Uap panas bumi selama ini identik dengan turbin dan listrik. Dari perut bumi, energi diangkat, diputar, lalu disalurkan ke jaringan.
Namun setelah listrik dihasilkan, sebagian potensi lain kerap terabaikan: panas sisa, fluida, hingga limbah yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Padahal, di situlah nilai baru sebenarnya tersembunyi.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PT Geo Dipa Energi mulai menggeser pendekatan tersebut.
Keduanya menjalin kerja sama riset untuk mengoptimalkan pemanfaatan panas bumi secara lebih menyeluruh. Tidak hanya untuk pembangkitan listrik, tetapi juga untuk kebutuhan langsung masyarakat serta pengembangan produk turunan bernilai tambah, termasuk hidrogen hijau.
Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) bertajuk Optimalisasi Pemanfaatan Direct Use pada Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, Selasa (7/4).
Langkah ini mencerminkan pergeseran penting: dari eksploitasi energi menuju optimalisasi sumber daya.
Dari Energi Listrik ke Manfaat Langsung

Selama ini, pengembangan panas bumi di Indonesia masih didominasi oleh pembangkitan listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Model ini memang penting, tetapi belum sepenuhnya menangkap potensi energi yang tersedia.
Indonesia, yang memiliki sekitar 40 persen potensi panas bumi dunia, justru menghadapi tantangan klasik: bagaimana memanfaatkan sumber daya tersebut secara lebih efisien dan menyeluruh.
Kepala Pusat Riset Teknologi Konversi Energi BRIN, Tata Sutardi, menjelaskan bahwa energi panas bumi bersuhu rendah hingga sedang dapat dimanfaatkan secara langsung melalui konsep direct use.
Pemanfaatan ini dilakukan dengan memanfaatkan fluida geotermal—baik dari sumur bor, fluida buangan PLTP, maupun sumber alami seperti mata air panas—yang kemudian dialirkan melalui teknologi penukar panas (heat exchanger).
Melalui pendekatan ini, panas bumi tidak lagi berhenti di turbin. Ia bisa hadir lebih dekat ke kehidupan sehari-hari.
Di kawasan dataran tinggi seperti Dieng, misalnya, suhu udara yang relatif dingin membuka peluang penerapan sistem pemanas kawasan (district heating).
Sementara di sektor pertanian, panas bumi dapat dimanfaatkan untuk mengeringkan hasil panen seperti sayuran dan tomat.
Bagi masyarakat sekitar, pemanfaatan langsung ini bukan sekadar inovasi teknologi. Ia menjadi alat untuk menekan biaya produksi, memperpanjang umur simpan hasil panen, sekaligus meningkatkan nilai jual produk.
Mengubah Limbah Menjadi Sumber Daya
Namun pemanfaatan panas bumi tidak berhenti pada direct use. Di balik proses pembangkitan listrik, terdapat residu berupa kondensat dan brine yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Di sinilah konsep hilirisasi mulai memainkan peran.
Kondensat, hasil pendinginan uap, mengandung air yang dapat diolah melalui proses elektrolisis untuk menghasilkan hidrogen dan oksigen.
Jika proses ini menggunakan energi bersih, maka hidrogen yang dihasilkan tergolong sebagai hidrogen hijau, salah satu energi masa depan yang tengah dikembangkan secara global.
Menurut Tata, penelitian pemanfaatan kondensat ini telah dilakukan pada skala laboratorium dan kini diarahkan menuju tahap percontohan (pilot project).
Selain itu, pemanfaatan panas sisa dalam proses elektrolisis juga dinilai mampu meningkatkan efisiensi energi secara keseluruhan.
Pendekatan ini mencerminkan prinsip ekonomi sirkular: tidak ada energi yang benar-benar terbuang. Setiap sisa proses justru menjadi bahan baku bagi proses berikutnya.
Selain hidrogen, Geo Dipa juga mengkaji potensi ekstraksi mineral ikutan dari brine, seperti litium, silika, emas, dan boron.
Jika terealisasi, langkah ini akan memperluas rantai nilai industri panas bumi, dari energi menjadi sumber bahan baku strategis.
Dari Lokal ke Global
Direktur Pengembangan Niaga dan Eksplorasi PT Geo Dipa Energi, Ilen Kardani, menyebutkan bahwa wilayah seperti Dieng dan Patuha memiliki potensi besar untuk pengembangan pemanfaatan langsung maupun hilirisasi.
Potensi tersebut tidak hanya relevan secara lokal, tetapi juga sejalan dengan tren global.
Di tengah dorongan transisi energi, hidrogen hijau mulai dilirik sebagai solusi untuk sektor yang sulit dialiri listrik, seperti industri berat dan transportasi jarak jauh. Negara-negara maju telah mulai berinvestasi besar dalam pengembangannya.
Indonesia, dengan sumber daya panas bumi yang melimpah, memiliki peluang untuk masuk dalam peta tersebut—bukan hanya sebagai pengguna, tetapi juga sebagai produsen energi masa depan.
Namun peluang ini tidak datang tanpa tantangan.
Tantangan dari Laboratorium ke Industri
Seperti banyak inovasi energi lainnya, tantangan terbesar terletak pada keberlanjutan riset hingga tahap komersial. Tidak sedikit proyek yang berhenti pada tahap uji coba tanpa pernah mencapai skala industri.
Pengembangan hidrogen hijau dari panas bumi, misalnya, masih berada pada tahap awal. Dibutuhkan investasi, kebijakan pendukung, serta kepastian pasar agar teknologi ini dapat berkembang lebih jauh.
Hal serupa juga berlaku untuk pemanfaatan langsung dan ekstraksi mineral. Tanpa integrasi yang kuat antara riset, industri, dan kebijakan, potensi besar ini berisiko tetap menjadi peluang yang belum terwujud.
Baca juga:
* Sumur Kecil, Listrik Cepat: Terobosan Wellhead Modular Pangkas Waktu dan Biaya
Mengubah Cara Pandang Energi
Kolaborasi BRIN dan Geo Dipa menunjukkan bahwa masa depan energi tidak lagi bergantung pada satu bentuk pemanfaatan saja. Energi tidak lagi dilihat sebagai produk tunggal, melainkan sebagai sistem yang saling terhubung.
Panas bumi, dalam konteks ini, bukan hanya sumber listrik. Ia adalah sumber panas, bahan baku, hingga energi masa depan dalam bentuk hidrogen.
Jika selama ini Indonesia baru memanfaatkan sebagian dari potensinya, pendekatan baru ini mencoba mengubahnya menjadi pemanfaatan yang lebih utuh.
Pada akhirnya, pertanyaan bukan lagi seberapa besar energi yang dimiliki, tetapi seberapa cerdas energi itu dimanfaatkan.
Dari uap yang selama ini terlewat, arah baru mulai dirumuskan: setiap panas memiliki nilai, dan setiap sisa dapat menjadi awal dari energi berikutnya.



