Cinta Nabi Taat Syariat: Momentum Meneladan Rasulullah SAW di Tengah Krisis Kepemimpinan

Cinta Nabi Taat Syariat - Momentum Meneladani Rasulullah SAW di Tengah Krisis Kepemimpinan - Timbul Priyadi
Timbul Priyadi, Praktisi Hukum dan Pemerhati Peradilan. (Foto: dok pribadi)

Oleh : Timbul Priyadi

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar acara tahunan. Lebih dari itu, Maulid adalah momentum untuk meneguhkan kecintaan kita kepada Rasulullah dengan meneladan kepemimpinan dan akhlaknya.

Read More

Allah SWT menegaskan:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

Cinta Nabi adalah Mengikuti Jejaknya

Cinta sejati kepada Rasulullah SAW tidak berhenti pada ucapan selawat atau perayaan semata. Cinta itu diwujudkan dengan mengikuti syariat yang beliau bawa. Nabi Muhammad SAW adalah sosok teladan yang paripurna—seorang pemimpin negara yang adil, panglima perang yang berstrategi, kepala keluarga yang penuh kasih, sekaligus pribadi sederhana yang merakyat.

Meneladan beliau berarti menghidupkan sunnah, mengamalkan Al-Qur’an—sebagaimana kesaksian Aisyah RA: “Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an” (HR. Muslim, No. 746). Rasulullah juga menanamkan empat sifat utama: siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathanah (cerdas).

Pemimpin Masa Kini

Di tengah krisis moral dan integritas yang sering kita lihat pada sebagian pemimpin masa kini—korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, hingga lemahnya kepedulian pada rakyat—kepemimpinan Rasulullah SAW memberikan cermin yang jernih.

  • Rasulullah jujur dan amanah, sementara sebagian pemimpin hari ini terjebak pada janji politik tanpa realisasi.
  • Rasulullah hidup sederhana, bahkan tidur di atas tikar kasar (HR. Bukhari No. 4913), sementara banyak pejabat tenggelam dalam kemewahan.
  • Rasulullah mendengar rakyat kecil, sedangkan banyak pemimpin hari ini lebih sibuk melayani kepentingan elite.
  • Rasulullah menegakkan keadilan tanpa pandang bulu (HR. Bukhari No. 6788; Muslim No. 1688), sementara kini kecenderungan hukum sering tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

Inilah ironi zaman. Kita memperingati Maulid Nabi, tetapi masih membiarkan kepemimpinan jauh dari nilai-nilai beliau.

Islam Kaffah, Pemimpin Kaffah

Islam adalah ajaran yang menyeluruh (kaffah), bukan parsial. Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 208).

Maka, figur pemimpin ideal dalam Islam adalah mereka yang membawa nilai-nilai Rasulullah:

  • Berakhlak mulia, menjadikan amanah sebagai tanggung jawab, bukan sekadar jabatan.
  • Mengayomi rakyat kecil, sebagaimana sabda beliau: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian; kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian.” (HR. Muslim, No. 1855).
  • Menegakkan keadilan, karena keadilan adalah inti dari kepemimpinan.
  • Menerapkan syariat Islam, sebagaimana Rasulullah memimpin Madinah dengan menjadikan wahyu sebagai dasar kebijakan publik, hukum, dan tata sosial. Tanpa syariat, kepemimpinan hanya akan terjebak dalam pragmatisme dan kepentingan sesaat.

Rasulullah SAW sendiri bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad, No. 8952).

Penutup

Momentum Maulid Nabi mestinya tidak hanya menambah semarak acara keagamaan, tetapi juga memperkuat kesadaran: bahwa kita membutuhkan pemimpin dengan karakter Rasulullah—jujur, amanah, adil, berakhlak mulia, dan berkomitmen menerapkan syariat Islam dalam kehidupan masyarakat.

Dengan meneladan beliau, kita tidak sekadar memperingati kelahiran Nabi, tetapi benar-benar menghidupkan risalahnya dalam kehidupan sosial dan kepemimpinan bangsa.

*Penulis adala Praktisi Hukum dan Pemerhati Peradilan

Referensi:

  • Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Ahzab [33]: 21; QS. Al-Baqarah [2]: 208.
  • HR. Muslim, No. 746 (akhlak Nabi adalah Al-Qur’an).
  • HR. Bukhari, No. 4913 (kesederhanaan Nabi).
  • HR. Bukhari, No. 6788; Muslim, No. 1688 (keadilan Nabi tanpa pandang bulu).
  • HR. Muslim, No. 1855 (pemimpin yang dicintai rakyat).
  • HR. Ahmad, No. 8952 (diutus menyempurnakan akhlak mulia).
---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *