Kedaulatan pangan bukanlah sekadar slogan politik, melainkan fondasi peradaban bangsa yang menentukan kemampuan suatu negara untuk mempertahankan kemandirian dan martabatnya.
Di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang dikenal dengan visi transformatif dan keberanian mengambil keputusan strategis, Indonesia memiliki peluang emas untuk mewujudkan cita-cita besar ini.
Salah satu kunci utama kedaulatan pangan terletak pada ketersediaan benih unggul yang berkualitas, mudah diakses, dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.
Benih adalah “gen kehidupan” dalam ekosistem pertanian—tanpa benih yang baik, mustahil kita dapat menghasilkan pangan berkualitas yang mampu memenuhi kebutuhan 280 juta rakyat Indonesia, apalagi bersaing di pasar global.
Tantangan dan Realitas Perbenihan Indonesia
Kondisi perbenihan Indonesia hari ini masih menghadapi sejumlah tantangan serius. Ketergantungan pada impor benih hortikultura masih tinggi, sementara harga benih padi unggul kerap tidak terjangkau oleh petani kecil. Akibatnya, petani terjebak dalam siklus biaya produksi tinggi dengan hasil panen yang tidak sebanding.
Ironisnya, Indonesia sebenarnya memiliki infrastruktur penelitian dan pengembangan benih yang cukup memadai: Balai Penelitian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Balai Benih Induk, hingga BUMN sektor perbenihan.
Namun, koordinasi antarinstansi dan implementasi kebijakan masih belum optimal. Di sisi lain, perusahaan multinasional dengan agresif menguasai pasar benih premium, semakin mempersempit ruang gerak petani lokal.
Kepemimpinan Visioner Prabowo Subianto
Presiden Prabowo Subianto, dengan rekam jejak sebagai pemimpin yang berani mengambil keputusan terobosan, memiliki kesempatan untuk menjadi katalis perubahan fundamental dalam sektor perbenihan nasional.
Kepemimpinannya yang decisive dan berorientasi pada kepentingan rakyat menjadi harapan besar bagi terciptanya ekosistem perbenihan yang mandiri dan berkelanjutan.
Komitmen Presiden Prabowo terhadap program makan bergizi gratis menunjukkan pemahaman mendalam akan pentingnya ketahanan pangan sebagai basis kesejahteraan rakyat. Program ini akan lebih efektif dan berkelanjutan jika didukung oleh sistem perbenihan nasional yang kuat dan mandiri.
Lampung sebagai Pilot Project Unggulan
Di tingkat daerah, kepemimpinan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menjadi kunci sukses implementasi program perbenihan nasional.
Gubernur Mirzani, dengan pengalaman birokrasi yang mumpuni dan pemahaman mendalam tentang dinamika daerah, memiliki posisi strategis untuk menjadikan Lampung sebagai laboratorium perbenihan Indonesia.
Lampung memiliki segala potensi untuk menjadi pusat produksi dan distribusi benih nasional. Dari hamparan sawah produktif di Lampung Tengah, sentra hortikultura di Pringsewu, hingga kebun buah di Tanggamus dan Lampung Timur, provinsi ini menyimpan kekayaan genetik tanaman yang luar biasa.
Posisi geografisnya yang strategis sebagai gerbang Sumatera menjadikan Lampung titik ideal untuk distribusi benih ke seluruh Nusantara.
Kepemimpinan Gubernur Mirzani yang kolaboratif dan berorientasi pada hasil dapat mengoptimalkan potensi ini melalui sinergi efektif antara pemerintah daerah, swasta, dan kelompok tani.
Dengan dukungan penuh dari Presiden Prabowo, Lampung dapat menjadi model nasional bagaimana daerah dapat berkontribusi signifikan terhadap kedaulatan pangan.
Strategi Implementasi Terintegrasi
Untuk mewujudkan visi besar ini, diperlukan langkah strategis yang komprehensif dan terukur:
Pertama, memperkuat riset dan inovasi benih nasional melalui peningkatan anggaran dan fasilitas penelitian. Hasil litbang Kementerian Pertanian dan perguruan tinggi harus dapat diakses petani dengan biaya minimal.
Kedua, mendorong pembentukan penangkar benih lokal yang tersertifikasi. Petani dan kelompok tani perlu difasilitasi untuk menjadi bagian dari rantai produksi benih, mengurangi ketergantungan pada perusahaan besar.
Ketiga, memperluas skema subsidi benih tidak hanya untuk padi dan jagung, tetapi juga hortikultura yang vital bagi gizi masyarakat dan peluang ekspor.
Keempat, Badan Pangan Nasional mulai mengintegrasikan pengelolaan benih sebagai bagian dari sistem ketahanan pangan nasional.
Momentum Sejarah
Gerakan reformasi 1998 yang kami perjuangkan dahulu bertujuan membebaskan bangsa dari berbagai bentuk ketergantungan. Hari ini, semangat reformasi itu menemukan relevansinya dalam perjuangan kedaulatan benih dan pangan.
Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal berada pada momentum bersejarah untuk mewujudkan Indonesia yang berdikari dalam pangan.
Jika keduanya berani mengambil langkah revolusioner ini, Indonesia tidak hanya akan kuat di bidang pertahanan dan politik, tetapi juga kokoh di sektor pangan pilar utama kemerdekaan sejati.
Benih unggul yang terjangkau bukan sekadar urusan teknis pertanian, melainkan perwujudan keadilan sosial. Ketika petani dapat mengakses benih berkualitas dengan harga wajar, biaya produksi akan turun, pendapatan petani meningkat, dan harga pangan di pasar menjadi stabil. Pada akhirnya, seluruh rakyat Indonesia akan merasakan manfaatnya.
Saatnya kita bergerak dari wacana menuju aksi nyata. Dengan kepemimpinan yang visioner dan komitmen yang kuat, kedaulatan pangan Indonesia bukan lagi mimpi, melainkan kenyataan yang dapat diraih.
—
*Mahendra Utama, Eksponen 98



