Lonjakan Konsumsi Lebaran Dorong Industri Agro, Daerah Produsen Diuntungkan

Lonjakan Konsumsi Lebaran Dorong Industri Agro Daerah Produsen Diuntungkan - Pasar Pasir Gintung - Yopie Pangkey
Aktivitas jual beli di pasar tradisional Pasir Gintung. Peningkatan konsumsi masyarakat selama Ramadan dan menjelang Idul Fitri mendorong permintaan produk pangan serta industri pengolahan berbasis agro. (Foto: Yopie Pangkey)

Lonjakan konsumsi wara Indonesia selama Ramadan dan menjelang Idul Fitri meningkatkan aktivitas perdagangan ritel, juga mendorong produksi industri agro nasional.

Kondisi ini dinilai dapat memberikan dampak ekonomi bagi daerah produsen bahan baku pertanian yang menjadi pemasok utama industri pengolahan.

Read More

Data Kementerian Perindustrian menunjukkan sektor industri agro masih menjadi tulang punggung industri pengolahan nasional.

Pada 2025, sektor ini berkontribusi 52,09 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri nonmigas serta sekitar 9 persen terhadap PDB nasional, dengan pertumbuhan mencapai 4,95 persen.

Plt. Inspektur Jenderal Kemenperin, M. Rum, mengatakan peningkatan aktivitas konsumsi selama Ramadan dan menjelang Lebaran berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Penyelenggaraan Bazaar Lebaran tidak hanya menyediakan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, tetapi juga menjadi sarana promosi produk industri nasional, khususnya sektor agro dan barang konsumsi,” ujarnya saat pembukaan Bazaar Lebaran 2026 di Jakarta, Selasa (10/3).

Permintaan Produk Konsumsi Meningkat

Kegiatan bazaar yang digelar pada 10–13 Maret 2026 tersebut diikuti sekitar 80 perusahaan yang terdiri dari industri besar, menengah, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Produk yang dipasarkan mencakup berbagai kebutuhan masyarakat menjelang Hari Raya. Mulai dari minyak goreng, gula, biskuit, roti, kopi, susu, cokelat, hingga busana muslim dan produk kerajinan.

Lonjakan konsumsi masyarakat selama Ramadan juga mendorong industri makanan dan minuman meningkatkan kapasitas produksi.

Saat ini tingkat utilisasi industri makanan dan minuman berada pada kisaran 70–80 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata utilisasi normal sekitar 60 persen.

Kondisi ini mencerminkan kesiapan sektor manufaktur nasional dalam memenuhi peningkatan permintaan masyarakat menjelang Idul Fitri.

Industri Agro Masih Jadi Penopang Manufaktur

Selain didorong konsumsi domestik, sektor industri agro juga mencatat kinerja perdagangan luar negeri yang positif.

Sepanjang 2025, nilai ekspor industri agro mencapai USD 78,77 miliar, sementara impor tercatat USD 21,19 miliar, sehingga menghasilkan surplus neraca dagang sebesar USD 57,58 miliar.

Dari sisi investasi, sektor ini juga masih menjadi magnet bagi investor. Realisasi investasi industri agro pada 2025 tercatat mencapai Rp191,7 triliun dan mampu menyerap sekitar 10 juta tenaga kerja hingga Agustus 2025.

Memasuki 2026, optimisme pelaku industri juga tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) sebesar 54,02, yang menandakan sektor manufaktur masih berada dalam fase ekspansi.

Baca juga:
* Pemprov Lampung–Kemenperin Gaet Investasi Industri Agro, Kopi dan Singkong Jadi Andalan

Hilirisasi Komoditas Terus Didorong

Pemerintah juga terus mendorong penguatan struktur industri agro melalui kebijakan hilirisasi berbasis sumber daya alam dalam negeri.

Beberapa komoditas strategis seperti kakao, sagu, dan kelapa diarahkan untuk diolah menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah, mulai dari pangan, farmasi, kosmetik hingga bioenergi.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, mengatakan penguatan industri agro memerlukan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

“Melalui kegiatan ini kami berharap dapat memperkuat kolaborasi seluruh pihak dalam memajukan sektor industri agro nasional,” katanya.

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *