Penerbangan perdana Lampung–Kuala Lumpur (TKG–KUL) pada Februari 2026 disambut gegap gempita. Spanduk promosi digital tersebar, optimisme digembar-gemborkan: ekonomi Lampung disebut akan “meledak”.
Namun di balik seremoni itu, publik layak bertanya lebih jujur dan tenang: apakah penerbangan langsung ini benar-benar kebutuhan, atau sekadar simbol bahwa Lampung ingin terlihat internasional?
Pertanyaan ini penting, karena pariwisata dan penerbangan bukan urusan gengsi. Keduanya adalah bisnis berbasis permintaan, bukan sekadar status atau keinginan politik.
Status Internasional Bukan Jaminan
Bandara Radin Inten II memang telah kembali berstatus bandara internasional. Namun status administratif tidak otomatis melahirkan penumpang.
Banyak bandara daerah di Indonesia menyandang label internasional, tetapi rute luar negerinya mati suri karena satu sebab klasik: tidak cukup penumpang yang mau dan mampu terbang secara rutin.
Memang benar ada teori bahwa akses menciptakan pasar. Namun, dalam industri penerbangan yang marginnya tipis, maskapai tidak bisa selamanya ‘membakar uang’ demi menunggu pasar terbentuk jika fondasi wisatanya sendiri belum siap.
Maskapai hidup dari kursi terisi, bukan dari seremoni. Jika tingkat keterisian rendah, rute akan ditutup, cepat atau lambat.
Belajar dari Tetangga Sendiri
Di Sumatera bagian selatan, sebenarnya kita tidak kekurangan contoh. Palembang, misalnya, sudah lebih dulu memiliki penerbangan langsung ke Kuala Lumpur dan Singapura.
Rute itu bertahan karena ada pasar yang jelas: perjalanan bisnis, keluarga, umrah, dan koneksi internasional lanjutan.
Batam bahkan lebih ekstrem. Kota itu tidak menjual mimpi, tetapi menjual akses. Wisatawan Singapura dan Malaysia datang karena dekat, murah, dan mudah.
Tidak semua daerah perlu meniru Batam, tetapi pelajarannya jelas: konektivitas harus mengikuti arus orang, bukan sebaliknya.
Lampung berada di posisi unik. Lampung dekat dengan Palembang, terhubung oleh kereta api dan bus antarkota.
Artinya, Lampung sebenarnya bisa menikmati manfaat penerbangan internasional Palembang dan Batam tanpa harus memikul risiko membuka rute sendiri terlalu dini.
Baca juga:
* Lampung dan Tantangan Industrialisasi Pariwisata
Pariwisata Tidak Harus Selalu Nonstop
Ada anggapan keliru bahwa pariwisata Lampung baru maju jika ada penerbangan langsung internasional. Padahal, di banyak kawasan dunia, pariwisata tumbuh lewat pola perjalanan regional.
Wisatawan Malaysia bisa terbang ke Palembang, lalu melanjutkan perjalanan darat ke Lampung. Paket wisata bisa dirancang lintas provinsi: Palembang–Lampung–Selat Sunda. Model seperti ini lazim di Eropa dan Asia Tenggara.
Pariwisata bukan soal dari mana pesawat mendarat, tetapi apa yang ditawarkan setelah wisatawan tiba.
Tanpa Unique Selling Point yang kuat, seperti kelas dunia yang ditawarkan Krui atau Way Kambas, penerbangan langsung hanya akan menjadi kemudahan akses menuju destinasi yang belum siap bersaing.
Umrah: Pasar Nyata yang Terlupakan
Jika bicara penerbangan internasional yang benar-benar jelas pasarnya, Lampung justru punya modal kuat di sektor umrah dan haji.
Ribuan jamaah setiap tahun berangkat dari Lampung, namun sebagian besar harus transit ke Jakarta atau daerah lain.
Menguatkan Bandara Radin Inten II sebagai embarkasi umrah, bahkan bertahap untuk haji, adalah strategi yang jauh lebih masuk akal. Pasarnya nyata, rutin, dan terukur.
Trafik umrah yang stabil dapat menjadi ‘jangkar’ atau napas bagi ekosistem bandara.
Dengan begitu, maskapai memiliki bantalan ekonomi yang kokoh sambil perlahan membangun kepercayaan untuk rute internasional komersial lainnya.
Dari sinilah data trafik bisa dikumpulkan dan ekosistem bandara dibangun.
Ironisnya, pasar yang jelas ini sering kalah sorotan dibanding rute internasional yang lebih “keren” di atas kertas.
IMT-GT: Kerja Sama yang Sering Dilupakan
Dalam kerangka kerja sama IMT-GT (Indonesia–Malaysia–Thailand Growth Triangle), pariwisata seharusnya dikembangkan secara terintegrasi lintas wilayah, bukan berdiri sendiri-sendiri.
Lampung tidak harus bersaing dengan Palembang atau Batam. Justru sebaliknya, Lampung bisa menjadi kepingan penting dalam ekosistem pariwisata regional Sumatera bagian selatan yang terhubung dengan Malaysia.
IMT-GT bukan tentang siapa punya bandara dengan penerbangan internasional paling banyak, tetapi siapa paling cerdas membaca arus perjalanan manusia.
Baca juga:
* Bandara Internasional Tanpa Ekosistem?
* Jika Pariwisata Adalah Industri, Siapa Produsennya?
Logika yang Lebih Tahan Lama
Mungkin jalannya tidak segegap gempita penerbangan perdana. Tidak ada pita yang dipotong, tidak ada foto viral. Tetapi jalan yang lebih sunyi sering kali lebih tahan lama.
Fokus pada pasar umrah, manfaatkan penerbangan internasional Palembang dan Batam, bangun paket wisata regional, perkuat transportasi darat. Itulah kerja nyata pariwisata.
Jika suatu hari permintaan benar-benar kuat, penerbangan langsung Lampung–Kuala Lumpur akan datang dengan sendirinya. Bukan karena dipaksakan, tetapi karena dibutuhkan.
Dan dalam pariwisata, yang dibutuhkan pasar selalu lebih penting daripada yang diinginkan oleh seremoni.
—
Penulis: Yopie Pangkey
Travel Blogger & Pemerhati Pariwisata Lampung




Sebenarnya kalau ada maskapai yg terbang dari Lampung langsung Madinah atau jedah, tentu jamaah umrah lebih suka dari pada harus transit ke jakarta dulu,