Syahbana dan Alpukat Sipit Kelawi yang Sudah Terkenal tapi Belum Mahal

Syahbana dan Alpukat Sipit Kelawi yang Sudah Terkenal tapi Belum Mahal
Syahbanda di pohon alpukat yang baru saja dipanen. (Foto: Yopie Pangkey)

Di halaman belakang rumahnya di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, Syahbana berdiri di antara deretan pohon alpukat yang batangnya sudah sebesar pelukan orang dewasa. Diameter batang sekitar 40 sentimeter, tinggi rata-rata empat meter, dan jarak tanam 4×5 meter yang rapi. Ia menanam sendiri semua ini, di lahan tiga hektare yang ia kerjakan bertahun-tahun.

“Ini sudah ada Rekor MURI-nya,” katanya sambil menunjuk salah satu pohon yang sedang berbuah lebat. “Tapi harganya sedang turun.”

Read More

Dua kalimat itu mungkin merangkum persoalan utama yang dihadapi petani alpukat di desa ini: pengakuan nasional sudah datang, pasar belum mengikuti.

Berawal dari Oleh-Oleh

Tidak ada yang merencanakan lahirnya varietas ini.

Menurut Syahbana, alpukat di Desa Kelawi berasal dari biji buah yang dibawa sebagai oleh-oleh dari Pulau Jawa oleh tetua desa sekitar tahun 1960-an. Bijinya ditanam, pohon tumbuh, dan dari salah satu pohon yang tumbuh itu muncul karakter yang berbeda: daging tebal, biji kecil, buah padat, rasa manis dan legit, serta lebih tahan lama dibanding varietas lain.

“Kalau menanam dari biji, hasilnya bisa tiga kemungkinan. Bisa lebih bagus, bisa lebih jelek, atau menjadi varietas baru,” jelas Syahbana. “Yang ini jadi varietas baru.”

Varietas itulah yang kemudian diberi nama Sipit Kelawi, mengambil nama desa sebagai identitas. Buahnya berbentuk oval, berukuran kecil, beratnya antara 250 hingga 300 gram per buah. Satu kilogram biasanya berisi tiga sampai empat buah, tapi kandungan daging buahnya tinggi karena bijinya kecil.

Selama puluhan tahun, varietas ini hanya dikenal warga desa dan pembeli sekitar. Baru belakangan namanya mulai lebih luas terdengar.

Rekor MURI, Juara Dua, dan Kenyataan di Kebun

Pada Agustus 2023, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyerahkan Rekor MURI kepada pemerintah Desa Kelawi. Rekor itu mencatat Kelawi sebagai desa wisata pertama yang memiliki varietas alpukat khas sendiri.

Di tahun yang sama, Desa Kelawi masuk sebagai juara kedua Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 kategori Desa Wisata Maju.

Dua penghargaan itu datang bersamaan. Nama Sipit Kelawi mulai disebut di luar Lampung.

Tapi di kebun Syahbana, kenyataannya lebih sederhana.

Harga jual alpukat Sipit Kelawi di tingkat petani bervariasi antara Rp10.000 hingga Rp16.000 per kilogram, tergantung musim dan kualitas. Ketika kami berkunjung di 2024, harganya sedang di posisi terendah: Rp8.000 per kilogram.

Syahbana memanen hingga 15 ton per tahun dari lahan tiga hektarnya. Di harga Rp8.000, angka itu masih cukup untuk menghidupi keluarganya, satu istri dan lima anak. Tapi ia tahu, angka itu seharusnya bisa lebih tinggi.

“Ini juga menjadi PR bagi kami untuk membuat branding Alpukat Sipit Kelawi lebih dikenal,” katanya. “Kalau sudah ada merek yang bagus, harga otomatis bisa lebih tinggi dan stabil.”

Pria kelahiran 28 Januari 1982 ini bicara tanpa keluhan. Lebih seperti seseorang yang sudah mengenali masalah dan sedang mencari jalannya.

Satu Keluarga Dua Pohon

Masalah harga bukan satu-satunya yang sedang dihadapi desa. Ada pertanyaan lain yang lebih jangka panjang: bagaimana memastikan alpukat ini tidak hilang sebagai varietas, dan bagaimana membuatnya benar-benar menjadi identitas desa, bukan sekadar pohon di halaman belakang segelintir petani.

Karang taruna dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Kelawi menggagas program bernama “Satu Keluarga Dua Pohon”. Sampai saat ini, lebih dari 800 bibit alpukat Sipit Kelawi sudah dibagikan kepada warga desa.

Syahbana menggambarkan program ini sebagai bagian dari konsep ekonomi hijau yang sedang mereka bangun. Setiap sudut desa nantinya akan punya pohon alpukat. Dan pohon itu, selain menghasilkan buah, juga bisa jadi daya tarik wisata.

“Wisatawan bisa kita ajak keliling desa dan membeli alpukat langsung dari pohonnya,” katanya.

Desa Kelawi punya Pantai Minang Rua yang sudah punya pengunjung sendiri. Sekarang sudah ada spot paralayang yang juga menjadi camping ground dengan latar belakang Gunung Anak Krakatau/ Kombinasi pantai, camping ground, dan agrowisata kebun alpukat adalah proposisi yang belum banyak desa wisata di Lampung tawarkan.

Baca juga:
* Alpukat Solusi Konflik: Model Bioekonomi Kehutanan Giri Mulyo Tunjukkan Dampak Nyata

Yang Masih Dicari

Syahbana dan BUMDes Kelawi saat ini bekerja sama dengan tenaga ahli pertanian untuk mencari cara agar alpukat Sipit Kelawi bisa dipanen lebih dari tiga kali dalam setahun. Frekuensi panen yang terbatas masih jadi salah satu hambatan untuk memenuhi permintaan yang, menurut Syahbana, sebetulnya tidak pernah surut.

“Banyak yang rela datang ke kebun untuk membelinya langsung. Bahkan harus pesan dulu karena stok sering tidak cukup,” katanya.

Permintaan ada. Potensi ada. Yang masih perlu dikerjakan adalah menutup jarak antara nama yang sudah dikenal dan harga yang mencerminkan nilainya.

Itu pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan oleh satu orang petani seorang diri. Tapi Syahbana sudah mulai dari yang ia bisa: menjaga kualitas kebunnya, ikut dalam program bibit, dan terus bicara tentang alpukat ini kepada siapa pun yang mau mendengar.

Pohon-pohon di halaman belakang rumahnya berdiri rapi, batangnya sudah kokoh. Beberapa di antaranya sedang berbuah.

Di ujung kunjungan, Syahbana memetik satu buah dan membelahnya. Daging buahnya padat, hampir tidak ada ruang antara daging dan kulit. Bijinya kecil, proporsional.

“Ini yang bikin orang balik lagi,” katanya.

Mungkin itu juga yang akhirnya akan membuat harganya naik.

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *