Membaca Arah Angin Investasi Lampung Bukan Sekadar Gerbang Sumatera

Membaca Arah Angin Investasi Lampung Bukan Sekadar Gerbang Sumatera
Membaca arah investasi Lampung: realisasi Rp12,94 triliun, hilirisasi agro, dukungan Gubernur Mirza, Lampung jadi destinasi modal global. (Foto ilustrasi AI)

Selama puluhan tahun, Lampung terjebak dalam narasi “daerah perlintasan”. Ia hanya dianggap sebagai pelataran bagi mereka yang ingin menyeberang ke Jawa atau menuju jantung Sumatera.

Tapi memasuki awal 2026, narasi itu mulai usang. Lampung kini bukan lagi sekadar pintu gerbang, ia jadi destinasi akhir bagi modal global.

Read More

Angkanya bicara sendiri. Per Triwulan III-2025, realisasi investasi di Provinsi Lampung mencapai Rp12,94 triliun, atau 119% dari target tahunan Rp10,76 triliun.

Ini bukan cuma statistik di atas kertas. Ini soal kepercayaan pasar yang mulai bergeser ke arah hilirisasi dari jual mentah ke olahan bernilai tambah.

Mengapa Lampung?

Kalau kita bedah pakai kacamata teori keunggulan kompetitif Michael Porter, Lampung sebenarnya sudah punya empat pilar daya saing: infrastruktur logistik (tol trans-Sumatera dan pelabuhan), populasi besar sebagai pasar (terbesar kedua di Sumatera), ekosistem agroindustri yang kuat, dan iklim investasi yang makin terbuka.

Sektor pertanian yang menyumbang sekitar 26% PDRB atau sekitar Rp150 triliun kini tidak lagi dijual mentah begitu saja.

Hilirisasi ubi kayu jadi tapioka, tebu jadi gula rafinasi, kopi jadi produk ready-to-drink, semua itu jadi magnet utama investor asing.

Buktinya, investasi asing di Triwulan III-2025 saja sudah Rp2,12 triliun. Investor global mulai lihat Lampung sebagai lokasi manufaktur yang efisien dekat bahan baku, infrastruktur oke, biaya lebih rendah dari Jawa.

Peran Krusial Gubernur Mirza

Peran Gubernur Rahmat Mirzani Djausal atau akrab disapa Iyai Mirza dalam kurun 2025-2030 jadi kunci. Ia paham betul bahwa investor itu seperti tamu: harus dijaga, dipermudah, dan dibuat nyaman.

Lewat Lampung Economic Investment Forum (LEIF) 2025, ia berhasil kantongi 15 Letter of Intent (LoI) dari berbagai sektor strategis. Mulai dari PLTS Terapung Way Sekampung sampai pengembangan Terminal Betan Subing.

Yang menarik, Mirza tidak cuma jago retorika.

Kebijakannya konkret: transformasi digital perizinan yang memangkas waktu dan birokrasi, jaminan keamanan infrastruktur, hingga dorongan agar investasi tidak terpusat di Bandar Lampung saja.

Kini, kawasan industri di Lampung Selatan sampai Tanggamus mulai dapat giliran.

Ini bukan soal populisme ekonomi. Ini soal menciptakan ekosistem di mana investor merasa aman, pengusaha lokal punya ruang tumbuh, dan masyarakat dapat manfaat nyata lewat penyerapan tenaga kerja.

Baca juga:
* LEIF 2025: Lampung Buka Peluang Investasi di Sektor Pariwisata, Pangan, dan Energi

Apresiasi untuk yang Bergerak

Keberhasilan ini tentu bukan kerja satu orang. Jajaran Pemprov Lampung, DPMPTSP, hingga pelaku usaha lokal yang terus berinovasi layak dapat apresiasi.

Begitu juga para investor Sugar Group, Great Giant Pineapple, pemain energi baru yang tidak hanya bawa modal, tapi juga serap ribuan tenaga kerja lokal dan transfer teknologi.

Lampung hari ini adalah panggung yang sudah siap. Dengan stabilitas sosial yang terjaga, nakhoda yang paham bahasa pasar, dan infrastruktur yang terus membaik, Lampung tidak lagi hanya menunggu orang lewat.

Ia sedang menjemput masa depannya sendiri sebagai salah satu kekuatan ekonomi baru di Indonesia.

Yang perlu dijaga sekarang: konsistensi. Karena investasi itu seperti tanaman butuh pupuk, air, dan perawatan terus-menerus. Bukan cuma ditanam lalu ditinggal.

*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan

#LampungMaju #GubernurMirza #InvestasiLampung

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *