Meningkatkan jumlah wisatawan, lama tinggal, dan belanja menjadi tujuan ideal pembangunan pariwisata Lampung. Namun, ketiganya tidak selalu bergerak seiring.
Lonjakan kunjungan dalam beberapa tahun terakhir justru menunjukkan paradoks: wisatawan makin ramai, tetapi banyak yang datang dan pergi dalam waktu singkat.
Untuk menjawab paradoks ini, kita perlu terlebih dahulu mengenali siapa wisatawan Lampung hari ini.
Dalam dua tulisan sebelumnya, telah dibahas bagaimana Lampung mengalami pertumbuhan kunjungan yang signifikan, tetapi masih menghadapi persoalan pendeknya lama tinggal wisatawan.
Artikel ini melanjutkan diskusi tersebut dengan satu pertanyaan mendasar: apakah rendahnya lama tinggal semata-mata kegagalan destinasi, atau cerminan karakter wisatawan yang datang?
Wisatawan Lampung Tidak Tunggal
Kesalahan paling umum dalam membaca kinerja pariwisata Lampung adalah memperlakukan wisatawan sebagai satu kelompok homogen.
Padahal, wisatawan yang datang ke Lampung sangat beragam, dengan motivasi, pola perjalanan, dan perilaku belanja yang berbeda-beda.
Secara sederhana, wisatawan Lampung dapat dibagi ke dalam tiga kelompok besar: wisata massal, wisata menengah, dan wisata minat khusus.
Masing-masing berkontribusi secara berbeda terhadap tiga target utama pariwisata: jumlah, lama tinggal, dan belanja.
Pembagian ini tidak dimaksudkan untuk mengkotakkan asal daerah wisatawan, melainkan untuk membaca kesamaan pola perjalanan yang terbentuk di lapangan.
Wisata Massal: Singkat Tinggal, Uang Berputar Luas
Kelompok terbesar adalah wisata massal, yang banyak terlihat pada wisatawan dari Sumatera Selatan (Sumsel).
Kehadiran Jalan Tol Trans Sumatera yang menghubungkan Bakauheni hingga Palembang membuat perjalanan menjadi sangat mudah.
Banyak wisatawan yang sebelumnya harus menginap, dengan akses lancar, bisa berwisata cukup satu hari.
Mereka datang pagi hari, menikmati pantai, berwisata kuliner di kafe dan restoran Bandar Lampung, lalu kembali ke daerah asal pada malam hari.
Pola ini menjadikan Lampung sebagai destinasi wisata harian. Lama tinggalnya singkat, bahkan tanpa menginap.
Namun, bukan berarti dampak ekonominya kecil. Justru dari kelompok inilah perputaran uang terjadi secara luas—mulai dari parkir, kuliner, oleh-oleh, hingga jasa transportasi lokal.
Wisata massal sering dipandang sebagai wisata “murah” dan kurang berkualitas. Padahal, secara agregat, kelompok inilah yang menjadi tulang punggung ekonomi pariwisata Lampung.
Wisata Menengah: Dua Hari Satu Malam yang Bisa Diperpanjang
Kelompok berikutnya adalah wisatawan dari Jabodetabek dan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel). Mereka umumnya datang pada akhir pekan dengan pola dua hari satu malam.
Sabtu pagi tiba di Lampung, langsung menuju pantai atau pulau, menginap satu malam, lalu melanjutkan wisata sebelum kembali pada Minggu sore atau malam.
Kelompok ini sebenarnya sudah bersedia menginap dan membelanjakan uang lebih banyak. Tantangannya bukan meyakinkan mereka datang, melainkan mendorong agar masa tinggalnya bertambah.
Itinerary yang terlalu padat, biaya transportasi antardaerah yang tinggi, serta minimnya narasi perjalanan membuat wisata mereka efisien, tetapi melelahkan.
Dengan intervensi kecil—seperti paket tematik, pengalaman sore atau malam hari, dan pengelompokan destinasi—kelompok ini berpotensi menambah satu malam tinggal.
Wisata Minat Khusus: Lama Tinggal Panjang, Dampak Mendalam
Di luar dua kelompok besar tersebut, terdapat wisatawan minat khusus, seperti peselancar mancanegara di Pesisir Barat atau wisatawan ekowisata di Taman Nasional Way Kambas dan Bukit Barisan Selatan.
Jumlah mereka memang kecil, tetapi lama tinggalnya bisa mencapai satu hingga beberapa pekan.
Wisatawan jenis ini bersedia membayar mahal untuk pengalaman yang spesifik dan autentik. Dampaknya tidak masif, tetapi dalam dan berjangka panjang, termasuk terhadap citra destinasi.
Namun, wisata minat khusus tidak bisa dimassalkan dan memerlukan ekosistem yang matang, bukan sekadar promosi.
Tantangan: Satu Strategi untuk Semua
Persoalan muncul ketika ketiga segmen wisatawan ini dikelola dengan pendekatan yang sama.
Pembangunan hotel yang masif, tarif yang tinggi, minimnya kerja sama lintas pelaku, serta promosi yang bersifat umum membuat potensi masing-masing segmen tidak terkelola optimal.
Akibatnya, wisata massal sulit didorong untuk menginap, wisata menengah tidak naik lama tinggalnya, dan wisata minat khusus tumbuh lambat.
Membaca Wisatawan sebelum Membaca Angka
Menaikkan jumlah kunjungan, lama tinggal, dan belanja wisatawan tetap penting.
Namun, ketiganya tidak dapat dipaksakan dengan satu resep kebijakan. Setiap segmen memerlukan strategi berbeda dan saling melengkapi.
Tantangan pariwisata Lampung bukan sekadar menaikkan indikator statistik, melainkan memahami perilaku wisatawannya.
Tanpa pemahaman itu, angka mungkin terus naik, tetapi dampak ekonomi dan kualitas destinasi tidak akan tumbuh sebanding.
—
Penulis: Yopie Pangkey
Travel Blogger dan Pemerhati Pariwisata Lampung



