Kuala Teladas: Di Ujung Pesisir Tulang Bawang, Nelayan Belajar Bercerita

Kuala Teladas Di Ujung Pesisir Tulang Bawang Nelayan Belajar Bercerita - Environmental Defense Fund EDF Blue Action Fund
Nelayan dan warga Desa Kuala Teladas dan Sungai Nibung di pesisir Tulang Bawang belajar jurnalisme warga untuk promosi hasil laut dan menyuarakan ancaman pesisir. (Foto: ist)

Mobil kami beberapa kali harus melambat melewati genangan dan jalan berlubang menuju Desa Kuala Teladas. Jarak dari jalan aspal sekitar delapan puluh kilometer, tapi butuh dua jam untuk sampai.

Di sana, puluhan warga sudah menunggu di salah satu rumah dengan telepon genggam di tangan. Bukan untuk melaut seperti biasanya, tapi untuk belajar sesuatu yang belum pernah ada yang mengajari mereka sebelumnya: cara menceritakan laut mereka sendiri kepada dunia luar.

Read More

Peserta berasal dari kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas), kelompok pengolah dan pemasar hasil perikanan (Poklahsar), kelompok usaha bersama (KUB) dari Desa Kuala Teladas dan Desa Sungai Nibung, serta Forum Komunikasi Nelayan Tradisional Pesisir Timur Lampung, Kabupaten Tulang Bawang.

Belajar Mendokumentasikan Laut Sendiri

Pelatihan Jurnalisme Warga Desa Kuala Teladas Sungai Nibung Tulang Bawang - Environmental Defense Fund EDF Blue Action Fund
Pelatihan jurnalisme warga yang didukung Environmental Defense Fund (EDF) dan Blue Action Fund. (Foto: Yopie Pangkey)

Pelatihan jurnalisme warga dan media sosial tersebut digelar di Desa Kuala Teladas, Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulang Bawang, pada Sabtu-Minggu, 17-18 Mei 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pendampingan Tim Pengelolaan Perikanan Rajungan Berkelanjutan (TPPRB) yang didukung Environmental Defense Fund (EDF) berkolaborasi dengan Blue Action Fund.

Pelatihan bertajuk “Perlindungan Keanekaragaman Hayati dan Mata Pencaharian: Integrasi Kawasan Konservasi Perairan dan Pengelolaan Perikanan Skala Kecil yang Tahan Perubahan Iklim di Provinsi Lampung.”

Dua pemateri dihadirkan dengan latar belakang yang berbeda tapi saling melengkapi.

Yopie Pangkey, travel blogger dan pelaku media sosial, membawakan materi jurnalisme warga dan produksi konten digital. Peserta diajak belajar mengambil foto dan video dengan telepon genggam, menyusun narasi pendek, dan menjangkau pembaca di luar lingkaran mereka sendiri.

Menurut Yopie, daerah seperti Kuala Teladas punya kekayaan visual dan cerita yang kuat. Aktivitas nelayan, hasil laut, kehidupan sehari-hari warga pesisir. Kalau warga bisa mendokumentasikan sendiri, bisa untuk promosi potensi desa, bisa juga untuk menyuarakan masalah yang mereka hadapi.

Sementara Lamda Perdana Kusuma dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung berbicara soal pengelolaan media dan komunikasi publik.

Ia berbagi pengalaman bagaimana dinasnya membangun kanal digital untuk memperkenalkan potensi perikanan Lampung. Pesannya sederhana: warga pesisir adalah pihak yang paling tahu kondisi laut mereka, dan itu modal yang belum dipakai.

Rajungan, Udang, dan Pasar yang Belum Terjangkau

Kuala Teladas dan Sungai Nibung bukan desa tanpa potensi. Rajungan dari kawasan ini sudah lama keluar daerah, masuk ke rantai distribusi yang ujungnya bisa sampai ke meja makan di kota-kota besar.

Udang, cumi, dan beragam ikan ekonomis dari perairan ini ikut menopang pasokan protein yang selama ini kita sebut ketahanan pangan. Tapi di desa asalnya, jalan menuju tempat pendaratan ikan masih berlubang, dan tidak banyak yang tahu nama desanya.

Di darat, perempuan-perempuan yang tergabung dalam Poklahsar mengolah hasil tangkapan itu menjadi kemplang, kerupuk ikan, dan berbagai produk makanan lainnya. Kerja keras, tapi pasarnya sempit. Selama ini penjualan masih mengandalkan kenalan dan pasar lokal.

“Kalau bisa dipasarkan lewat media sosial, mungkin produk kami bisa lebih dikenal orang luar,” ujar salah seorang anggota Poklahsar yang ikut pelatihan.

Bagi kelompok perempuan pesisir, media sosial bukan lagi sekadar tempat berbagi foto, tetapi peluang untuk memperluas pasar yang selama ini sulit mereka jangkau.

Bahwa foto produk yang bagus dan caption yang tepat bisa membuka pintu yang selama ini tertutup bukan karena produknya kurang baik, melainkan karena tidak ada yang melihat.

Baca juga:
* Pokmaswas Kampung Cabang: Penjaga Keseimbangan Alam di Way Seputih dan Laut Timur TNWK

Jalan Rusak dan Ancaman yang Belum Selesai

Keterisolasian di Kuala Teladas bukan hanya soal fisik. Jalan yang rusak mempersulit distribusi hasil laut. Tapi yang lebih lama terasa dampaknya adalah keterisolasian informasi: masalah dan potensi desa ini jarang sampai ke ruang publik karena tidak ada yang cukup terlatih untuk menceritakannya.

Di sisi lain, warga juga menaruh perhatian terhadap aktivitas penambangan pasir di sekitar wilayah pesisir. Yang ditambang bukan sembarang hamparan, melainkan pasir timbul dan susunan terumbu karang yang selama ini berfungsi sebagai benteng alami pemecah ombak sekaligus pelindung dari abrasi pantai.

Bagi nelayan yang hidupnya bergantung pada kondisi laut, kerusakan ekosistem bukan ancaman abstrak. Itu soal apakah bulan depan masih ada yang bisa ditangkap.

Arif Rahman, pengurus Pokmaswas Kuala Jaya Lestari Kuala Teladas, berbicara dengan nada yang tenang tapi serius soal ini. Baginya, menjaga kelestarian laut bukan sekadar urusan lingkungan, tapi soal keberlangsungan hidup.

“Masyarakat di sini sangat peduli dengan kelestarian alam, karena itu berkaitan langsung dengan ketersediaan ikan dan rajungan yang bisa kami panen,” katanya.

Arif bercerita pernah menonton video perburuan rajungan di luar negeri melalui YouTube. Di sana ada aturan, ada kalender musim panen yang membuat nelayan tidak menangkap sembarangan. Ia bermimpi Indonesia, dan khususnya di desanya, bisa meniru pola itu suatu hari.

“Kalau ada aturan yang jelas, nelayan bisa lebih sejahtera dan alam tetap lestari,” ujarnya.

Bagi Arif, dua hal itu tidak pernah bertentangan.

Pandangan itu berakar dari sesuatu yang lebih dalam. Ia menyebut cinta kasih sebagai pegangan, cinta kepada Tuhan dan kepada sesama manusia, termasuk kepada alam.

“Selama ini kami hanya jadi penonton. Kalau ada masalah di laut atau potensi desa, tidak banyak yang tahu. Mudah-mudahan setelah pelatihan ini kami bisa mulai bercerita sendiri dan dilihat oleh lebih banyak orang,” katanya.

Baca juga:
* Warga Sungai Burung Bersatu Jaga Ekosistem Laut dan Mangrove

Bukan Jurnalis, tapi Sudah Waktunya Bersuara

Programme Specialist EDF, Meutia Isty, mengatakan pelatihan ini bukan untuk mencetak jurnalis profesional, melainkan membantu warga lebih dekat dengan praktik jurnalisme warga dan komunikasi digital.

Menurutnya, masyarakat pesisir sebenarnya sudah akrab dengan telepon genggam dan media sosial, tetapi belum banyak yang terbiasa mendokumentasikan potensi maupun persoalan di desa mereka sendiri.

“Tujuannya agar warga lebih lancar, lebih memahami, dan lebih dekat dengan kegiatan jurnalisme warga seperti merekam foto, video, dan menulis,” katanya.

“Warga di sini yang tinggal di sini, yang lebih memahami dan lebih cepat mengetahui apa-apa yang terjadi di sini.”

Bagi Meutia, ini soal memanfaatkan sesuatu yang sebetulnya sudah ada. Warga pesisir Tulang Bawang bukan orang yang asing dengan ponsel atau media sosial. Yang selama ini kurang adalah kepercayaan diri dan keterampilan untuk mengubah apa yang mereka lihat sehari-hari menjadi cerita yang bisa sampai jauh.

“Sekarang sudah zamannya borderless. Masyarakat yang jauh dari kota sekalipun bisa menjangkau orang-orang yang jauh di Lampung, bahkan di luar Lampung,” ujarnya.

Kami meninggalkan Kuala Teladas sore hari, melewati jalan yang sama. Genangan yang sama, lubang yang sama. Tapi sore ini, beberapa warga pulang dengan kesadaran baru: bahwa cerita tentang laut mereka tidak harus selalu datang dari orang luar.

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *