Resep “Jurus 4K” di Balik Jinaknya Inflasi Lampung

Resep Jurus 4K di Balik Jinaknya Inflasi Lampung - Opini Mahendra Utama
Suasana belanja normal di minimarket modern di Lampung. Rak bahan pokok terlihat penuh dan tertata rapi, mencerminkan ketersediaan pasokan serta stabilitas distribusi pangan di daerah. (Foto ilustrasi AI)

Saat banyak daerah di Indonesia ketar-ketir menghadapi lonjakan harga pangan menjelang Ramadan 2026, Provinsi Lampung justru muncul dengan kabar melegakan.

Sekretaris Jenderal Kemendagri memberikan apresiasi khusus: Lampung resmi menduduki peringkat kedua provinsi dengan inflasi terendah secara nasional.

Read More

Capaian ini bukan keberuntungan semata, melainkan hasil dari kebijakan yang terukur dan konsisten.

Bukan Sekadar Angka Statistik

Inflasi memang sering disebut sebagai “pencuri tersembunyi” yang menggerus daya beli masyarakat.

Di tingkat daerah seperti Lampung, inflasi lebih banyak dipengaruhi oleh gejolak harga pangan terutama komoditas yang volatil seperti cabai, bawang, dan minyak goreng.

Keberhasilan Lampung menjaga angka inflasi tetap rendah ketika daerah lain berjuang menahan kenaikan harga menunjukkan satu hal: rantai pasok di Bumi Ruwa Jurai ini sedang dalam kondisi sehat.

Kunci Sukses: Sinergi Gubernur dan TPID

Keberhasilan ini tidak bisa dilepaskan dari peran Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal.

Sejak menjabat, perhatiannya pada Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) sangat serius. Bukan sekadar rutinitas rapat koordinasi, tapi benar-benar dijalankan dengan pendekatan “tanggap darurat” melalui strategi yang disebut 4K :

1. Keterjangkauan Harga

Operasi pasar tidak lagi bersifat seremonial. Di bawah koordinasi Plt. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lampung, Zimmi Skil, pasar murah dilakukan secara tematik dan tepat sasaran langsung menyasar titik-titik rawan gejolak harga.

2. Ketersediaan Pasokan

Sebagai lumbung pangan, Lampung mengoptimalkan potensi lokal. Koordinasi dengan off-taker dan Bulog memastikan stok beras dan hortikultura tidak keburu diekspor keluar daerah sebelum kebutuhan dalam provinsi terpenuhi.

3. Kelancaran Distribusi

Perbaikan infrastruktur jalan di kabupaten/kota yang menjadi jalur logistik pangan terbukti memangkas biaya angkut. Hasilnya? Harga di tingkat konsumen jadi lebih terkendali.

4. Komunikasi Efektif

Transparansi data harga melalui pemantauan harian membuat masyarakat tidak panik. Ekspektasi inflasi terjaga, dan perilaku panic buying pun bisa dihindari.

Apresiasi untuk Pelaksana di Lapangan

Langkah konkret Plt. Kadisperindag Zimmi Skil dalam menggalang distributor besar dan memantau stok minyak goreng secara intensif patut diapresiasi.

Komitmennya memastikan instruksi Gubernur diterjemahkan menjadi aksi nyata di lapangan inilah yang membuat indeks harga konsumen di Lampung tetap stabil.

Apresiasi tertinggi tentu layak diberikan kepada Gubernur Rahmat Mirzani Djausal.

Visinya yang menempatkan stabilitas harga sebagai fondasi kesejahteraan rakyat sudah membuahkan hasil nyata.

Lampung hari ini membuktikan bahwa dengan kepemimpinan yang progresif dan koordinasi lintas sektor yang solid, inflasi bukan lagi momok yang menakutkan.

Baca juga:
* Menembus Batas Fiskal: Strategi “Survival” Lampung Menuju Indonesia Emas 2045

Tantangan ke Depan

Memasuki pertengahan Januari 2026, tantangan sesungguhnya adalah menjaga momentum ini hingga Idulfitri.

Namun, dengan fondasi yang sudah diletakkan oleh Gubernur bersama tim teknis di Disperindag, masyarakat Lampung punya alasan kuat untuk tetap optimis.

Pengendalian inflasi memang bukan pekerjaan satu pihak. Butuh kepemimpinan politik yang kuat dan eksekusi teknis yang lincah. Lampung sudah membuktikannya.

*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan

#InflasiLampung2026 #PengendalianHargaPanganLampung #StrategiTPIDLampung

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *