Dalam dua tulisan sebelumnya, kita melihat bagaimana ekonomi dari hutan sebenarnya sudah ada, dan bagaimana sistem pengelolaannya telah berkembang di tingkat tapak.
Namun ada satu pertanyaan yang tersisa: mengapa nilai dari semua itu belum benar-benar muncul di pasar?
Masalah Nilai dalam Produk Hutan
Ekonomi dari hutan sebenarnya sudah berjalan. Di banyak tempat, masyarakat mengelola hutan melalui agroforestri, memanen kopi dan kakao di bawah naungan pohon, serta mengembangkan berbagai hasil hutan bukan kayu sebagai sumber penghidupan.
Sistemnya pun sudah terbentuk. Pengelolaan hutan lestari mempertemukan fungsi ekologi dengan produksi, sementara kelembagaan seperti KUPS mulai menghubungkan hasil panen dengan pasar.
Namun ada satu hal yang belum ikut tumbuh bersama semua itu: nilai.
Kopi dari sistem agroforestri seringkali dihargai sama dengan kopi dari sistem yang lebih eksploitatif. Kakao yang ditanam di bawah naungan hutan masuk ke rantai pasar tanpa identitas yang membedakannya.
Produk-produk tersebut kehilangan cerita tentang bagaimana mereka diproduksi, dan dari lanskap seperti apa mereka berasal.
Mengapa Pasar Tidak Melihat Hutan
Masalahnya bukan pada produksi. Masalahnya ada pada bagaimana pasar membaca produksi itu.
Pasar tidak melihat hutan. Pasar hanya melihat komoditas.
Di titik inilah persoalan menjadi lebih jelas. Selama produk dari pengelolaan hutan lestari tidak dapat dibedakan dari produk lain, maka nilai ekologis yang melekat padanya tidak akan pernah benar-benar dihitung.
Insentif untuk menjaga hutan pun menjadi lemah, karena upaya yang dilakukan tidak berbanding lurus dengan nilai yang diterima.
Ketelusuran sebagai Kunci Nilai
Di sinilah ketelusuran, atau traceability, menjadi penting.
Ketelusuran bukan sekadar soal rantai pasok atau pencatatan distribusi. Ini adalah cara untuk menghubungkan kembali produk dengan asal-usulnya—dengan lanskap, dengan cara produksi, dan dengan orang-orang yang mengelolanya.
Melalui ketelusuran, kopi tidak lagi sekadar kopi, tetapi menjadi produk dari sistem agroforestri yang menjaga hutan.
Kakao tidak lagi anonim, tetapi memiliki identitas sebagai hasil dari pengelolaan yang berkelanjutan.
Tanpa itu, hutan akan terus hilang dari pasar, meskipun tetap ada di lapangan.
Ketika ketelusuran mulai dibangun, sesuatu yang berbeda dapat terjadi. Produk menjadi memiliki cerita. Pasar memiliki dasar untuk membedakan.
Nilai tidak lagi hanya ditentukan oleh volume dan kualitas fisik, tetapi juga oleh cara produksi dan dampaknya terhadap lingkungan.
Di titik ini, ekonomi dan ekologi tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Keduanya mulai terhubung melalui mekanisme nilai.
Baca juga:
* Ekonomi Hutan yang Tak Diakui
Dari Produksi ke Identitas Pasar
Namun ketelusuran tidak berdiri sendiri. Ia membutuhkan sistem yang mampu menopangnya.
Di sinilah peran kelembagaan menjadi krusial. KUPS, koperasi, dan berbagai bentuk organisasi petani hutan dapat menjadi simpul yang menghubungkan produksi di tingkat tapak dengan pasar yang lebih luas.
Mereka bukan hanya mengumpulkan hasil, tetapi juga berpotensi menjaga identitas produk, memastikan asal-usulnya tetap terlacak, dan memperkuat posisi tawar petani.
Dalam konteks ini, pendekatan multi usaha kehutanan mulai menunjukkan relevansinya.
Hutan tidak lagi dipahami sebagai sumber satu komoditas, tetapi sebagai ruang produksi yang beragam. Mulai dari hasil hutan bukan kayu, pengolahan hasil, hingga potensi jasa lingkungan.
Pendekatan ini membuka peluang bagi masyarakat untuk tidak bergantung pada satu sumber pendapatan, sekaligus memperkuat posisi mereka dalam rantai nilai.
Namun tanpa kemampuan untuk menghubungkan setiap produk dan jasa tersebut dengan asal-usulnya, nilai yang dihasilkan tetap berisiko tidak terbaca oleh pasar.
Di sisi lain, arah kebijakan sebenarnya telah membuka peluang untuk memperkuat sistem ini.
Upaya pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), reboisasi, dan penguatan perhutanan sosial yang didorong pemerintah daerah—termasuk di bawah kepemimpinan Rahmat Mirzani Djausal—menunjukkan bahwa pendekatan berbasis lanskap semakin mendapat perhatian.
Namun jika berhenti pada aspek teknis, kebijakan tersebut berisiko tidak menyentuh persoalan utama: bagaimana nilai dari pengelolaan hutan dapat benar-benar masuk ke dalam sistem ekonomi.
Baca juga:
* Mengelola Hutan, Membangun Ekonomi: Jalan Sunyi Bioekonomi di Lampung
Di sinilah langkah berikutnya menjadi penting.
Pengelolaan hutan tidak cukup hanya menghasilkan. Ini juga perlu dikenali. Produk tidak cukup hanya diproduksi. Juga perlu memiliki identitas. Dan pasar tidak cukup hanya menyerap. Pasar perlu mampu membedakan.
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah hutan bisa menghasilkan ekonomi. Itu sudah terjadi. Bukan pula apakah masyarakat mampu mengelolanya. Itu juga sudah terbukti.
Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah sistem ekonomi kita mampu melihat dan memberi nilai pada semua itu?
Selama jawabannya belum, maka sebagian nilai dari hutan akan terus hilang. Bukan di pohonnya, tetapi di pasar yang tidak pernah benar-benar mengenalnya.
—
Penulis: Yopie Pangkey, pemerhati perhutanan sosial dan travel blogger.
#EkonomiHutan #BioEkonomi #Agroforestri #HutanLampung #RestorationEconomy #Traceability #Ketelusuran



