Mengembalikan Kejayaan Kakao Pesawaran dengan Rehabilitasi dan GAP pada Areal Perhutanan Sosial

Mengembalikan Kejayaan Kakao Pesawaran dengan Rehabilitasi dan Good Agricultural Practices GAP pada Areal Perhutanan Sosial - Yopie Pangkey
endamping Perhutanan Sosial di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Pesawaran Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Beny Kurniawan, saat mempraktekkan teknik penyambungan kakao di Hkm Pujo Makmur. (Foto: Yopie Pangkey)

Kakao pernah menjadi komoditas unggulan di Lampung, termasuk di Kabupaten Pesawaran. Namun, seiring berjalannya waktu, produksi kakao di wilayah ini mengalami penurunan akibat berbagai kendala, seperti serangan hama, minimnya penerapan Good Agricultural Practices (GAP), serta kurangnya pendampingan kepada petani.

Kini, upaya untuk mengembalikan kejayaan kakao di Pesawaran kembali digaungkan melalui program rehabilitasi tanaman kakao yang sudah berusia diatas 25 tahun dan pendampingan intensif bagi petani kakao di kawasan Perhutanan Sosial.

Read More

Beny Kurniawan, seorang pendamping Perhutanan Sosial di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Pesawaran Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, menjadi salah satu tokoh kunci dalam upaya ini. Lulusan jurusan kehutanan Universitas Lampung (Unila) ini telah mengabdikan dirinya selama dua tahun dalam mendampingi petani hutan di Pesawaran.

Menurutnya, kunci keberhasilan dalam meningkatkan kembali produksi kakao terletak pada penerapan praktik pertanian yang baik serta keberlanjutan ekosistem hutan.

“Di tingkat petani, yang paling dibutuhkan adalah pendampingan dalam penerapan Good Agricultural Practices,” Beny menceritakan pada publikasilampung.id, Kamis (6/2/2025) sore.

“Pemangkasan, sanitasi lahan, pemupukan, hingga penyemprotan harus dilakukan dengan benar agar tanaman kakao bisa tumbuh optimal dan terhindar dari serangan hama serta penyakit,” terangnya.

Upaya Nyata dalam Meningkatkan Produksi Kakao di Areal Perhutanan Sosial

pendamping Perhutanan Sosial Kesatuan Pengelolaan Hutan KPH Pesawaran Beni Kurniawan
Beny Kurniawan saat mengikuti pelatihan di Cocoa Academy & CDC Luwu Timur, Sulawesi Selatan. (dok pribadi)

Saat ini, berbagai langkah telah dilakukan untuk merehabilitasi lahan kakao di kawasan Perhutanan Sosial. Petani mulai menerapkan teknik sambung samping, sambung chupon (tunas), serta melakukan replanting dengan varietas unggulan seperti MCC 02, BB 01, dan ICRI 09. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas serta produktivitas kakao di Pesawaran.

Selain itu, KPH Pesawaran juga mengirim Beny sebagai tenaga pendamping Perhutanan Sosial untuk mengikuti pelatihan di MARS Cocoa Development Center (MARS Cocoa Academy) di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, selama satu bulan.

Program ini bertujuan untuk mencetak tenaga pendamping yang memiliki keahlian khusus dalam budidaya kakao, sehingga mereka bisa memberikan bimbingan yang lebih efektif kepada petani di lapangan.

“Dengan bekal ilmu dari MARS Cocoa Academy, kami berharap pendampingan terhadap petani kakao di Pesawaran bisa lebih maksimal,” Beny berharap.

“Petani harus paham bagaimana menangani tanaman mulai dari pembibitan, perawatan, hingga pasca panen,” imbuhnya.

Baca juga:
* Keseimbangan Alam: Kunci Pengendalian Hama di Hutan Lampung

Optimisme di Tengah Tantangan

Salah satu daerah yang saat ini menjadi fokus rehabilitasi kakao adalah Hutan Kemasyarakatan (HKm) Pujo Makmur.

Terdapat sekitar 247 petani hutan yang mengelola lahan seluas 543 hektare, dengan sekitar 65% di antaranya ditanami kakao pada strata tajuk tengah agroforestri.

Seiring dengan upaya rehabilitasi, semakin banyak petani yang mulai bersemangat untuk mengembangkan kembali kakao mereka.

Pendataan e-STDB yang dilakukan oleh KPH Pesawaran juga mencatat adanya 1.472,59 hektare lahan yang telah teridentifikasi. Data ini sangat penting untuk mendukung legalitas serta keberlanjutan pengelolaan kakao di kawasan hutan sosial.

Perlu diketahui, verifikasi lapangan dan pengukuran lahan PS di Kabupaten Pesawaran ini juga menjadi yang pertama dilakukan di Indonesia. Memastikan petani perhutanan sosial di Lampung diakui secara legal, juga siap bersaing di pasar global.

Untuk mendukung proses peremajaan kakao di wilayah dampingannya yang udah terdata di e-STDB ini, Beny telah menyiapkan 3.000 polybag.

Saat ini, sudah tersedia sekitar 1.500 bibit kakao yang siap dijual kepada petani yang ingin memperluas atau memperbarui kebunnya.

Meningkatkan Nilai Tambah Kakao Petani

Selain dari aspek budidaya, penting juga untuk meningkatkan nilai tambah kakao bagi petani. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah masih banyaknya petani yang menjual kakao dalam kondisi basah, sehingga harga jualnya lebih rendah.

Padahal, jika mereka bersedia menunggu tiga hingga empat hari untuk proses fermentasi, harga kakao bisa meningkat secara signifikan.

“Salah satu hal yang perlu disosialisasikan ke petani adalah pentingnya penanganan pasca panen. Kakao yang difermentasi memiliki kualitas lebih baik dan dapat dihargai lebih tinggi di pasar,” jelas Beny.

Dengan adanya upaya rehabilitasi, pendampingan, serta peningkatan kualitas budidaya dan pasca panen, optimisme untuk mengembalikan kejayaan kakao di Pesawaran semakin tinggi.

Baca juga:
* Petani Hutan Sosial Lampung Siap Hadapi EUDR, Dishut Perjuangkan eSTDB

Sinergi antara petani, pendamping, serta instansi terkait diharapkan bisa membawa kakao Pesawaran kembali bersaing di pasar nasional maupun internasional.

“Melihat semangat petani dan dukungan yang terus diberikan, saya optimis kakao di Pesawaran bisa bangkit kembali,” kata Beny penuh keyakinan.

“Jika dilakukan dengan konsisten, kita bisa membawa Lampung kembali menjadi salah satu daerah penghasil kakao unggulan di Indonesia,” tutup Beny.

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *