Kampung Cabang dan Sungai Burung: Cerita tentang Warga yang Menjaga Sungai dan Lautnya

Pelatihan Jurnalisme Warga Kampung Cabang dan Sungai Burung
Foto bersama peserta pelatihan jurnalisme warga bersama staf Environmental Defense Fund (EDF), pendamping dari Mitra Bentala, dan pemateri. (Foto arsip publikasilampung.id)

Selama bertahun-tahun, warga di Kampung Cabang, Lampung Tengah, dan Kampung Sungai Burung, Tulang Bawang, melakukan pekerjaan yang nyaris tidak terlihat orang luar. Mereka mengawasi kapal-kapal yang masuk ke wilayah tangkap nelayan kecil, menegur penggunaan alat tangkap ilegal, mencatat limbah yang mengalir ke sungai, hingga melaporkan pelanggaran lewat telepon genggam seadanya.

Sebagian besar pekerjaan itu hanya berakhir di grup WhatsApp atau laporan singkat ke Dinas Kelautan dan Perikanan. Tidak banyak yang tahu bagaimana warga di dua kampung pesisir ini menjaga sungai dan laut mereka.

Read More

Pada 21–22 Mei 2026, situasi itu mulai berubah. Balai desa di Kampung Cabang dipenuhi anggota Pokmaswas, Poklahsar, dan Kelompok Usaha Bersama (KUB) dari Kampung Cabang dan Kampung Sungai Burung. Mereka mengikuti pelatihan jurnalisme warga dan pengelolaan media sosial untuk mendokumentasikan kerja-kerja pengawasan yang selama ini berjalan diam-diam.

Pelatihan ini merupakan bagian dari program perlindungan keanekaragaman hayati dan pengelolaan perikanan skala kecil di Lampung yang dijalankan Environmental Defense Fund (EDF) bersama Blue Action Fund, dan berkolaborasi dengan Tim Pengelolaan Perikanan Rajungan Berkelanjutan (TPPRB).

Peserta datang membawa telepon genggam masing-masing. Sebagian masih ragu bagaimana perangkat kecil itu bisa dipakai bukan hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk merekam cerita tentang wilayah yang mereka jaga sendiri.

Menjaga Laut dan Sungai

Di Kampung Cabang, kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) Bina Lestari Abadi sudah lama mengawasi wilayah perairan di sekitar kawasan timur Taman Nasional Way Kambas. Mereka memasang empat bagan sebagai penanda batas area konservasi agar kapal-kapal tidak masuk ke wilayah yang harus dijaga.

Metode pengawasan mereka sederhana: melihat, mendengar, melaporkan.

Tidak ada kapal patroli besar atau peralatan canggih. Yang ada adalah warga yang tinggal di wilayah itu dan tahu kapan sesuatu terlihat tidak beres.

Jika ada kapal yang melanggar area tangkap atau alat tangkap ilegal digunakan di sungai, mereka mengambil gambar atau video, mencatat, dan melaporkannya.

Pengawasan juga dilakukan di Way Seputih dan Way Pegadungan, dua aliran sungai yang dulu dikenal memiliki ikan jelabat, belida, hingga arwana.

Kini, sebagian spesies itu nyaris tidak lagi ditemukan.

Selain pencemaran limbah dari aktivitas pertanian dan industri, praktik penangkapan ikan menggunakan setrum dan putas sempat menjadi persoalan serius di wilayah tersebut.

“Dulu, alat tangkap seperti itu sangat umum. Tapi sekarang, kami berhasil mengurangi bahkan menghentikan praktik tersebut,” kata Edi Alamsyah, ketua Pokmaswas Bina Lestari Abadi.

Dari Mengawasi Trawl hingga Menarik Kapal ke Kampung

Di Kampung Sungai Burung, pengawasan warga pernah sampai pada situasi yang lebih tegang.

Beberapa anggota Pokmaswas setempat pernah menarik kapal trawl ke kampung setelah mendapati kapal tersebut beroperasi di wilayah tangkap nelayan kecil. Warga menilai aktivitas kapal itu merusak area penangkapan dan mengganggu sumber penghidupan nelayan sekitar.

Tidak ada aparat berseragam yang pertama kali menghentikan kapal itu. Yang bergerak lebih dulu adalah warga yang merasa wilayah tangkap mereka sedang dirusak.

Selama ini, cerita-cerita seperti itu jarang keluar dari lingkungan mereka sendiri. Dokumentasi hanya tersimpan di telepon genggam atau beredar terbatas di grup percakapan warga.

Karena itu, pelatihan jurnalisme warga yang digelar di Kampung Cabang tidak hanya berbicara soal membuat konten media sosial, tetapi juga bagaimana pengalaman dan kerja pengawasan warga bisa terdokumentasi lebih baik.

Belajar Menceritakan Kerja Warga

Jurnalisme Warga Kampung Cabang dan Sungai Burung Cerita tentang Warga yang Menjaga Sungai dan Lautnya
Salah satu anggota Poklahsar dari Kampung Cabang, menceritakan hasil dokumentasinya di media sosial kepada seluruh peserta pelatihan. Dibimbing oleh Guswarman dari EDF. (Foto arsip publikasilampung.id)

Travel blogger dan pegiat media sosial Yopie Pangkey menjadi salah satu pemateri dalam pelatihan tersebut. Ia memulai dari hal-hal sederhana: cara mengambil foto yang layak dilihat, menyusun caption singkat, hingga memahami siapa yang ingin diajak bicara lewat sebuah unggahan.

Sementara Lamda dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung berbagi pengalaman tentang bagaimana sebuah institusi membangun komunikasi digital secara rutin melalui dokumentasi kegiatan lapangan.

Pesannya sederhana: pekerjaan warga selama ini memiliki nilai, tetapi sering kali tidak terdokumentasi dan tidak tersampaikan keluar.

Programme Specialist EDF, Meutia Isty, menjelaskan pelatihan tersebut dirancang agar masyarakat lebih terbiasa mendokumentasikan aktivitas di wilayah mereka sendiri, baik melalui foto, video, maupun tulisan sederhana yang bisa dibagikan ke publik.

Menurut Isty, warga pesisir sebenarnya memiliki pengetahuan paling dekat tentang kondisi sungai dan laut di sekitar mereka karena hidup berdampingan langsung dengan perubahan yang terjadi setiap hari.

“Orang-orang yang tinggal di sini biasanya jadi yang pertama tahu kalau ada pelanggaran, perubahan kondisi sungai, atau aktivitas yang mengganggu wilayah tangkap mereka,” ujarnya.

Ia menilai kemampuan mendokumentasikan pengalaman lapangan menjadi penting agar informasi yang selama ini hanya beredar antarwarga bisa menjangkau lebih banyak orang.

Apalagi, akses media sosial kini membuat jarak bukan lagi hambatan besar bagi masyarakat di wilayah pesisir untuk menyampaikan cerita dan kondisi di daerah mereka sendiri.

Baca juga:
* Kuala Teladas: Di Ujung Pesisir Tulang Bawang, Nelayan Belajar Bercerita

Dari Grup WhatsApp ke Ruang Publik

Setelah pelatihan selesai, beberapa peserta mulai saling mengirim hasil foto, video, dan tulisan pendek ke grup Whatsapp. Ada yang mencoba mendokumentasikan sungai, ada yang merekam aktivitas nelayan, dan ada pula yang baru pertama kali membuat caption lebih dari satu kalimat.

Bagi sebagian orang, itu mungkin terlihat sederhana.

Namun bagi kelompok-kelompok warga yang selama ini menjaga sungai, pesisir, dan wilayah tangkap mereka tanpa banyak sorotan, kemampuan mendokumentasikan dan menceritakan pekerjaan mereka bisa menjadi langkah penting. Agar kerja-kerja itu tidak lagi berhenti di laporan internal atau percakapan terbatas antarwarga.

Sebab selama ini, pekerjaan itu sebenarnya sudah ada. Hanya saja, jarang terlihat keluar ke kota-kota besar. Jarang sampai ke warga kota yang mungkin saja mengonsumsi ikan hasil tangkapan nelayan Kampung Cabang dan Sungai Burung.

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *