Kabar gembira datang dari Bumi Ruwa Jurai. Bos HS, salah satu pemain besar di industri hasil tembakau (IHT), memutuskan membangun pabrik rokok di Lampung tanah kelahirannya. Narasi “berbakti untuk kampung halaman” memang menyentuh hati.
Tapi tentu saja, di balik sentimen tersebut, ada perhitungan bisnis yang matang. Dan justru di sinilah peran pemerintah daerah menjadi sangat penting: bagaimana memastikan investasi ini benar-benar memberi manfaat maksimal bagi rakyat Lampung?
Lebih dari Sekadar Pabrik
Dari sisi ekonomi makro, kehadiran pabrik ini patut disambut positif. Proyeksi penyerapan 3.000 tenaga kerja bukan angka kecil.
Dalam bahasa ekonomi pembangunan, ini yang disebut efek pengganda satu investasi yang kemudian menciptakan lingkaran ekonomi yang lebih luas.
Dampak yang bisa kita harapkan antara lain:
Pertama, pengurangan angka pengangguran. Tiga ribu lapangan kerja langsung di sektor manufaktur akan membantu menurunkan tingkat pengangguran terbuka, terutama di kalangan usia produktif.
Kedua, pemasukan daerah yang lebih sehat. Dari pajak penerangan jalan, pajak air tanah, sampai retribusi perizinan semuanya akan menambah kas Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bisa dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur dan layanan publik.
Ketiga, kehidupan ekonomi lokal yang lebih hidup. Ribuan buruh pabrik butuh makan, tempat tinggal, transportasi. Warung makan, rumah kos, ojek, tukang laundry semua akan kebagian rezeki. Ini multiplier effect dalam versi paling nyata.
Pertanyaan Besarnya: Bagaimana dengan Petani Kita?
Lampung punya potensi perkebunan cengkeh yang tersebar dari pesisir sampai pegunungan. Pertanyaannya: apakah cengkeh lokal akan diserap oleh pabrik ini?
Kita perlu realistis. Industri rokok punya standar ketat soal kualitas bahan baku mulai dari kadar air, aroma, sampai tingkat kekeringan.
Kalau petani cengkeh Lampung bisa memenuhi standar tersebut, maka akan terjadi sinergi yang indah: pabrik dapat bahan baku berkualitas dengan biaya logistik rendah, petani dapat kepastian pasar dengan harga yang layak.
Namun jika kesenjangan kualitas masih lebar, kita bisa kehilangan momentum emas ini.
Cengkeh dari luar daerah yang masuk, sementara petani lokal hanya jadi penonton di rumah sendiri. Ini yang harus diantisipasi sejak awal.
Peran Krusial Gubernur Rahmat Mirzani Djausal
Gubernur Lampung berada di posisi strategis. Beliau harus bisa menjadi jembatan yang menghubungkan kepentingan investor dengan kepentingan rakyat. Tugas yang tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin.
Ada tiga hal yang perlu menjadi fokus:
Satu, pastikan lapangan kerja benar-benar untuk warga Lampung. Kuota 3.000 pekerja harus diprioritaskan untuk pemegang KTP Lampung. Kalau perlu, Pemprov bisa menggandeng lembaga pelatihan vokasi untuk mempersiapkan calon tenaga kerja agar sesuai kebutuhan pabrik.
Dua, dorong kemitraan yang jelas antara pabrik dengan petani lokal. MoU atau perjanjian kerja sama dengan koperasi petani cengkeh dan tembakau sangat penting bukan hanya soal harga, tapi juga pembinaan kualitas dan jaminan serapan.
Tiga, jaga keseimbangan. Industri rokok punya dampak lingkungan dan kesehatan yang tidak bisa diabaikan. Pengawasan AMDAL harus ketat. Dana CSR dari perusahaan sebaiknya dialokasikan untuk penguatan puskesmas dan program kesehatan masyarakat, khususnya di sekitar lokasi pabrik.
Baca juga:
* Menimbang Ratifikasi FCTC untuk Indonesia
Apresiasi dan Harapan
Kita patut mengapresiasi keputusan Bos HS yang memilih kampung halaman sebagai tempat berinvestasi.
Di tengah banyaknya pengusaha sukses yang justru melarikan modal ke luar negeri, pilihan ini sungguh patut dihargai.
Apresiasi yang sama juga pantas diberikan kepada jajaran Pemerintah Provinsi Lampung yang berhasil menciptakan iklim investasi yang menarik.
Sekarang tongkat estafet ada di tangan pemerintah daerah. Jangan sampai 3.000 lapangan kerja ini hanya menjadi angka statistik yang bagus di laporan tahunan, tanpa dampak riil bagi kehidupan masyarakat.
Jangan sampai “bakti untuk tanah kelahiran” ini hanya menghasilkan kepulan asap rokok, tanpa meninggalkan fondasi ekonomi yang kokoh untuk generasi mendatang.
Investasi ini bisa jadi momentum kebangkitan ekonomi Lampung atau sekadar cerita manis yang lewat begitu saja. Semuanya tergantung bagaimana kita mengelolanya hari ini.
*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan
‘#InvestasiLampung #EkonomiKerakyatan #PembangunanBerkelanjutan



