Kendaraan bak terbuka itu bergetar di atas jalan tanah yang belum sepenuhnya rata. Di kanan dan kiri, kebun warga bergantian dengan rumpun bambu. Sesekali tampak anak-anak berdiri di tepi jalan, memandangi kami yang duduk berdesakan di bak sambil memegangi ban dan pelampung berwarna oranye.
Perjalanan menuju titik awal sungai hanya sekitar 15 menit. Tapi 15 menit itu terasa seperti pintu masuk ke dunia yang berbeda dari Krui yang ramai, dari pantai-pantai yang selama ini lebih dikenal.
Di ujung jalan itu ada Sungai Tenumbang. Dan di balik sungai itu, ada Richard Sambera Puspanegara.
Richard bukan orang yang dikenal karena satu pencapaian besar. Ia dikenal karena serangkaian keputusan kecil yang, kalau dilihat dari belakang, membentuk sesuatu yang cukup tidak biasa.
Lulusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu pulang ke Lampung pada 2014. Beberapa tahun ia habiskan di Bandar Lampung, aktif berkesenian. Lalu pada 2019, ia membuat keputusan yang oleh banyak orang dianggap aneh: pindah ke Pekon Negeri Ratu Tenumbang, Kecamatan Pesisir Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, bersama istrinya.
Bukan karena ada tawaran proyek besar. Bukan karena ada dana hibah yang menunggu.
“Saya pilih di sini karena di sini masih ada yang bisa dirawat,” katanya.
Sanggar Sebelum Wisata
Langkah pertama Richard bukan membangun destinasi. Ia mendirikan Sanggar Lamban Tari Umbul Dalom, ruang untuk melatih kesenian tradisional bersama warga sekitar.
Dari sanggar itulah ia membaca sesuatu yang tidak selalu kasat mata: ada kebudayaan yang masih hidup di sini, tapi tidak ada yang benar-benar memperkenalkannya ke luar. Tapis, pertunjukan adat, pengelolaan damar mata kucing yang diwariskan turun-temurun. Semua ada. Tapi tidak banyak yang tahu.
Pada akhir 2023, Richard dan istrinya memperoleh bantuan Program Kearifan Lokal dari Kementerian Sosial. Dana itu tidak besar, dan ia membaginya untuk dua hal sederhana: kolam ikan dan peralatan kesenian. Hasil kolam ikan untuk menghidupi kegiatan budaya. Kegiatan budaya untuk memberi alasan orang datang berkunjung.
Rantai logika itu sederhana sampai terdengar naif. Ternyata tidak.
Video yang Tidak Sepenuhnya Jujur
Sebelum ada satu pun wisatawan yang datang, Richard dan timnya membuat video promosi. Video itu menampilkan aktivitas yang seolah-olah sudah berjalan: orang-orang meluncur di atas ban di sungai, suasana ekowisata yang hidup, keramaian yang terasa nyata.
Padahal saat itu belum ada apa-apa. Belum ada sistem tiket. Belum ada paket resmi. Belum ada infrastruktur.
“Kami buat dulu, biar orang bisa bayangkan tempatnya,” ceritanya.
Video itu tersebar di media sosial. Dan respons yang datang jauh melampaui yang ia perkirakan.
Saat libur panjang akhir tahun 2024, Bumi Lebu membuka kunjungan pertamanya secara mandiri. Ratusan orang datang. Tanpa promosi besar. Tanpa infrastruktur yang memadai. Hanya dari video yang ia buat sebelum semuanya benar-benar ada.
Bagi sebagian orang, strategi itu terdengar berani, bahkan sedikit nekat. Tapi bagi Richard, itu adalah cara paling jujur untuk memulai sesuatu yang belum punya modal: tunjukkan dulu seperti apa nanti, baru bangun bersama-sama.
Sungai yang Tidak Perlu Dramatis
Sungai Tenumbang bukan sungai untuk orang yang mencari adrenalin. Tidak ada jeram besar, tidak ada tebing terjal di sisinya.
Karakternya justru tenang. Di beberapa titik aliran menyempit dan arus bergerak lebih cepat sebentar, lalu melambat lagi.
Sepanjang 2,5 kilometer itu, di kiri kanan sungai berdiri pohon-pohon damar yang rapat. Di sela-selanya terlihat pohon durian dan vegetasi yang membuat suhu di badan sungai terasa lebih rendah dari udara di luar.
Satu setengah jam menyusuri sungai itu terasa singkat. Bukan karena ada sesuatu yang spektakuler terjadi, tapi justru karena tidak ada.
Tidak ada sinyal ponsel yang masuk, tidak ada kebisingan, tidak ada kewajiban untuk melihat sesuatu yang memukau. Yang ada hanya air yang mengalir pelan dan langit yang sesekali terlihat dari celah kanopi.
