Inflasi Lampung Terendah Nasional pada Januari 2026, Ketahanan Pangan Jadi Penopang Utama

Inflasi Lampung Terendah Nasional pada Januari 2026 Ketahanan Pangan Jadi Penopang Utama - Yopie Pangkey.webp
Ketersediaan bahan pangan yang terjaga menjadi salah satu faktor penopang inflasi daerah tetap terkendali. (Foto ilustrasi AI)

Bandarlampung – Provinsi Lampung mencatat inflasi terendah se-Indonesia pada Januari 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 2 Februari 2026, inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) Lampung tercatat sebesar 1,90 persen, jauh di bawah inflasi nasional yang mencapai 3,55 persen.

Capaian ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan pengendalian harga, tetapi juga menunjukkan peran ketahanan pangan daerah dalam menahan tekanan inflasi.

Read More

Saat pasokan pangan relatif melimpah dan distribusi berjalan stabil, fluktuasi harga dapat ditekan.

Deflasi Bulanan, Harga Pangan Jadi Faktor Penentu

Selain inflasi tahunan terendah, Lampung juga mencatat deflasi bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,07 persen pada Januari 2026.

Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata deflasi Januari dalam tiga tahun terakhir di Lampung yang sebesar 0,11 persen.

Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung, Achmad P. Subarkah, menjelaskan bahwa deflasi terutama dipicu oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta transportasi.

Komoditas penyumbang deflasi terbesar meliputi cabai merah (andil -0,25 persen), bawang merah (-0,12 persen), cabai rawit (-0,06 persen), bensin (-0,03 persen), dan jeruk (-0,03 persen).

“Stabilitas harga pangan ini memperkuat daya beli masyarakat dan menjaga ketahanan ekonomi daerah,” ujar Achmad dalam keterangan resminya.

Surplus Produksi Pangan Menahan Tekanan Inflasi

Rendahnya inflasi Lampung tidak terlepas dari kondisi produksi pangan yang berada dalam posisi surplus.

Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Lampung mencatat produksi padi pada 2025 mencapai lebih dari 3,2 juta ton, meningkat sekitar 15 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 2,79 juta ton.

Untuk 2026, pemerintah provinsi menargetkan produksi padi meningkat menjadi 3,3 juta ton, didukung oleh optimalisasi indeks pertanaman, penambahan luas tanam, serta penerapan teknologi pertanian.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan optimisme tersebut saat mengikuti Panen Raya Nasional secara virtual di Pesawaran pada 7 Januari 2026, bertepatan dengan pengumuman swasembada pangan nasional oleh Presiden Prabowo Subianto.

Baca juga:
* Resep “Jurus 4K” di Balik Jinaknya Inflasi Lampung

Pupuk, Jagung, dan Fondasi Ketahanan Pangan Daerah

Penguatan ketahanan pangan Lampung juga ditopang oleh ketersediaan input produksi.

Pada 2026, alokasi pupuk subsidi di Lampung mencapai 710.711 ton, terdiri atas 309.110 ton urea dan 387.830 ton NPK, dengan pengawasan distribusi untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga.

Selain padi, produksi jagung di sejumlah kabupaten seperti Lampung Selatan dan Lampung Tengah menunjukkan tren positif.

Panen jagung serentak menghasilkan puluhan ribu ton per kuartal dan menopang kebutuhan pakan ternak.

Pemerintah Provinsi Lampung juga mendorong cetak sawah baru seluas 5.000 hektare sebagai bagian dari strategi jangka menengah menjaga ketersediaan pangan.

Baca juga:
* Dari 38 Provinsi, Hanya Lampung yang Lolos Kualitas Tertinggi Pelayanan Publik Versi Ombudsman

Hilirisasi Ayam dan Stabilitas Harga Protein

Ketahanan pangan Lampung tidak hanya bertumpu pada produksi bahan mentah, tetapi juga mulai diperkuat melalui hilirisasi sektor peternakan.

Pada 6 Februari 2026, groundbreaking Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi digelar di Kebun Trikora PTPN I, Lampung Selatan, bersama Kementerian Pertanian dan PTPN I.

Program ini mencakup pembangunan Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) berkapasitas 2.000 ekor per jam, cold storage, pabrik pakan, hatchery, serta fasilitas pengolahan telur dan daging ayam. Proyeksi produksi mencapai 6.134 ton daging ayam per tahun.

Ketua Komisi II DPRD Lampung, Ahmad Basuki, menyatakan program ini diharapkan memberikan nilai tambah bagi peternak lokal sekaligus membantu menjaga stabilitas harga protein hewani di tingkat konsumen.

Harga Stabil, Inflasi Terkendali Jelang Ramadan

Surplus pangan yang terjaga berdampak pada stabilitas harga sejumlah komoditas utama seperti beras, cabai, bawang, telur, dan daging ayam, menjelang Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah.

Seiring meningkatnya kebutuhan musiman, Pemerintah Provinsi Lampung melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mengimbau masyarakat untuk berbelanja secara bijak guna menjaga stabilitas harga di pasar.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Lampung, Mohammad Zimmi Skil, mengatakan TPID telah memetakan langkah antisipatif, termasuk pemantauan pasar dan penguatan koordinasi lintas sektor.

“TPID Pemerintah Provinsi Lampung telah memetakan strategi untuk menjaga ketersediaan bahan pangan dan stabilitas harga di pasar, sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dengan harga yang stabil,” ujar Zimmi, Rabu (28/1/2026).

Selain pengawasan harga, pemerintah juga mendorong kabupaten dan kota untuk aktif menggelar pasar murah sebagai bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat selama Ramadan.

Baca juga:
* Bukan Sekadar Kandang: Membedah Megaproyek Hilirisasi Ayam Lampung, Siapa yang Benar-Benar Cuan?

Inflasi sebagai Cermin Ketahanan Pangan

Dalam konteks Lampung, inflasi tidak sekadar menjadi indikator ekonomi, tetapi juga mencerminkan kekuatan struktur pangan daerah.

Selama produksi, distribusi, dan hilirisasi pangan terjaga, tekanan harga dapat dikendalikan meskipun menghadapi risiko musiman dan dinamika nasional.

Dengan fondasi ketahanan pangan yang relatif kuat, Lampung berpeluang mempertahankan stabilitas harga sekaligus memperkuat perannya sebagai salah satu penopang ketahanan pangan nasional.

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *