Ancaman banjir, degradasi lingkungan, dan konflik tata ruang di Lampung tak bisa lagi dipandang sebagai persoalan sektoral semata.
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan perencanaan lanskap yang terintegrasi dinilai menjadi kunci menjaga ketahanan wilayah dari hulu hingga hilir, terutama di tengah tekanan perubahan iklim dan laju pembangunan yang kian masif.
Isu tersebut mengemuka dalam Webinar Nasional Forestry & Environment Series #1 yang diselenggarakan Pengda IKA SKMA Lampung bekerja sama dengan BPDAS Way Seputih–Way Sekampung (BPDAS WSS) serta Forum DAS Provinsi Lampung, Selasa (10/2/2026).
Kegiatan berskala nasional ini diikuti 298 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari akademisi, praktisi kehutanan dan lingkungan, pemerintah daerah, mahasiswa, hingga pemerhati isu ekologis.
Mengusung tema “DAS dan Perencanaan Lanskap: Membangun Ketahanan Wilayah dari Hulu ke Hilir”, webinar ini menekankan pentingnya pendekatan terpadu dalam menghadapi meningkatnya risiko bencana hidrometeorologis akibat perubahan iklim.
DAS sebagai Fondasi Pembangunan Wilayah
Sebagai keynote speaker, Kepala BPDAS Way Seputih–Way Sekampung, Dr. Irwan Valentinus Sihotang, S.P., M.Si., menegaskan bahwa DAS harus ditempatkan sebagai satuan dasar dalam perencanaan pembangunan wilayah.
Menurutnya, pengelolaan DAS tidak dapat dibebankan hanya pada sektor kehutanan. Dibutuhkan sinergi lintas sektor serta pendekatan lanskap yang mampu menyelaraskan aspek ekologis, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan.
“Tanpa menjadikan DAS sebagai dasar perencanaan, pembangunan berisiko memperbesar kerentanan wilayah, terutama di kawasan hilir,” ujarnya.
Pola Hujan Berubah, Risiko Meningkat
Dalam sesi pemaparan ilmiah, Prof. Dr. Slamet Budiyowono, MS, mengungkapkan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar proyeksi, melainkan realitas yang telah berlangsung.
Berdasarkan riset sejak 2007 dan analisis data iklim selama tiga dekade terakhir, ia menemukan bahwa total curah hujan tahunan relatif stabil, namun pola distribusinya berubah signifikan.
Jumlah hari hujan cenderung berkurang, sementara intensitas hujan meningkat ketika hujan terjadi.
Kondisi ini dinilai berisiko terhadap stabilitas tata air DAS dan berpotensi memicu banjir, khususnya di wilayah yang pengelolaan DAS-nya belum optimal.
“Yang berubah bukan sekadar jumlah hujannya, tetapi cara hujan itu turun. Intensitas tinggi dalam waktu singkat menjadi ancaman serius bagi wilayah dengan pengelolaan DAS yang lemah,” kata Prof. Slamet.
Lanskap Sehat, DAS Kuat
Sementara itu, praktisi kehutanan Ir. Ashadi Maryanto, S.Hut., M.Si., IPM, menyoroti eratnya keterkaitan antara perencanaan lanskap dan kesehatan DAS.
Ia menjelaskan bahwa lanskap yang direncanakan dengan baik akan menghasilkan DAS yang sehat, dan sebaliknya.
Menurutnya, banyak bencana hidrometeorologis yang terjadi saat ini bukan semata faktor alam, melainkan juga akibat pemanfaatan ruang yang belum sepenuhnya berbasis karakteristik DAS.
Ashadi menekankan bahwa pengelolaan DAS tidak bisa lagi mengandalkan solusi tunggal seperti penanaman pohon.
Intervensi yang dibutuhkan harus bersifat terpadu, mencakup pendekatan vegetatif dan struktural.
Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain pembangunan sumur resapan, infrastruktur pengelolaan air hujan (IPAH), taman DAS, kolam retensi, embung, serta penguatan ruang terbuka hijau dan sabuk hijau di kawasan strategis.
Langkah-langkah tersebut dinilai penting untuk memperlambat limpasan permukaan dan mengurangi tekanan terhadap wilayah hilir.
“Setiap DAS memiliki karakteristik unik. Tidak ada satu resep yang bisa diterapkan seragam. Solusi harus kontekstual dan berbasis data,” tegasnya.
Rangkaian Hari Bakti Rimbawan 2026
Pada kesempatan yang sama, Ketua IKA SKMA Pengda Lampung, Maman Permana, S.P., menjelaskan bahwa Webinar Forestry & Environment Series merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Bakti Rimbawan 2026 yang diperingati setiap Maret.
Karena bertepatan dengan hari libur nasional dan Idulfitri, rangkaian kegiatan dimulai lebih awal melalui pelaksanaan webinar berseri sejak Februari 2026.
Rencananya, rangkaian webinar akan terdiri dari empat seri. Setelah seri pertama yang membahas DAS dan perencanaan lanskap, Series #2 akan mengangkat isu konflik manusia dan satwa liar, Series #3 membahas agroforestry dan ekonomi hijau, serta Series #4 menyoroti perhutanan sosial dan konflik tenurial.
Kegiatan ini terbuka untuk umum dan peserta akan memperoleh sertifikat. Informasi lanjutan dapat diikuti melalui akun Instagram resmi IKA SKMA Pengda Lampung.
Melalui rangkaian kegiatan ini, penyelenggara berharap kesadaran publik terhadap pentingnya pengelolaan DAS sebagai fondasi pembangunan wilayah semakin menguat, sekaligus mendorong kolaborasi lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan ruang hidup manusia dari hulu hingga hilir.



