Kalau Hutan Jadi Tulang Punggung Ekonomi Dunia, Posisi Lampung di Mana?

Foto Ilustrasi Kalau Hutan Jadi Tulang Punggung Ekonomi Dunia Posisi Lampung di Mana
Ilustrasi visual yang menggambarkan kontras antara hutan alami dan ekspansi perkebunan di wilayah tropis.

Dunia Menoleh ke Hutan

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia mulai mengubah cara pandang terhadap hutan. Hutan bukan lagi sekadar ruang hijau atau kawasan konservasi, tetapi mulai diposisikan sebagai tulang punggung ekonomi global. Sebagai penyerap karbon, penyedia air, hingga penopang sistem pangan.

Narasi ini berkembang seiring meningkatnya tekanan krisis iklim dan dorongan menuju ekonomi rendah karbon. Hutan kini masuk dalam perhitungan investasi, pasar karbon, hingga strategi pembangunan negara.

Read More

Namun pertanyaannya sederhana: ketika dunia mulai menghargai hutan sebagai aset ekonomi, di mana posisi Lampung?

Lampung: Antara Potensi dan Kenyataan

Secara geografis, Lampung memiliki posisi strategis dalam lanskap kehutanan Sumatera.

Kawasan seperti Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Taman Nasional Way Kambas sangat penting bagi biodiversitas, juga memiliki nilai ekonomi ekologis yang besar.

Namun data menunjukkan kenyataan yang lebih kompleks.

Sepanjang 2001–2023, Lampung kehilangan sekitar 303 ribu hektare tutupan pohon, dengan emisi mencapai 161 juta ton CO₂e.

Bahkan, kondisi terkini menunjukkan:

  • lebih dari 37% hutan mengalami kerusakan
  • hampir separuh kawasan hutan telah berubah fungsi
  • kehilangan hutan terus terjadi meski dalam skala lebih kecil tiap tahun

Alih fungsi lahan menjadi penyebab utama. Terutama untuk perkebunan sawit, tebu, dan aktivitas ilegal.

Di titik ini, muncul ironi: saat dunia mulai “menghargai” hutan, Lampung justru masih kehilangan hutannya.

(Sumber: https://lampung.idntimes.com/news/lampung/kondisi-hutan-lampung-memprihatinkan-hanya-20-persen-asli-c1c2-01-g4h89-kgdz9p)

Ketika Ekonomi Justru Menggerus Hutan

Selama ini, hutan sering dikorbankan atas nama pertumbuhan ekonomi.

Ekspansi perkebunan, pertambangan, hingga proyek investasi besar masih menjadi pendorong utama deforestasi di Indonesia.

Di Lampung, pola ini terlihat jelas: izin pengelolaan hutan dalam skala besar, dominasi korporasi, dan adanya konflik agraria.

Dalam banyak kasus, masyarakat lokal justru menjadi pihak yang paling dirugikan. Kehilangan ruang hidup sekaligus akses terhadap sumber daya.

Narasi “hutan sebagai ekonomi masa depan” berisiko menjadi paradoks jika tidak disertai perubahan sistem.

Harga yang Harus Dibayar

Kerusakan hutan bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga ekonomi itu sendiri.

Di Lampung, dampaknya sudah terasa:

  • banjir dan longsor meningkat setiap tahun
  • kerusakan pertanian dan infrastruktur
  • sedimentasi bendungan yang mengancam irigasi
  • konflik manusia dan satwa yang makin sering terjadi

Nilai ekonomi dari kerugian ini seringkali jauh lebih besar dibanding keuntungan jangka pendek dari eksploitasi lahan.

Artinya, kita sebenarnya sedang menghadapi satu kenyataan: ekonomi yang merusak hutan justru merugikan ekonomi itu sendiri.

Baca juga:
* Way Kambas di Persimpangan: Dari Hutan ke Pasar Karbon

Menuju Bioekonomi: Peluang atau Ilusi Baru?

Potensi Ekonomi Hijau Lampung Menggali Emas Hitam Baru di Era Gubernur Mirza - @20250731_130029 Yopie Pangkey
Seorang petani hutan mengelola kebun kemiri agroforestri di Lampung, model ekonomi hijau berbasis karbon dan kesejahteraan desa. (Foto arsip Yopie Pangkey)

Di tengah pergeseran global, muncul satu konsep yang semakin sering dibicarakan: bioekonomi.

Bioekonomi merujuk pada sistem ekonomi yang bertumpu pada sumber daya hayati. Seperti hutan, pertanian, dan keanekaragaman hayati, yang dikelola secara berkelanjutan untuk menghasilkan nilai tambah.

Dalam kerangka ini, hutan tidak lagi dilihat sebagai lahan yang harus ditebang, melainkan sebagai aset yang terus “hidup” dan menghasilkan.

Dari hasil hutan non-kayu, jasa lingkungan, hingga potensi karbon.

Bagi daerah seperti Lampung, bioekonomi seharusnya membuka peluang baru.

Produk seperti kopi hutan, madu, hingga ekowisata berbasis komunitas bisa menjadi bagian dari rantai ekonomi global yang lebih hijau.

Namun pertanyaannya, apakah Lampung benar-benar siap?

Tanpa tata kelola yang kuat, bioekonomi berisiko hanya menjadi istilah baru yang menutupi praktik lama. Di mana sumber daya tetap dieksploitasi, tetapi dengan label yang lebih ramah lingkungan.

Baca juga:
* Apa Itu Bioekonomi? Pengertian, Contoh, Manfaat, dan Potensinya di Indonesia

Harapan dari Perhutanan Sosial

Foto Kemiri dan Masa Depan Agroforestri Lampung - Yopie Pangkey
Hutan kemiri dengan petani yang mengelolanya. (Foto: Yopie Pangkey)

Di tengah tekanan tersebut, muncul satu pendekatan yang mulai berkembang: perhutanan sosial.

Di Lampung, sekitar 209 ribu hektare hutan telah dikelola melalui skema ini

Konsepnya sederhana: memberikan akses kelola kepada masyarakat dengan prinsip keberlanjutan.

Jika dijalankan dengan serius, ini bisa menjadi model ekonomi baru: agroforestri, hasil hutan bukan kayu (HHBK), ekowisata berbasis masyarakat.

Namun tantangannya masih besar: akses belum merata, implementasi belum optimal, tekanan pasar tetap tinggi.

Jadi, Posisi Lampung di Mana?

Lampung saat ini berada di persimpangan.

Di satu sisi memiliki kekayaan hutan, potensi ekonomi hijau, posisi strategis dalam transisi global

Namun di sisi lain deforestasi masih berlangsung, konflik lahan belum selesai, model ekonomi lama masih dominan

Jika tidak ada perubahan, Lampung berisiko hanya menjadi: penyedia sumber daya murah dalam ekonomi global, tanpa banyak menikmati manfaatnya.

Catatan Akhir: Siapa yang Akan Diuntungkan?

Dunia boleh saja menyebut hutan sebagai masa depan ekonomi.

Namun tanpa keadilan dan pengelolaan yang benar, narasi itu bisa berubah menjadi:
sekadar wajah baru dari eksploitasi lama.

Baca juga:
* Kisah Idoy Petani Kemiri: Merawat Hutan, Menghidupi Keluarga

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah hutan penting bagi ekonomi.

Tetapi:
siapa yang akan diuntungkan dari “ekonomi hutan” itu?

Dan bagi Lampung, jawabannya akan ditentukan hari ini. Bukan nanti.

Dunia mulai menghitung nilai ekonomi hutan. Tapi jika kerusakan terus terjadi, siapa yang sebenarnya diuntungkan?

Apakah Lampung akan jadi bagian dari solusi, atau hanya korban dari ekonomi global? Tulis pendapat Anda di kolom komentar.


Penulis: Yopie Pangkey, pemerhati perhutanan Lampung dan travel blogger.

#EkonomiHijau #InvestasiHijau #HutanLampung

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *