Gas Pol Mirza: Menakar Optimisme Ekonomi Lampung di Bawah Kepemimpinan Baru

Gas Pol Mirza - Menakar Optimisme Ekonomi Lampung di Bawah Kepemimpinan Baru
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meninjau mesin pengering jagung di Natar, Lampung Selatan, Selasa (20/5/2025). Modernisasi pascapanen menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas harga pangan. (Foto: Perdiansyah)

Memasuki pekan ketiga Januari 2026, ada angin segar berhembus dari Bumi Ruwa Jurai. Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi, Lampung justru menampakkan geliat yang berbeda.

Di bawah komando Gubernur Rahmat Mirzani Djausal atau yang akrab disapa Iyai Mirza provinsi ini tak sekadar bertahan, tapi mulai bergerak maju dengan langkah terukur.

Read More

Yang menarik, Iyai Mirza sepertinya paham betul bahwa pembangunan bukan soal janji-janji manis di kampanye, melainkan soal eksekusi di lapangan. Dan beberapa catatan awal tahun ini cukup menjanjikan.

Inflasi Terendah: Bukan Cuma Angka di Kertas

Lampung berhasil mencatatkan inflasi terendah kedua secara nasional pada Januari 2026.

Sementara banyak daerah lain masih berkutat dengan lonjakan harga pasca-libur tahun baru, Lampung relatif tenang.

Ini tentu bukan hasil kebetulan. Di balik angka itu ada kerja keras Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang tampaknya benar-benar serius mengawal harga pangan.

Koordinasi dengan petani lokal, distribusi yang lebih efisien, hingga monitoring pasar tradisional semua dilakukan dengan cukup ketat.

Bagi ibu-ibu yang belanja ke pasar, ini berita bagus. Daya beli tidak tergerus inflasi berarti uang dapur masih bisa mencukupi sampai akhir bulan.

Sederhana, tapi ini yang paling kerasa di kehidupan sehari-hari.

UMP 2026: Keputusan yang Tidak Mudah

Penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) Lampung 2026 di angka Rp3,04 juta naik 5,35% adalah contoh klasik dari “dilema pembuat kebijakan”.

Di satu sisi, buruh menuntut kenaikan yang signifikan. Di sisi lain, pengusaha mengkhawatirkan daya tahan industri.

Iyai Mirza memilih jalan tengah. Angka ini memang tak sepenuhnya memuaskan buruh, tapi juga tidak membuat pengusaha kabur.

Yang patut diapresiasi, kenaikan ini dibarengi dengan upaya menekan inflasi dan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.

Jadi buruh tidak hanya dapat angka di slip gaji yang lebih tinggi, tapi juga daya beli yang membaik.

Tentu saja, ini perlu dikawal terus. Jangan sampai kenaikan upah hanya jadi angka nominal tanpa perbaikan kualitas hidup riil.

Baca juga:
* Menembus Batas Fiskal: Strategi “Survival” Lampung Menuju Indonesia Emas 2045

Utang Rp1 Triliun: Berani atau Nekat?

Nah, ini yang paling menarik sekaligus kontroversial. Gubernur Mirza mengajukan pinjaman Rp1 triliun untuk memperbaiki 380 kilometer jalan provinsi.

Bagi yang konservatif, ini terdengar berisiko. Tapi kalau kita mau jujur, infrastruktur Lampung memang sudah cukup memprihatinkan.

Jalan rusak bukan cuma soal kenyamanan berkendara. Ini soal ekonomi. Biaya logistik membengkak, hasil bumi petani kehilangan daya saing, investor enggan masuk.

Iyai Mirza sepertinya memahami ini, dan memilih untuk tidak menunda lagi.

Memang ada risiko fiskal, tapi kalau dikelola dengan baik, pinjaman ini bisa jadi investasi yang menguntungkan.

Dengan jalan yang mulus, distribusi barang lebih cepat, biaya turun, investasi masuk dan pada akhirnya ekonomi daerah bergerak lebih kencang.

Yang penting, eksekusi di lapangan harus benar-benar transparan dan tepat sasaran.

Bank Lampung: Saatnya Turun ke Rakyat

Satu lagi yang patut dicatat adalah upaya revitalisasi Bank Lampung. Gubernur Mirza mendorong bank daerah ini untuk lebih agresif menyalurkan kredit kepada UMKM.

Selama ini, pelaku usaha kecil sering kesulitan akses modal karena prosedur berbelit dan agunan yang berat.

Kalau Bank Lampung benar-benar bisa jadi lokomotif bagi UMKM, dampaknya akan luar biasa.

Ribuan pelaku usaha kecil akan berdaya, ekonomi lokal bergerak, penyerapan tenaga kerja meningkat. Ini adalah inklusi ekonomi dalam pengertian yang sesungguhnya.

Catatan Penutup

Tiga minggu pertama di tahun 2026 ini memberi gambaran bahwa Lampung sedang mencoba keluar dari zona nyaman.

Ada inflasi yang terkendali, ada kebijakan upah yang realistis, ada keberanian mengambil risiko untuk memperbaiki infrastruktur, dan ada upaya memperkuat perbankan daerah.

Baca juga:
* Menutup Keran Kebocoran Ekonomi Lampung: Strategi “Iyai Mirza” Menuju Pertumbuhan 8%

Apakah semua ini akan berhasil? Terlalu dini untuk berkesimpulan.

Tapi setidaknya, arahnya sudah mulai jelas. Gubernur Mirza tampaknya tidak ingin Lampung hanya menjadi “provinsi transit” di jalur Sumatera – Jawa.

Ada ambisi untuk menjadikan Lampung sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang mandiri dan inklusif.

Kini tinggal bagaimana semua rencana ini dieksekusi. Karena pada akhirnya, rakyat tidak butuh jargon dan angka-angka indah di PowerPoint.

Mereka butuh dampak nyata: jalan yang bagus, harga pangan yang terjangkau, lapangan kerja yang layak, dan peluang usaha yang terbuka lebar.

Mari kita tunggu sambil terus mengawal.

*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan

‘#LampungMaju #EkonomiLampung #GubernurMirza

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *