Loncatan “Sang Gerbang”: Membaca Ulang Ekonomi Lampung 2025

Loncatan Sang Gerbang Membaca Ulang Ekonomi Lampung 2025
Membaca ulang ekonomi Lampung 2025: pertumbuhan ekonomi 5,19 persen, lonjakan industri, investasi masuk, dan peran Lampung sebagai poros ekonomi baru. (Foto ilustrasi AI)

Lampung selalu punya peran unik dalam peta ekonomi nasional. Sebagai provinsi yang menghubungkan Jawa dan Sumatera, wilayah ini kerap dipandang sebelah mata sekadar jalur transit komoditas.

Tapi data ekonomi 2025 mulai mengubah narasi itu. Ada yang berbeda dari provinsi di ujung selatan Sumatera ini.

Read More

Angka yang Mulai Bicara

Badan Pusat Statistik mencatat, ekonomi Lampung tumbuh 5,19 persen secara kumulatif hingga triwulan ketiga 2025. Angka ini naik dari 4,57 persen di tahun sebelumnya.

Bahkan di triwulan pertama 2025, pertumbuhannya menyentuh 5,47 persen tertinggi dalam lima tahun terakhir dan yang terbaik di Sumatera saat itu.

Pertumbuhan seperti ini jarang muncul begitu saja. Biasanya ada perubahan struktural yang mendorong. Di Lampung, sektor industri pengolahan tumbuh 7,71 persen.

Artinya, komoditas seperti kopi dan nanas mulai diolah lebih jauh, bukan lagi sekadar dijual mentah. Nilai tambahnya mengalir ke dalam perekonomian lokal.

PDRB Lampung kini diperkirakan mencapai Rp483 triliun. Bukan angka kecil untuk provinsi yang sempat stagnan dalam beberapa tahun belakangan.

Baca juga:
* Menakar Urat Nadi Ekonomi Lampung-Malaysia: Bukan Sekadar Tetangga Jauh

Kerja Cepat Pemerintah Daerah

Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Wakil Gubernur Jihan Nurlela dilantik Februari 2025. Dalam waktu singkat, mereka menjalankan sejumlah program yang langsung terasa dampaknya.

Salah satunya perbaikan 52 ruas jalan sepanjang hampir 70 kilometer.

Dalam konteks ekonomi daerah, ini penting. Jalan yang baik memangkas biaya logistik, mempercepat distribusi, dan membuka akses pasar bagi petani.

Ada pula program “Desaku Maju” yang mengangkat status 579 desa menjadi kategori mandiri.

Ini bukan sekadar label administratif, tapi indikator bahwa desa-desa tersebut mulai punya kapasitas ekonomi sendiri.

Realisasi pendapatan dan belanja daerah per Mei 2025 disebut-sebut yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Penyerapan anggaran yang efektif biasanya jadi penanda bahwa program pembangunan benar-benar berjalan, bukan hanya dokumen perencanaan.

Investasi Mulai Masuk

Lampung juga berhasil menarik investasi senilai Rp12,92 triliun gabungan penanaman modal asing dan dalam negeri.

Angka ini menunjukkan bahwa investor mulai melihat Lampung bukan lagi sebagai wilayah pinggiran, tapi sebagai lokasi yang layak diperhitungkan.

Digitalisasi UMKM dan penguatan hilirisasi produk lokal tampaknya mulai membuahkan hasil.

Strategi ini membuat ekonomi Lampung tidak lagi terlalu bergantung pada sektor primer yang rentan fluktuasi harga global.

Baca juga:
* Lampung Raih Surplus Dagang US$3,6 Miliar: Apa Strategi di Balik Kesuksesan Ini?

Catatan Kecil untuk Lampung

Tentu saja, satu tahun belum cukup untuk menyimpulkan arah jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi perlu dijaga konsistensinya.

Pertanyaan berikutnya adalah: apakah momentum ini bisa dipertahankan? Apakah program-program yang sudah berjalan akan berlanjut, atau justru stagnan karena perubahan prioritas politik?

Yang jelas, Lampung hari ini bukan lagi provinsi yang hanya dilihat sebagai “gerbang” menuju tempat lain.

Data menunjukkan ada upaya serius untuk menjadikannya pusat pertumbuhan tersendiri. Kalau tren ini berlanjut, bukan mustahil Lampung akan jadi salah satu poros ekonomi baru di luar Jawa.

Untuk sekarang, angka-angka ekonomi Lampung 2025 adalah sinyal positif.

Tapi seperti biasa dalam pembangunan, yang lebih penting adalah bagaimana cerita ini akan ditulis dalam lima atau sepuluh tahun ke depan.

*Penulis : Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan

#EkonomiLampung #PembangunanDaerah #DataBicara

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *