Lampung berada di persimpangan penting. Di satu sisi, tekanan terhadap hutan dan daerah aliran sungai (DAS) masih nyata. Di sisi lain, kebutuhan ekonomi masyarakat desa, khususnya petani hutan, tidak bisa ditunda.
Dalam konteks inilah, kakao agroforestri menemukan relevansinya: sebagai praktik ramah lingkungan yang memberi ruang bagi penghidupan sekaligus menjaga lanskap.
Berbeda dari pendekatan pembangunan yang memisahkan produksi dan konservasi, praktik agroforestri kakao di Lampung justru mempertemukan keduanya.
Kakao ditanam sebagai sumber penghidupan, sementara struktur kebun berlapis menjaga tutupan lahan, air, dan kesuburan tanah.
Model ini mencerminkan prinsip keberlanjutan, di mana manfaat ekonomi tidak dibangun dengan mengorbankan fungsi ekologis.
Ketika Produksi Bertemu Konservasi
Agroforestri kakao memperlihatkan bahwa kegiatan ekonomi tidak selalu identik dengan degradasi lingkungan.
Di kawasan perhutanan sosial, kepastian kelola lahan memberi ruang bagi petani untuk menanam tanaman tahunan tanpa penebangan atau alih fungsi lahan.
Kebun kakao menjadi bagian dari upaya menjaga tutupan hutan, sekaligus bentuk rehabilitasi lanskap yang bersifat produktif dan ramah lingkungan.
Pandangan ini sejalan dengan arah kebijakan Pemerintah Provinsi Lampung. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan bahwa penyelamatan daerah aliran sungai merupakan fondasi pembangunan wilayah.
“Kita sadar daerah aliran sungai harus kita selamatkan untuk mendukung pembangunan Provinsi Lampung. Mitigasi bencana seperti banjir dan kekeringan harus dimulai dari upaya menjaga dan memulihkan DAS kita,” ujar Mirza.
Dalam kerangka tersebut, agroforestri kakao dapat dibaca sebagai bagian dari strategi pemulihan DAS yang berjalan bersamaan dengan aktivitas ekonomi rakyat.
Wanatani ini tidak hadir sebagai program simbolik, melainkan praktik nyata yang menjaga fungsi hidrologis sekaligus menopang penghidupan.
Prinsip serupa juga terlihat dalam agenda pemulihan DAS Lampung melalui kolaborasi pemerintah, komunitas, dan sektor swasta.
Reboisasi tidak ditempatkan sebagai kegiatan seremonial, melainkan fondasi jangka panjang bagi keberlanjutan lingkungan dan ekonomi wilayah.
Dalam konteks ini, agroforestri kakao dapat dipahami sebagai reboisasi yang memberi nilai tambah langsung bagi masyarakat.
Baca juga:
* Apa Untungnya Kakao Agroforestri bagi Petani dan Lingkungan?
* Dari Rakor DAS ke Aksi, Gubernur Mirza Satukan CSR dan Komunitas untuk Reboisasi Lampung
Kolaborasi sebagai Fondasi Keberlanjutan
Ekonomi hijau tidak mungkin berjalan jika hanya ditopang oleh satu aktor. Praktik kakao agroforestri di Lampung menunjukkan pentingnya kolaborasi antara petani, pengelola kawasan, pendamping lapangan, akademisi, hingga sektor swasta.
Hal ini sejalan dengan penekanan Gubernur Mirza mengenai pentingnya gerak bersama lintas sektor dalam menjaga ekosistem.
“Kita harus bergerak bersama dan memiliki semangat yang sama. Program penyelamatan DAS ini harus melibatkan seluruh pihak agar hasilnya optimal,” tegasnya.
Legalitas lahan dan pendampingan membuka jalan bagi praktik usaha tani yang lebih tertata dan berorientasi mutu.
Di sinilah prinsip Good Agricultural Practices (GAP) mulai menemukan konteksnya.
Bukan sebagai standar teknis yang kaku, melainkan sebagai proses belajar untuk memastikan kebun dikelola secara bertanggung jawab, baik terhadap lingkungan maupun pasar.
GAP menjadi jembatan antara praktik lokal dan tuntutan keberlanjutan global.
Data, Pengakuan, dan Tantangan Membaca Sistem Agroforestri
Meski praktiknya berjalan, agroforestri masih menghadapi tantangan dalam pengakuan data. Sistem kebun campuran sering kali tidak terbaca utuh dalam statistik resmi yang cenderung melihat produksi secara monokultur.
Akibatnya, kontribusi agroforestri terhadap keberlanjutan ekonomi dan lingkungan kerap luput dari perhitungan kebijakan.
Padahal, tidak tertutup kemungkinan bahwa sebagian produksi kakao Lampung selama ini justru ditopang oleh sistem agroforestri yang ramah lingkungan.
Tantangan ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya soal praktik di kebun, tetapi juga cara negara membaca dan mengakui sistem produksi rakyat.
Generasi Muda dan Masa Depan Agroforestri
Keberlanjutan agroforestri kakao juga sangat ditentukan oleh regenerasi petani. Di banyak kawasan perhutanan sosial, generasi kedua dan ketiga mulai mengambil peran.
Mereka membawa akses pada informasi, pelatihan, dan pemahaman GAP yang lebih baik, sehingga agroforestri tidak berhenti sebagai tradisi, tetapi berkembang sebagai usaha yang relevan dengan masa depan.
Pelatihan lintas lembaga dan pendekatan kawasan memperkuat proses ini. Agroforestri tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari sistem ekonomi hijau yang terhubung dengan kebijakan, pasar, dan pengetahuan.
Baca juga:
* Kakao Agroforestri: Mengapa Lampung Menjadi Laboratorium Penting
Lampung sebagai Laboratorium Ekonomi Hijau
Lampung belum sempurna. Tantangan pascapanen, harga, dan kelembagaan masih ada.
Namun justru karena itu, Lampung layak dibaca sebagai laboratorium ekonomi hijau. Tempat praktik ramah lingkungan, keberlanjutan, dan pembelajaran berjalan bersamaan.
Kakao agroforestri menunjukkan bahwa menjaga hutan dan menggerakkan ekonomi desa bukan dua tujuan yang saling meniadakan.
Ketika kebun, kebijakan, dan kolaborasi bertemu, ekonomi hijau Lampung tidak lagi sekadar wacana, melainkan proses yang sedang tumbuh di lapangan.
—
Penulis: Yopie Pangkey, travel blogger dan pemerhati perhutanan sosial Lampung.



