Lampung Ramai Wisatawan, Lama Tinggal Masih Singkat

Artikel Opini Lampung Ramai Wisatawan Lama Tinggal Masih Singkat - Yopie Pangkey
Suasana ramai di salah satu pantai di Lampung. Ramainya kunjungan wisata masih didominasi perjalanan singkat, sehingga lama tinggal wisatawan belum optimal. (Foto: arsip Yopie Pangkey)

Oleh: Yopie Pangkey
Travel Blogger dan Pemerhati Pariwisata Lampung

Lampung sedang menikmati momentum pariwisata. Jumlah perjalanan wisatawan terus meningkat, perputaran ekonomi menembus puluhan triliun rupiah, dan provinsi ini masuk dalam daftar 10 tujuan wisata nasional yang diminati wisatawan nusantara.

Read More

Secara angka, pariwisata Lampung tampak melaju kencang.

Namun, di balik optimisme tersebut, ada pertanyaan yang kerap saya dengar di lapangan: mengapa wisatawan cepat pulang dan uang yang dibelanjakan masih terbatas?

Tingkat hunian kamar hotel yang belum optimal, rata-rata lama menginap yang masih sekitar satu malam, serta keluhan pelaku usaha lokal menjadi sinyal bahwa pertumbuhan pariwisata belum sepenuhnya berdampak merata.

Ramai Kunjungan, Belum Tentu Berkualitas

Dalam beberapa berita pariwisata akhir-akhir ini, persoalan pariwisata Lampung telah dibahas dari berbagai sisi.

Mulai dari kritik atas pembangunan hotel yang masif tetapi belum diiringi peningkatan lama tinggal, paparan data resmi tentang lonjakan kunjungan dan ekonomi, hingga analisis mengenai paradoks antara pertumbuhan pariwisata dan tekanan yang dialami industri perhotelan.

Dari rangkaian diskusi tersebut, satu benang merah terlihat jelas: jumlah kunjungan belum otomatis berbanding lurus dengan kualitas kunjungan.

Wisatawan memang datang, tetapi banyak yang hanya singgah. Mereka menginap satu malam, mengunjungi satu destinasi utama, lalu melanjutkan perjalanan atau kembali ke daerah asal.

Lama Tinggal dan Uang yang Dibelanjakan

Dalam dunia pariwisata, lama tinggal dan belanja wisatawan adalah dua hal yang saling terkait.

Wisatawan yang tinggal singkat cenderung hanya membelanjakan uang untuk kebutuhan dasar seperti transportasi, makan, dan penginapan.

Sebaliknya, wisatawan yang tinggal lebih lama memiliki peluang lebih besar untuk berbelanja lebih banyak.

Mereka akan belanja produk lokal, mencicipi kuliner khas, mengikuti aktivitas tambahan, hingga menikmati pengalaman berbasis budaya dan alam.

Ketika rata-rata lama menginap di Lampung masih berkisar satu malam, ruang untuk meningkatkan belanja wisata pun otomatis menjadi sempit.

Dampaknya, manfaat ekonomi pariwisata lebih banyak terkonsentrasi pada sektor tertentu dan belum mengalir optimal ke UMKM, desa wisata, serta pelaku ekonomi kreatif.

Baca juga:
* Okupansi Hotel Lampung Naik Tipis, tapi Tren Tahunan Masih Merah

Wisata Bukan Sekadar Datang dan Pergi

Masalah ini tidak bisa dilepaskan dari cara pariwisata Lampung dipresentasikan.

Selama ini, promosi pariwisata di berbagai platform lebih banyak menampilkan destinasi sebagai titik-titik terpisah, bukan sebagai sebuah perjalanan yang utuh.

Padahal, selain mencari tempat untuk dikunjungi, wisatawan juga bisa disuguhkan cerita dan alur perjalanan.

Tanpa panduan yang jelas, wisatawan akan menyusun rutenya sendiri secara singkat dan praktis. Setelah satu tujuan tercapai, perjalanan pun dianggap selesai.

Dalam kondisi seperti ini, wisata berhenti pada aktivitas melihat, bukan mengalami/merasakan. Akibatnya, waktu dan uang yang dibelanjakan menjadi terbatas.

Minim Narasi Perjalanan Wisata

Dalam beberapa tahun terakhir, narasi resmi pariwisata Lampung masih didominasi oleh angka kunjungan, agenda event, dan capaian peringkat.

Yang masih jarang ditemui adalah panduan perjalanan yang menjawab kebutuhan wisatawan secara praktis: harus ke mana setelah hari pertama, aktivitas apa yang bisa dilakukan selama tiga atau empat hari, serta bagaimana menghubungkan satu daerah dengan daerah lain dalam satu perjalanan.

Ketiadaan narasi ini membuat wisatawan tidak terdorong untuk menjelajah lebih jauh dan tinggal lebih lama. Lampung pun kerap diposisikan sebagai daerah persinggahan, bukan destinasi utama.

Mengorkestrasi Perjalanan Wisata

Di titik ini, tantangan pariwisata Lampung bukan lagi sekadar menambah destinasi atau memperbanyak agenda, melainkan mengorkestrasi perjalanan wisata secara terintegrasi.

Wisatawan perlu diarahkan sejak awal tentang bagaimana Lampung dapat dijelajahi dari hari ke hari, destinasi apa yang dikunjungi lebih dulu, ke mana perjalanan berlanjut, dan pengalaman apa saja yang bisa dinikmati di sepanjang perjalanan.

Orkestrasi ini dapat diwujudkan melalui narasi perjalanan lintas wilayah, paket wisata tematik, serta integrasi destinasi dengan pelaku ekonomi kreatif dan UMKM.

Dengan alur yang jelas, wisatawan tidak hanya datang dan pergi, tetapi diajak untuk tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya pada lebih banyak sektor lokal.

Baca juga:
* Membangkitkan Pariwisata Lampung: Solusi Nyata untuk Tiga Kendala Klasik

Dari Transit ke Destinasi Bernilai

Lampung memiliki modal alam, budaya, dan posisi geografis yang strategis sebagai pintu gerbang Sumatera.

Namun, tanpa cerita perjalanan yang kuat dan terintegrasi, modal tersebut belum sepenuhnya menjadi alasan bagi wisatawan untuk berlibur (tinggal) lebih lama.

Ke depan, tantangan pariwisata Lampung bukan semata meningkatkan jumlah kunjungan, melainkan meningkatkan kualitas perjalanan wisata.

Dengan menyusun narasi perjalanan yang terarah dan terintegrasi, Lampung berpeluang naik kelas, dari daerah transit menjadi destinasi bernilai.

Pariwisata yang berkelanjutan tidak hanya diukur dari ramainya wisatawan, tetapi dari seberapa lama mereka tinggal dan seberapa besar manfaat ekonomi yang mereka tinggalkan.

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *