Ketika Keramaian Bukan Lagi Prestasi Utama
Pariwisata Lampung hari ini tidak lagi bisa dibaca dengan kacamata kekurangan. Kita semua menyaksikan destinasi tumbuh, event berlangsung nyaris tanpa jeda, dan arus wisatawan datang dengan ritme yang semakin terasa.
Di setiap akhir pekan, Lampung hadir sebagai ruang yang hidup. Ramai oleh pergerakan orang, aktivitas, dan peluang ekonomi yang terbuka.
Bahkan, hampir setiap hari muncul artikel wisata di media arus utama maupun unggahan destinasi di media sosial. Semuanya menempatkan Lampung sebagai tujuan singgah, liburan singkat, atau pelarian akhir pekan.
Namun justru di titik inilah fase baru dimulai. Ketika promosi tidak lagi menjadi soal utama, dan kunjungan bukan lagi barang langka, pariwisata memasuki tahap yang lebih menuntut: fase kedewasaan.
Ini adalah fase ketika pertanyaan bergeser, dari “bagaimana mendatangkan orang” menjadi “ke mana semua ini diarahkan”.
Angka yang Bertumbuh, Pertanyaan yang Mengikuti
Data BPS memberi petunjuk bahwa Lampung sedang bergerak cepat. Sepanjang 2025, jumlah perjalanan wisatawan ke Lampung tercatat sekitar 24,7 juta kunjungan, meningkat lebih dari 50 persen dibanding tahun sebelumnya.
Perputaran ekonomi daerah dari sektor ini diperkirakan menembus Rp53 triliun. Angka-angka ini menempatkan Lampung sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan kunjungan tertinggi di Sumatera.
Di ruang digital, saya sangat merasakan gaung itu. Pantai, pegunungan, festival kuliner, hingga desa wisata Lampung silih berganti mengisi linimasa.
Lampung hadir dalam percakapan, dalam rekomendasi, dalam rencana perjalanan singkat banyak orang.
Namun fase dewasa selalu datang dengan konsekuensi. Ketika keramaian telah tercipta, yang diuji bukan lagi kreativitas promosi, melainkan ketegasan arah.
Datang Ramai, Tinggal Singkat
Sebagai pelaku industri wisata sekaligus travel blogger yang kerap berada di lapangan, satu hal terasa jelas: Lampung telah melampaui tahap mencari perhatian.
Wisatawan datang, kamera menyala, cerita tersebar. Tantangan berikutnya bukan lagi visibilitas, melainkan konsistensi pengalaman.
Banyak perjalanan berhenti pada kunjungan singkat—datang pagi, pulang sore, atau menginap satu malam.
Tingkat penghunian hotel berbintang yang sempat menyentuh hampir 59 persen pada puncak musim libur. Ini menunjukkan potensi, tetapi juga mengingatkan bahwa lama tinggal belum tumbuh sebanding dengan lonjakan kunjungan.
Ini bukan semata soal perilaku wisatawan. Data ini mencerminkan sistem perjalanan yang belum sepenuhnya terangkai.
Baca juga:
* Pariwisata Multisektoral: Di Mana Sebenarnya Posisi Kewenangan Pemerintah Provinsi?
Dari Agenda ke Alur Perjalanan
Di sinilah makna fase dewasa menjadi relevan. Pariwisata dewasa menuntut keterhubungan: antar-destinasi, antar-waktu, dan antar-aktivitas.
Saya melihat daerah lain yang sudah lebih dulu “dewasa”. Event tidak lagi berdiri sebagai agenda satu hari, tetapi menjadi pintu masuk perjalanan dua atau tiga hari. Destinasi tidak berjalan sendiri, melainkan saling menguatkan.
Konten media konvensional dan media sosial pun menemukan konteksnya. Bukan sekadar viralitas, tetapi menjadi pintu masuk pengalaman nyata yang bisa diulang, direkomendasikan, dan dikembangkan.
Peran Pemerintah di Fase Dewasa
Pemerintah daerah dalam fase ini diuji bukan sebagai operator, melainkan sebagai kurator dan orkestrator.
Pemerintah memberi arah, menyusun prioritas, dan memastikan banyak aktor (pelaku usaha, komunitas, media, akademisi, dan NGO) bergerak dalam satu kerangka bersama.
Bukan soal menambah agenda, tetapi menyusun alur. Bukan memperbanyak destinasi baru, tetapi memaksimalkan yang sudah hidup.
Menuju Pariwisata yang Tahan Uji
Pariwisata Lampung hari ini sesungguhnya telah memiliki modal penting: pasar yang nyata, destinasi yang beragam, dan perhatian publik yang konsisten.
Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk naik kelas: dari pariwisata berbasis keramaian menuju pariwisata berbasis sistem.
Dari kunjungan menuju perjalanan. Dari euforia menuju ketahanan.
Baca juga:
* Lampung dan Tantangan Industrialisasi Pariwisata
Fase dewasa bukan tentang memperlambat laju, melainkan memastikan setiap langkah memiliki makna lanjutan.
Setiap keramaian memiliki kelanjutan, setiap kunjungan memiliki cerita, dan setiap potensi memiliki nilai yang tumbuh.
Di sanalah masa depan pariwisata Lampung tidak hanya diuji, tetapi juga dibentuk.
—
Penulis: Yopie Pangkey
Travel Blogger & Pemerhati Pariwisata Lampung



