Pemerintah Indonesia bersama Toyota Motor Corporation mempercepat pengembangan industri bioetanol nasional dengan memulai pembangunan pabrik di Provinsi Lampung pada 2026.
Proyek ini menjadi salah satu langkah konkret menuju target mandatori campuran bioetanol (E10) dalam bahan bakar bensin pada 2028.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, menyatakan konstruksi pabrik bioetanol tersebut direncanakan dimulai pada kuartal III atau paling lambat kuartal IV 2026.
“Planning-nya sekitar kuartal III atau IV tahun ini kita mulai konstruksi pembangunan plant bioetanolnya,” ujarnya.
Lampung Jadi Basis Industri Bioetanol Nasional
Lampung dipilih sebagai lokasi utama bukan tanpa alasan. Provinsi ini dinilai memiliki keunggulan kuat dari sisi ketersediaan bahan baku (feedstock), mulai dari ubi, singkong, sorgum, tebu, dan aren.
Pemerintah menilai kekuatan sektor pertanian Lampung menjadi fondasi penting dalam pengembangan energi berbasis bioetanol.
Selain itu, posisi geografis Lampung yang dekat dengan pasar utama di Pulau Jawa juga memperkuat daya tarik investasi.
Proyek ini tidak hanya mencakup pembangunan pabrik, tetapi juga pengembangan kawasan hulu melalui penanaman bahan baku, termasuk sorgum sebagai salah satu komoditas pendukung.
Investasi Triliunan dan Target Produksi 2028
Rencana investasi pengembangan bioetanol ini diperkirakan mencapai sekitar Rp2,5 triliun dengan kapasitas awal produksi sekitar 60.000 kiloliter per tahun.
Pemerintah memperkirakan proses pembangunan akan memakan waktu sekitar dua tahun, sehingga produksi komersial ditargetkan mulai berjalan pada 2028, sejalan dengan implementasi mandatori E10.
Dengan target tersebut, Indonesia diperkirakan membutuhkan pasokan bioetanol dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan campuran 10 persen dalam bensin nasional.
Todotua menambahkan, kebutuhan bahan bakar nasional saat ini mencapai lebih dari 40 juta kiloliter (kl) per tahun.
Dengan rencana penerapan mandatori E10, Indonesia diperkirakan membutuhkan sedikitnya 4 juta kl bioetanol pada 2027.
Angka tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan pasokan bioetanol dalam negeri, sekaligus membuka peluang investasi baru di sektor energi berbasis biomassa.
Baca juga:
* Temuan Gas Raksasa 5 Tcf di Blok Ganal Kaltim, Harapan Baru bagi Ketahanan Energi Nasional
Multifeedstock Jadi Kunci Teknologi
Salah satu keunggulan utama proyek ini adalah penggunaan teknologi multifeedstock, yang memungkinkan produksi bioetanol dari berbagai jenis bahan baku.
Selain tebu dan singkong, pengembangan juga mencakup:
- sorgum
- biomassa kelapa sawit
- limbah pertanian
Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan fleksibilitas pasokan bahan baku.
Pengembangan teknologi bioetanol generasi kedua (second generation bioethanol) juga menjadi bagian dari kolaborasi ini, dengan memanfaatkan biomassa non-pangan sebagai sumber energi alternatif.
Kolaborasi Indonesia–Jepang Percepat Transisi Energi
Kerja sama ini melibatkan berbagai pihak, termasuk:
- Pertamina New & Renewable Energy
- mitra industri Jepang seperti Toyota Tsusho
- lembaga riset seperti Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels
Kolaborasi ini merupakan tindak lanjut dari komunikasi bilateral antara pemerintah Indonesia dan Jepang dalam mendorong pengembangan energi bersih.
Selain pembangunan pabrik, kerja sama juga mencakup:
- potensi joint venture
- alih teknologi
- pengembangan kendaraan berbasis bioetanol (flex-fuel)
Toyota sendiri telah mengembangkan teknologi kendaraan yang mampu menggunakan bahan bakar dengan kandungan etanol lebih tinggi, sejalan dengan tren global menuju dekarbonisasi sektor transportasi.
Dorong Ekonomi Daerah dan Kesejahteraan Petani
Pengembangan industri bioetanol di Lampung tidak hanya berorientasi pada energi, tetapi juga diharapkan memberi dampak ekonomi langsung di daerah.
Model yang dikembangkan akan melibatkan:
- petani lokal
- koperasi tani
- sektor agrikultur
Dengan demikian, rantai pasok bioetanol tidak hanya terpusat di industri, tetapi juga terintegrasi dengan ekonomi masyarakat.
Pemerintah juga menyiapkan berbagai insentif investasi untuk mempercepat realisasi proyek, termasuk kemudahan perizinan dan dukungan fiskal.
Baca juga:
* Dari Uap ke Energi Masa Depan, BRIN–Geo Dipa Ubah Panas Bumi Jadi Sumber Nilai Baru
Menuju Kemandirian Energi Berbasis Pertanian
Pengembangan bioetanol menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperkuat bauran energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
Dengan pendekatan multifeedstock dan kolaborasi internasional, Indonesia berupaya membangun ekosistem energi baru yang tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga berbasis pada kekuatan sumber daya domestik.
Jika berjalan sesuai rencana, proyek ini akan menempatkan Lampung sebagai salah satu pusat industri bioetanol nasional sekaligus model pengembangan energi terbarukan berbasis pertanian di Indonesia.



