Ketika Pariwisata Tak Lagi Sepi
Pariwisata Lampung tengah berada pada fase pertumbuhan yang bagus dan menarik. Aktivitas meningkat, pasar terbuka, dan minat wisatawan terus bergerak. Akhir pekan yang ramai, event yang semakin sering digelar, serta bertambahnya destinasi dan ruang publik menjadi penanda geliat tersebut.
Dari sudut pandang lapangan, Lampung hari ini tidak lagi sepi dari percakapan wisata.
Setelah Ramai, Lalu Apa?
Namun, di titik ini, tantangan pariwisata Lampung bukan lagi soal promosi atau mendatangkan orang. Tantangan berikutnya adalah bagaimana seluruh aktivitas itu disusun sebagai sebuah industri pariwisata yang terintegrasi.
Industrialisasi dalam konteks ini bukan target instan, melainkan proses membangun sistem perjalanan wisata yang mampu menciptakan nilai berulang, memperpanjang lama tinggal, dan memperluas dampak ekonomi secara berkelanjutan.
Keramaian dan Sistem yang Berbeda
Perbedaan antara pariwisata dan industri pariwisata menjadi penting untuk dipahami.
Pariwisata dapat hidup dari kunjungan dan keramaian, tetapi industri pariwisata bekerja ketika perjalanan wisata terangkai sebagai sistem.
Mulai dari akomodasi, transportasi, kuliner, atraksi, hingga pengalaman yang dapat diulang tanpa kehilangan kualitas.
Indikatornya bukan hanya jumlah wisatawan, tetapi lama tinggal, sebaran belanja, dan kecenderungan untuk kembali.
Angka yang Menunjukkan Perubahan
Data terbaru menunjukkan bahwa sektor pariwisata Lampung memang sedang tumbuh secara signifikan.
Sepanjang 2025, jumlah perjalanan wisatawan nusantara dan mancanegara ke Lampung mencapai ≈24,7 juta kunjungan, meningkat sekitar 53,5 persen dibandingkan periode sebelumnya, dan mendorong perputaran ekonomi daerah hingga lebih dari Rp53,11 triliun.
Angka ini menempatkan Lampung sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan kunjungan tertinggi di Pulau Sumatra dan melampaui tren nasional.
Arah yang Mulai Terlihat
Dalam beberapa tahun terakhir, arah kebijakan pariwisata Lampung mulai menunjukkan sinyal yang lebih jelas. Gubernur Lampung Rahmat Mrzani Djausal menempatkan pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah.
Event-based tourism, promosi digital, serta pelibatan UMKM dan komunitas kreatif menjadi fondasi awal yang penting.
Dari lapangan, arah ini terasa: destinasi semakin hidup, ruang interaksi semakin banyak, dan peluang ekonomi lokal mulai terbuka.
Di Balik Geliat, Masih Ada Pekerjaan Rumah
Arah tersebut patut dibaca sebagai fase awal industrialisasi, fase membangun visibilitas dan kepercayaan pasar.
Namun, tantangan struktural masih terlihat. Banyak aktivitas pariwisata masih bergerak secara terfragmentasi.
Event hadir sebagai agenda mandiri, destinasi tumbuh sendiri, sementara konektivitas lintas wilayah dan lintas pengalaman belum sepenuhnya terangkai.
Akibatnya, perjalanan wisata sering kali berhenti pada kunjungan singkat.
Ramai Menginap, Tapi Belum Lama
Meski kunjungan wisatawan ke Lampung terus meningkat, rata-rata lama tinggal masih tergolong pendek. Wisatawan rata-rata hanya menginap sekitar 1,29 hari, menandakan bahwa banyak perjalanan masih bersifat singkat.
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Provinsi Lampung sepanjang tahun 2025 menunjukkan fluktuasi, dengan angka tertinggi mencapai 48,93% pada November dan terendah 40,81% pada Agustus.
Datang Pagi, Pulang Sore
Fenomena wisatawan datang pagi dan pulang sore, atau menginap hanya satu malam, bukan semata persoalan perilaku wisatawan. Ini mencerminkan sistem yang belum sepenuhnya bekerja.
Kemudahan akses, baik jalan tol, penyeberangan, maupun penerbangan, justru dapat memperpendek lama tinggal jika tidak diimbangi dengan kurasi pengalaman dan perjalanan yang terstruktur.
Industrialisasi pariwisata hadir untuk menjawab tantangan ini.
Baca juga:
* Pariwisata Multisektoral: Di Mana Sebenarnya Posisi Kewenangan Pemerintah Provinsi?
Pelajaran dari Perjalanan

(Foto arsip Yopie Pangkey)
Dari pengalaman mengunjungi berbagai daerah di Indonesia, saya melihat industri pariwisata tumbuh bukan dari penambahan agenda, melainkan dari penyusunan pengalaman.
Destinasi dihubungkan dengan waktu, event dikaitkan dengan aktivitas sebelum dan sesudahnya, dan pelaku usaha bergerak dalam satu alur perjalanan.
Pemerintah daerah berperan sebagai pemberi arah dan orkestrator, bukan sebagai pelaksana semua kegiatan.
Mengaitkan yang Terpisah

(Foto arsip Yopie Pangkey)
Dalam konteks Lampung, industrialisasi pariwisata berarti menghubungkan apa yang sudah ada.
Event tidak berhenti sebagai keramaian satu hari, tetapi menjadi pintu masuk perjalanan dua atau tiga hari. Kota dan kabupaten tidak berjalan sendiri, tetapi saling melengkapi.
Wisatawan mandiri tetap dilayani, namun wisata terorganisasi melalui tour operator diperkuat untuk memperpanjang tinggal dan memperluas sebaran belanja.
Saat Kepemimpinan Diuji
Peran kepemimpinan daerah menjadi krusial pada tahap ini. Arah sudah mulai terbaca, modal sosial dan destinasi sudah tersedia, pasar pun nyata.
Tantangan berikutnya adalah konsistensi kebijakan dan kemampuan mengorkestrasi banyak aktor agar bergerak dalam satu sistem industri.
Tanpa itu, pariwisata akan terus hidup sebagai keramaian; dengan itu, pariwisata dapat bekerja sebagai mesin ekonomi yang berkelanjutan.
Baca juga:
* Siapa Wisatawan Lampung, dan Mengapa Tidak Tinggal Lama?
Menata Perjalanan, Bukan Sekadar Meramaikan
Lampung sejatinya telah melangkah ke fase yang lebih matang dalam perjalanan pariwisatanya.
Industrialisasi bukan tentang mengejar target cepat, melainkan tentang memastikan setiap keramaian memiliki kelanjutan, setiap kunjungan memiliki perjalanan, dan setiap potensi memiliki nilai yang tumbuh.
Di sanalah masa depan pariwisata Lampung akan diuji dan dibentuk.
—
Penulis: Yopie Pangkey
Travel Blogger & Pemerhati Pariwisata Lampung



