Dari Bekas Tambang ke Model Bioekonomi: BPHL VI Dorong Replikasi Suhita Bee Farm untuk Perhutanan Sosial dan KPH

Dari Bekas Tambang ke Model Bioekonomi BPHL VI Dorong Replikasi Suhita Bee Farm untuk Perhutanan Sosial dan KPH - Yopie Pangkey
BPHL VI dorong replikasi Suhita Bee Farm sebagai model bioekonomi kehutanan berbasis lebah untuk perhutanan sosial, KPH, dan ketahanan pangan di Lampung. (Foto: Yopie Pangkey)

Transformasi lahan bekas tambang menjadi ekosistem produktif berbasis lebah di Suhita Bee Farm, Batu Putuk, menarik perhatian pemerintah. Kepala BPHL Wilayah VI Bandar Lampung melakukan kunjungan langsung untuk melihat potensi model ini direplikasi dalam pengelolaan perhutanan sosial dan penguatan KPH di Lampung.

Di balik lanskap hijau yang kini dipenuhi tanaman berbunga dan koloni lebah, terdapat proses panjang yang dibangun oleh Kinan Suyadi. Ia mengubah lahan bekas tambang batu menjadi sistem agroforestri bertingkat yang menopang kehidupan lebah sekaligus memperbaiki kualitas tanah dan lingkungan.

Read More

“Kami membangun ekosistem ini bukan berdasarkan keinginan kami, melainkan mengikuti apa yang dibutuhkan oleh lebah agar bisa hidup dan berkembang dengan baik,” ujar Suyadi.

Ia menjelaskan, salah satu peran utama lebah adalah dalam proses penyerbukan (polinasi), yaitu memindahkan serbuk sari dari bunga ke bunga yang memungkinkan tanaman berbuah dan berkembang.

“Lebah membantu memastikan tanaman bisa berproduksi. Tanpa penyerbukan, banyak tanaman tidak akan menghasilkan secara optimal,” jelasnya.

Menurut Suyadi, keberadaan lebah tidak hanya berdampak pada produksi madu, tetapi juga meningkatkan produktivitas tanaman di sekitarnya serta menjaga keseimbangan ekosistem.

Pendekatan yang ia bangun bertumpu pada pemulihan tanah, keberagaman tanaman, dan interaksi alami antar komponen ekosistem. Sebuah sistem yang tidak hanya menghasilkan, tetapi juga memperbaiki.

Praktik yang berkembang dari pengalaman lapangan tersebut kemudian menarik perhatian pemerintah untuk melihat potensinya dalam skala yang lebih luas.

“Kami terbuka untuk berbagi. Dinas Kehutanan dan beberapa KPH sudah pernah berkunjung ke sini. Semakin banyak yang menerapkan, dampaknya akan semakin luas,” kata Suyadi.

BPHL Dorong Replikasi Berbasis Kebijakan

Melihat praktik tersebut, Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Wilayah VI Bandar Lampung menilai Suhita Bee Farm sebagai contoh konkret model bioekonomi kehutanan yang dapat dikembangkan lebih luas.

Kepala BPHL Wilayah VI Bandar Lampung, Dudi Iskandar, menegaskan bahwa pendekatan seperti ini menjadi bagian penting dari arah pengelolaan hutan ke depan.

“Meskipun ini bukan kawasan hutan, Suhita sudah membuktikan bahwa agroforestri bisa dibangun secara nyata di lapangan. Ini justru menjadi referensi penting bagi pengelolaan di kawasan hutan,” ujar Dudi.

“Yang kita lihat di sini bukan hanya budidaya lebah, tapi sistem pengelolaan lanskap yang utuh. Ini yang ingin kita dorong agar bisa direplikasi,” tambahnya.

Menurutnya, BPHL memiliki peran strategis dalam mengangkat praktik lapangan menjadi model yang dapat diterapkan dalam skema perhutanan sosial maupun penguatan KPH.

Baca juga:
* Revolusi Sunyi di Suhita Bee Farm: Pertanian Regeneratif ala Kinan Suyadi

Ketahanan Pangan: Dari Nasional ke Daerah

Dorongan replikasi model ini sejalan dengan arah kebijakan nasional di bawah Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan ketahanan pangan sebagai prioritas utama pembangunan.

Dalam konteks tersebut, BPHL melihat bahwa hutan dan lanskap sekitarnya memiliki peran penting sebagai penopang sistem pangan, terutama melalui fungsi ekologis seperti penyerbukan, ketersediaan air, dan kesuburan tanah.

“Ketahanan pangan tidak cukup hanya bicara produksi. Kita juga harus menjaga ekosistem pendukungnya,” kata Dudi.

Di tingkat daerah, arah ini juga sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Lampung di bawah Gubernur Rahmat Mirzani Djausal yang mendorong penguatan sektor pertanian dan ketahanan pangan berbasis potensi lokal.

Dengan karakteristik Lampung sebagai salah satu lumbung pangan sekaligus memiliki kawasan hutan yang luas, integrasi antara kehutanan, pertanian, dan budidaya lebah menjadi peluang strategis untuk memperkuat sistem pangan daerah.

Bioekonomi Kehutanan sebagai Arah Baru

BPHL juga mendorong pengembangan bioekonomi kehutanan melalui pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang berkelanjutan.

Pendekatan ini memperkuat pengelolaan hutan melalui optimalisasi hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan, sehingga menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan di tingkat tapak.

“Bioekonomi kehutanan harus berbasis pada potensi tapak. Apa yang dilakukan di Suhita menjadi bukti bahwa dari lahan terdegradasi pun bisa lahir sistem ekonomi yang produktif,” ujar Dudi.

Penguatan KPH sebagai Ujung Tombak

Dalam implementasinya, BPHL menempatkan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) sebagai ujung tombak pengelolaan di tingkat tapak.

KPH didorong untuk tidak hanya mengelola kawasan, tetapi juga mengembangkan model usaha berbasis masyarakat yang adaptif dan berkelanjutan.

Model agroforestri berbasis lebah seperti di Suhita dinilai dapat menjadi referensi konkret dalam pengembangan usaha HHBK di wilayah kerja KPH.

“Penguatan KPH harus diikuti dengan model nyata di lapangan. Ini salah satu contoh yang bisa kita dorong bersama,” kata Dudi.

Baca juga:
* Perkuat KPH di Lampung, BPHL Wilayah VI dan BRPH Dorong Model Bioekonomi Kehutanan

Transfer Pengetahuan untuk KTH dan Gapoktanhut

Sebagai tindak lanjut, BPHL membuka peluang kolaborasi untuk memperluas adopsi model ini melalui peningkatan kapasitas Kelompok Tani Hutan (KTH) dan Gabungan Kelompok Tani Hutan (Gapoktanhut).

Dudi Iskandar menegaskan komitmen BPHL untuk mendorong replikasi model pengelolaan hutan berbasis ekosistem.

“Ini bukan hanya cerita sukses satu lokasi. Ini model yang bisa dikembangkan. Ke depan, kita ingin praktik seperti ini menjadi bagian dari penguatan perhutanan sosial dan KPH, sekaligus mendukung ketahanan pangan. Ini yang ingin kita dorong ke depan,” tutupnya.

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *