumpeng dan alat berat, muncul pertanyaan mendasar: Ini proyek siapa? Apakah peternak rakyat bakal ikut sejahtera, atau sekadar jadi penonton di tanah sendiri?
Siapa Pemilik “Hajatan” Besar Ini?
Jika Anda mengira ini murni proyek swasta atau kantong pribadi pemprov, Anda keliru.
Proyek hilirisasi ayam terintegrasi ini merupakan kolaborasi strategis antara BUMN (PT Perkebunan Nusantara I atau PTPN I), Kementerian Pertanian (Kementan), dan didukung penuh secara regulasi oleh Pemerintah Provinsi Lampung.
Sederhananya, PTPN I bertindak sebagai motor penggerak industri (investor sekaligus pengelola), sementara Kementan menyediakan kerangka program nasional untuk kedaulatan pangan.
Pemprov Lampung? Mereka adalah “tuan rumah” yang memastikan ekosistem perizinan dan infrastrukturnya berjalan mulus agar nilai tambah ekonomi tidak lari ke luar daerah.
Teori Nilai Tambah: Mengapa Harus Hilirisasi?
Mengapa kita tidak menjual ayam hidup saja seperti biasanya? Di sinilah masuk teori Value-Added Chain (Rantai Nilai Tambah) dari Michael Porter.
Selama ini, Lampung sering kali hanya menjadi produsen bahan mentah.
Dalam ekonomi makro, menjual komoditas mentah adalah “bunuh diri” perlahan karena rentan fluktuasi harga pasar.
Dengan hilirisasi mulai dari pabrik pakan, penetasan (Hatchery), budidaya, hingga Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) dan pengolahan produk turunan Lampung sedang mencoba menangkap margin keuntungan di setiap tahapan proses.
Keuntungan bagi para pihak:
- BUMN (PTPN I): Diversifikasi bisnis di luar komoditas perkebunan tradisional (seperti sawit/karet).
- Pemprov Lampung: Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan stabilitas inflasi daging ayam.
- Masyarakat: Serapan tenaga kerja lokal dan terciptanya ekosistem UMKM pendukung (logistik, pakan alternatif, hingga distribusi).
Baca juga:
* Lampung Kebanjiran Ayam, Tapi Peternak Malah Gigit Jari: Ada Apa?
Hanya di Lampung? Mengintip Peta Nasional
Program hilirisasi ayam ini tidak berdiri sendiri di Lampung.
Berdasarkan rencana strategis nasional, terdapat beberapa provinsi kunci yang menjadi pilot project hilirisasi serupa, di antaranya Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.
Lampung dipilih sebagai titik utama di Sumatera karena letaknya yang strategis sebagai gerbang logistik menuju Jakarta (penyangga pangan nasional).
Nasib Pemain Lama: Tergilas atau Tumbuh Bersama?
Ini adalah bagian paling sensitif. Bagaimana nasib peternak mandiri yang sudah puluhan tahun berjibaku
Secara teori, kehadiran industri besar bisa memicu crowding out effect (menggusur pemain kecil). Namun, narasi yang dibangun pemerintah adalah kemitraan.
Pelaku usaha eksis diharapkan bisa masuk ke dalam rantai pasok sebagai mitra strategis, bukan pesaing.
Tantangannya adalah memastikan standar kualitas mereka bisa menyamai standar industri PTPN I. Tanpa pendampingan, “si kecil” memang terancam.
Namun dengan integrasi yang jujur, mereka justru bisa mendapatkan kepastian harga yang selama ini dipermainkan tengkulak.
Belajar dari Negeri Jiran dan Thailand
Jika kita menengok ke Thailand melalui perusahaan seperti CP Group, mereka telah lama menerapkan model integrasi vertikal.
Thailand kini menjadi salah satu eksportir produk ayam olahan terbesar di dunia. Begitu juga dengan Malaysia yang sangat ketat dalam integrasi sistem logistik unggas untuk menjaga ketahanan pangan mereka.
Indonesia, khususnya Lampung, sedang menuju ke sana dengan gaya kearifan lokal sendiri.
Baca juga:
* Lampung: Dari Lumbung Pangan Menjadi Raja Unggas
Apresiasi dan Harapan
Kita patut memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Gubernur Mirza, jajaran Kementan, dan PTPN I yang berani mengambil langkah konkret ini.
Memindahkan pusat nilai tambah ke daerah adalah keberanian politik dan ekonomi yang patut didukung.
Langkah ini bukan hanya soal membangun gedung, tapi soal martabat ekonomi warga Lampung agar tidak lagi menjadi “penonton” saat kekayaan alamnya dikirim keluar.
Semoga sinergi ini tetap membumi dan benar-benar merangkul rakyat kecil di setiap langkahnya.
*Penulis: Mahendra Utama, TPP Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan
#HilirisasiLampung #GubernurMirza #TeddyYunirmanDanas #EkonomiKerakyatan #PTPN1