Di beberapa bagian sungai yang lebih dalam, pengunjung biasanya spontan melompat dari batu di tepi. Tidak ada instruksi untuk itu. Tidak ada spot foto yang dipasangi tanda. Itu yang membuat momen tersebut terasa berbeda dari wisata yang terlalu dikelola.
Damar yang Lebih Tua dari Semua Ini
Di balik river tubing dan pertunjukan seni, ada satu hal di Bumi Lebu yang tidak banyak ditemukan di tempat lain: kebun damar mata kucing.
Damar mata kucing adalah resin yang dihasilkan pohon Shorea jenis tertentu. Selama ratusan tahun, komoditas ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Pesisir Barat.
Cara pengelolaannya diwariskan turun-temurun: bagaimana menoreh batang pohon, bagaimana memanen getah tanpa merusak pohon, bagaimana menjaga agar hutan tetap produktif untuk generasi berikutnya.
Bumi Lebu memasukkan pengelolaan damar ini ke dalam paket ekowisata mereka. Pengunjung bisa masuk ke kebun, melihat langsung bagaimana pohon-pohon itu dirawat, dan memahami mengapa hutan di sepanjang Sungai Tenumbang masih serapat itu.
Ini bukan tambahan program. Ini inti dari apa yang Richard ingin sampaikan: bahwa hubungan antara manusia dan hutan di sini bukan romantisasi, melainkan praktik nyata yang masih berjalan.
Membangun dari Dalam, Bukan dari Atas
Pada 2024, Bumi Lebu mendapat pengakuan sebagai salah satu Desa Budaya Penerima Aktivasi Desa Pemajuan Kebudayaan Tingkat Nasional dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Bagi Richard, pengakuan itu penting tapi bukan titik tujuan.
Yang ia jaga lebih ketat dari sekadar gelar adalah arah pengelolaan.
“Masyarakat harus merasa memiliki. Kalau semua menunggu bantuan, desa wisata sulit berkembang. Yang kami bangun di sini adalah semangat untuk bekerja bersama dan saling membantu,” katanya kepada publikasilampung.id, saat penutupan Festival Teluk Stabas 2026.
Karena itu kegiatan di Bumi Lebu tidak hanya berorientasi pada kunjungan. Pelaku seni, pengrajin, pengelola wisata, pemilik usaha kecil di desa semuanya dilibatkan. Bukan sebagai figuran, tapi sebagai bagian dari sistem yang seharusnya bisa berdiri sendiri.
Richard mengaku menyambut baik perhatian pemerintah provinsi. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, ia sebut, memiliki rencana untuk memberikan dukungan bagi pengembangan Bumi Lebu.
Tapi ia menegaskan bahwa dukungan dari luar hanya akan berarti jika masyarakat di dalam sudah punya kapasitas untuk menerimanya dan menggunakannya dengan baik.
Tantangan terbesarnya tetap regenerasi. Menarik minat anak-anak muda yang tumbuh besar dengan TikTok dan YouTube untuk mau meluangkan waktu belajar menari atau menganyam bukan hal yang mudah.
Tapi Richard tidak terdengar putus asa. “Selama ada yang mau belajar, tidak soal berapa jumlahnya.”
Baca juga:
* Ngumbai Lawok di Festival Teluk Stabas 2026, Saat Tradisi Beradaptasi dengan Zaman
Informasi Kunjungan
Desa Wisata Budaya Bumi Lebu berlokasi di Pekon Negeri Ratu Tenumbang, Kecamatan Pesisir Selatan, Kabupaten Pesisir Barat.
Paket river tubing tersedia mulai Rp75.000 per orang. Tersedia juga paket wisata budaya, ekowisata damar, cultural dinner show, dan paket kunjungan lengkap.
Dari Bandar Lampung, perjalanan darat melalui Jalur Lintas Barat memakan waktu lima hingga enam jam. Alternatif lain adalah penerbangan ke Bandara Taufiq Kiemas di Pesisir Barat, dilanjutkan sekitar satu jam perjalanan darat ke lokasi.
Sungai Tenumbang akan tetap mengalir dengan atau tanpa wisatawan. Pohon-pohon damar di tepinya sudah tumbuh jauh sebelum ada yang memikirkan paket ekowisata.
Yang Richard Sambera Puspanegara lakukan adalah mengajak orang untuk berhenti sebentar di tepinya, melihat, dan memahami bahwa yang ada di sini bukan sekadar pemandangan.
Ada pengetahuan. Ada keputusan panjang leluhur tentang bagaimana hidup berdampingan dengan hutan tanpa menghabiskannya.
Dan ada seorang seniman dari Yogyakarta yang memilih tinggal di sini, bukan karena tidak ada pilihan lain, tapi karena ia pikir ini adalah tempat yang paling masuk akal untuk menggunakan apa yang ia punya.



