Jika Pariwisata Adalah Industri, Siapa Produsennya?

Jika Pariwisata Adalah Industri Siapa Produsennya - Opini Yopie Pangkey.webp
Ketika perjalanan selesai, industri tetap bekerja: waktu, kapasitas, dan pengalaman yang harus diatur. (Foto arsip Yopie Pangkey)

Industri yang Sering Terlihat Ramai, tapi Jarang Dibaca dari Dalam

Pariwisata Lampung kerap dibaca dari luar: jumlah kunjungan, keramaian akhir pekan, unggahan media sosial yang silih berganti.

Setiap hari, konten wisata muncul di media arus utama maupun lini masa digital. Destinasi disebut, event dirayakan, dan angka-angka pertumbuhan dikutip.

Read More

Namun, satu pertanyaan mendasar sering luput diajukan: jika pariwisata memang diposisikan sebagai industri, siapa sebenarnya produsen di dalamnya?

Dalam industri apa pun, produsen adalah mereka yang merancang produk, membaca pasar, menanggung risiko, dan memastikan kualitas tetap terjaga.

Dalam pariwisata, produsen bukan hanya pengelola destinasi, tetapi juga mereka yang menyusun perjalanan. Mereka yang menghubungkan tempat, waktu, pengalaman, dan cerita menjadi satu alur yang layak dijual dan diulang.

Pola Perjalanan: Pengetahuan yang Tidak Pernah Netral

Saya pertama kali terlibat dalam penyusunan pola perjalanan wisata Lampung bertahun lalu, saat media sosial belum seintens sekarang.

Bersama dinas pariwisata provinsi, kami menyusun rute perjalanan, menghitung jarak dan waktu, mengkurasi tempat makan di sepanjang jalur, hingga memilih destinasi yang logis dikunjungi dalam satu perjalanan.

Hasilnya dicetak dalam bentuk brosur dan disebarkan di bandara, hotel, dan restoran.

Sebagian pola itu kini tak lagi digunakan. Bukan karena salah, melainkan karena pasar berubah.

Dalam industri, pola perjalanan memang tidak abadi. Ia hidup selama ada permintaan dan nilai ekonomi. Ketika permintaan bergeser, pola ikut bergeser.

Inilah logika industri yang sering kali berbenturan dengan pendekatan programatis.

Sebagai pelaku usaha, saya tidak mengikuti tren yang ada, tetapi merancang perjalanan sendiri.

Menghubungkan Bandar Lampung–Pesawaran–Tanggamus dalam 2 hari 1 malam, atau Tanggamus–Pesisir Barat–Lampung Barat dalam 3 hari 2 malam.

Bahkan ketika akses jalan rusak dan harga paket berada di atas rata-rata, perjalanan tetap laku. Pasar membayar bukan karena murah, tetapi karena pengalaman yang terkurasi.

Ketika Destinasi Lahir dari Komunitas, Bukan Program

Beberapa destinasi bahkan tumbuh jauh sebelum masuk peta kebijakan. Batu Layar Pantai Pegadungan di Tanggamus, misalnya, dikenal luas dengan sebutan “Gigi Hiu” berkat percakapan dan dokumentasi komunitas fotografer.

Nama itu bukan hasil branding resmi, melainkan narasi yang konsisten diproduksi dan disebarkan oleh kami. Budhi Marta Utama, Rudi Gustaman, saya, dan dibantu fotografer lainnya. Dan diramaikan melalaui platform Twitter (X) dan Facebook waktu itu, hingga akhirnya banyak dikenal oleh banyak orang.

Fenomena semacam ini lazim dalam industri kreatif. Destinasi, seperti halnya produk budaya, sering kali lahir dari bawah. Dimulai dari komunitas, pelaku, dan pasar, sebelum kemudian diakui secara formal.

Ini bukan anomali, melainkan tanda bahwa produsen pariwisata bekerja, meski sering tanpa label.

Produsen, Risiko, dan Rahasia Dagang

Penting dipahami: tidak semua pola perjalanan yang dibuat swasta ingin atau perlu dibuka luas. Dalam industri, pengetahuan perjalanan adalah modal. Diferensiasi adalah nilai.

Wajar jika pelaku usaha menjaga keunikan produknya. Namun, dari sudut pandang pemerintah daerah, keragaman ini justru seharusnya dibaca sebagai aset, bukan fragmentasi.

Tugas pemerintah bukan menyeragamkan pola perjalanan, melainkan membaca kecenderungan, memperbaiki konektivitas, dan memastikan dampak ekonomi menyebar.

Industrialisasi pariwisata tidak lahir dari satu paket resmi, tetapi dari banyak perjalanan yang saling bersaing dan berevolusi.

Pemerintah sebagai Orkestrator, Bukan Produsen Tunggal

Dalam pengalaman terlibat di berbagai promosi festival nasional hingga crisis center pariwisata di Kemenpar—termasuk saat erupsi Gunung Agung di Bali—peran pemerintah yang paling efektif adalah sebagai pengarah dan penjaga ritme. Memberi ruang bagi pelaku, menguatkan narasi, dan memastikan keberlanjutan pasca-event.

Lampung hari ini memiliki semua prasyarat: kunjungan tinggi, atensi media besar, dan pelaku yang aktif memproduksi pengalaman.

Yang dibutuhkan bukan lebih banyak agenda, melainkan kemampuan mengorkestrasi apa yang sudah bekerja di lapangan.

Baca juga:
* Pariwisata Lampung Memasuki Fase Dewasa

Membaca Industri dari Mereka yang Menjalankannya

Jika pariwisata Lampung ingin benar-benar memasuki fase industri, maka produsen harus diakui keberadaannya—bukan untuk diambil alih, tetapi untuk dibaca dan disambungkan.

Dari sanalah perjalanan wisata bisa memanjang, nilai ekonomi bisa berulang, dan pariwisata berhenti menjadi sekadar keramaian (jumlah kunjungan).

Industrialisasi pariwisata, pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling sering tampil, tetapi siapa yang paling konsisten memproduksi perjalanan. Dan mereka sudah lama bekerja. Sering kali tanpa sorotan.


Penulis: Yopie Pangkey
Travel Blogger & Pemerhati Pariwisata Lampung

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *