Event Ramai Belum Tentu Berdampak: Tantangan Pariwisata Lampung Mengubah Keramaian Menjadi Tinggal

Event Ramai Belum Tentu Berdampak Tantangan Pariwisata Lampung Mengubah Keramaian Menjadi Tinggal
Suasana ramai salah satu festival di Lampung. Event pariwisata terus bertambah, namun tantangan mengubah kunjungan singkat menjadi perjalanan wisata (lama tinggal) masih besar. (Foto: arsip Yopie Pangkey)

Selama beberapa tahun terakhir, Lampung semakin sering menggelar berbagai event pariwisata. Dari festival budaya, lomba lari, konser musik, hingga festival kuliner, kalender kegiatan tampak semakin padat. Ruang publik ramai, media sosial penuh unggahan, dan arus kunjungan meningkat pada hari-hari tertentu.

Pemerintah Provinsi Lampung melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menempatkan strategi event-based tourism sebagai salah satu penggerak utama pariwisata daerah.

Read More

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan lonjakan signifikan jumlah perjalanan wisatawan dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan penyelenggaraan event unggulan, sport tourism, serta penguatan promosi.

Dari sisi aktivasi kunjungan, event terbukti efektif sebagai penggerak yang mendorong orang datang dan mengenal Lampung sebagai destinasi.

Namun, di balik keramaian itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah event-event tersebut benar-benar membuat wisatawan tinggal lebih lama dan membelanjakan uang lebih banyak di Lampung?

Blind Spot Setelah Wisatawan Datang

Di sinilah terdapat blind spot yang jarang dibahas secara terbuka dalam diskursus kebijakan pariwisata. Peningkatan jumlah kunjungan belum sepenuhnya diikuti oleh kenaikan lama tinggal dan belanja wisatawan secara berkelanjutan.

Banyak event masih berfungsi sebagai pemicu kunjungan singkat. Wisatawan datang, menikmati agenda utama, berfoto, lalu pulang. Tanpa terhubung dengan rangkaian perjalanan wisata yang lebih panjang.

Data tingkat hunian hotel dan rata-rata lama tinggal wisatawan memperkuat gambaran ini.

Keramaian memang tercipta, tetapi dampaknya sering berhenti pada satu hari puncak. Setelah itu, arus wisata kembali surut, dan potensi ekonomi lintas hari tidak tergarap optimal.

Event Masih Dipahami sebagai Agenda, Bukan Perjalanan

Salah satu persoalan utama pariwisata Lampung adalah cara event dirancang dan diposisikan.

Sebagian besar event masih dipahami sebagai agenda satu hari: datang, menonton, berfoto, lalu pulang. Dalam skema seperti ini, event memang menciptakan keramaian, tetapi tidak otomatis mendorong wisatawan untuk menginap.

Padahal, dalam logika ekonomi pariwisata, nilai terbesar justru muncul ketika wisatawan memperpanjang waktu tinggal.

Setiap malam tambahan berarti belanja akomodasi, konsumsi kuliner, transportasi lokal, hingga oleh-oleh. Tanpa desain perjalanan yang mendorong itu, event hanya menjadi tontonan massal, bukan instrumen ekonomi.

Baca juga:
* Banyak Destinasi, Minim Cerita Perjalanan: PR Pariwisata Lampung

Event Berlapis: Pra, Inti, dan Pasca

Untuk menjawab tantangan tersebut, event perlu dirancang secara berlapis. Artinya, event tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari rangkaian aktivitas wisata sebelum dan sesudah hari puncak.

Pra-event berfungsi sebagai alasan datang lebih awal, inti event sebagai magnet utama, dan pasca-event sebagai alasan untuk tidak langsung pulang. Pendekatan ini sederhana, tetapi berdampak besar terhadap lama tinggal wisatawan.

Dengan desain seperti ini, event tidak lagi berhenti pada satu titik waktu, melainkan membentuk alur perjalanan yang mendorong wisatawan bertahan lebih lama di destinasi.

Event Berbasis Pengalaman, Bukan Sekadar Keramaian

Selain berlapis, event juga perlu bergeser dari sekadar keramaian menuju pengalaman. Wisatawan hari ini tidak cukup hanya menonton; mereka ingin terlibat, mencoba, dan merasakan sesuatu yang khas.

Event kuliner, misalnya, tidak hanya berupa deretan stan makanan, tetapi dapat dikembangkan menjadi wisata gastronomi. Ada pengalaman memasak singkat, tur dapur UMKM, hingga cerita tentang bahan lokal.

Event budaya tidak berhenti pada pertunjukan, tetapi membuka ruang interaksi antara wisatawan, pelaku seni, dan komunitas lokal.

Pendekatan berbasis pengalaman inilah yang mendorong wisatawan membelanjakan uang lebih banyak. Bukan karena dipaksa, melainkan karena merasa mendapatkan nilai yang sepadan.

Peran Pemerintah: Kurator, Bukan Operator

Dalam skema ini, peran pemerintah daerah bukan sebagai penyelenggara tunggal, melainkan kurator dan orkestrator.

Pemerintah menetapkan kerangka, menghubungkan pelaku usaha, asosiasi pariwisata, dan komunitas, serta memastikan keterhubungan antaraktivitas berjalan.

Dengan peran tersebut, event tidak lagi berdiri sendiri, tetapi terintegrasi dengan destinasi, akomodasi, dan ekonomi lokal. Pemerintah tidak mengerjakan semuanya, tetapi memastikan semua elemen bergerak ke arah yang sama.

Baca juga:
* Siapa Wisatawan Lampung, dan Mengapa Tidak Tinggal Lama?

Menjadikan Event sebagai Instrumen Strategis

Event pariwisata seharusnya tidak lagi dipahami sekadar sebagai pengisi kalender atau alat promosi. Event perlu ditempatkan sebagai instrumen strategis untuk menjawab persoalan lama tinggal dan belanja wisatawan.

Lampung memiliki modal besar: destinasi yang beragam, komunitas yang aktif, serta pasar wisatawan yang nyata.

Tantangannya kini bukan menambah jumlah event, melainkan merancang event yang benar-benar menggerakkan perjalanan wisata. Dari datang, tinggal, hingga pulang dengan pengalaman yang berkesan.

Dengan pendekatan itu, keramaian tidak lagi berhenti sebagai angka kunjungan, tetapi berubah menjadi dampak ekonomi yang lebih dalam dan berkelanjutan.


Penulis: Yopie Pangkey
Travel Blogger & Pengamat Pariwisata Lampung

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *