Pernyataan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal yang akrab disapa Iyai Mirza dalam Kick Off RKPD 2027 beberapa waktu lalu cukup menggelitik.
Beliau bilang, APBD kita itu cuma mengelola sekitar 6% dari total perputaran ekonomi Lampung.
Bayangkan, dari PDRB sekitar Rp520 triliun, APBD kita cuma main-main di angka Rp32 triliun. Sisanya? Ya hampir 94% bergerak sendiri di luar kendali pemerintah.
Nah, ini yang saya sebut sebagai “kebocoran ekonomi.” Pendapatan per kapita kita kelihatannya oke, tapi konsumsi lokal cuma Rp1,3 juta per orang.
Artinya apa? Uang kita, hasil bumi kita, lari keluar daerah. Kok bisa begitu?
Lampung Terjebak di Lingkaran Setan?
Kalau mau pakai bahasa akademis, ini namanya backwash effect dalam teori Circular Cumulative Causation-nya Gunnar Myrdal.
Sederhananya begini: Lampung ini kaya banget sumber daya gabah, kopi, jagung, lada, sawit.
Tapi sayangnya, sebagian besar dikirim keluar dalam bentuk mentah. Akibatnya, yang nikmati nilai tambahnya, yang dapat lapangan kerja dari pengolahannya, ya daerah lain atau bahkan luar negeri.
Kita cuma jadi pemasok bahan baku. Margin keuntungannya tipis. Yang gemuk itu di hilir, di tempat pengolahan. Dan itu semua ada di luar Lampung.
Makanya saya apresiasi langkah Gubernur Mirza yang mulai serius dorong hilirisasi. Kebijakan pembatasan pengiriman gabah mentah keluar daerah itu bukan kebijakan populis kosong.
Ini strategi konkret untuk membalik backwash effect jadi spread effect supaya manfaat ekonomi menyebar di dalam provinsi, bukan bocor keluar.
Kalau ini jalan, potensi yang bisa ditahan diperkirakan sampai Rp13 triliun per tahun. Bukan angka main-main.
Baca juga:
* Membaca Paradoks Ekonomi Lampung Akhir 2025
Apa yang Harus Dilakukan Sekarang?
Visi bagus saja nggak cukup kalau nggak ada eksekusi yang terstruktur. Menurut saya, ada empat hal mendesak yang perlu diperkuat:
Pertama, hilirisasi harus jadi kewajiban, bukan ajakan. Perlu Perda atau Pergub yang tegas: komoditas unggulan wajib diolah di Lampung dulu sebelum diekspor.
Berikan insentif fiskal keringanan pajak, kemudahan perizinan bagi investor yang mau bangun pabrik pengolahan di sini. Jangan sampai investor kabur karena birokrasi ribet atau tidak ada kepastian.
Kedua, data kemiskinan harus akurat dan real-time. Gubernur sudah fokus ke 880 ribu jiwa di desil 1-4, itu bagus. Tapi Satgas Pengentasan Kemiskinan harus punya data yang bener-bener update.
Jangan sampai bansos salah sasaran, atau orang yang sudah naik kelas masih dapat bantuan, sementara yang benar-benar butuh malah terlewat.
Ketiga, Bank Lampung dan BUMD harus jadi penggerak utama. Kalau kita serius soal hilirisasi, UMKM lokal harus dapat akses pembiayaan yang gampang.
Bank Lampung bisa jadi motor utamanya. Jangan biarkan petani atau pengusaha kecil terpaksa jual mentah karena nggak punya modal untuk olah sendiri.
Keempat, bikin dashboard kebocoran ekonomi. Bappeda perlu sistem monitoring khusus: sektor mana yang paling banyak bocor, regulasi mana yang efektif, mana yang cuma jadi pajangan.
Ini penting supaya kebijakan bisa dievaluasi dan diperbaiki secara berkala.
Kepemimpinan yang Menyentuh Akar Masalah
Yang menarik dari Iyai Mirza adalah beliau nggak cuma bicara soal belanja APBD dan proyek fisik.
Beliau paham bahwa pembangunan sejati itu bukan cuma soal infrastruktur, tapi bagaimana uang berputar di dalam provinsi, bagaimana lapangan kerja tercipta, bagaimana nilai tambah tetap tinggal di Lampung.
Baca juga:
* Lampung 2026: Ekonomi Tumbuh 5,7% Ditopang Sektor Hijau dan Kota-Kota Dinamis
Fokus ke 94% ekonomi non-APBD itu strategi cerdas. Karena memang di situlah hajat hidup orang banyak sesungguhnya.
Dan kalau ini didukung penuh oleh DPRD, pelaku usaha, dan masyarakat, target pertumbuhan 8% dan penurunan kemiskinan hingga 5% bukan lagi sekadar angka di dokumen perencanaan.
Itu bisa jadi kesejahteraan nyata yang benar-benar dirasakan rakyat Lampung.
Mari kita kawal bersama. Lampung punya potensi besar. Saatnya kita tutup keran kebocoran itu, dan biarkan ekonomi kita tumbuh dari dalam.
*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan
#LampungMaju #IyaiMirza #HilirisasiLampung



