Dalam konstelasi ekonomi regional, hubungan antara Provinsi Lampung dan Malaysia sering kali terlewat dari radar diskusi publik. Padahal, kalau kita mau jujur dan melihat data BPS, “Negeri Jiran” ini konsisten masuk dalam daftar 10 besar mitra dagang utama Sang Bumi Ruwa Jurai.
Ini bukan sekadar soal geografis yang dipisahkan Selat Malaka, tapi simpul ekonomi yang sudah mengakar dan terus tumbuh.
Jejak Sejarah dan Realita Transaksi
Kerja sama ini secara formal diperkuat lewat kerangka Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) yang sudah digagas sejak 1993.
Lampung, sebagai pintu gerbang Sumatera, punya peran strategis dalam koridor konektivitas ini.
Lalu, apa sih yang diperdagangkan? Jawabannya sederhana: komoditas unggulan dan energi.
Berdasarkan data BPS Lampung sampai tahun 2024 dan memasuki awal 2025, komoditas nonmigas masih jadi tulang punggung.
CPO, kopi, lada, cabai jamu, sampai batubara barang-barang inilah yang rutin menyeberang ke pelabuhan-pelabuhan Malaysia.
Surplus atau Defisit?
Pertanyaan yang penting: apakah kita untung? Pada Februari 2023 saja, nilai ekspor Lampung ke Malaysia sempat menyentuh US$21,12 juta, jauh lebih besar dibanding nilai impornya.
Secara umum, dalam neraca perdagangan nonmigas, posisi Lampung terhadap Malaysia cenderung surplus.
Artinya, kita lebih banyak “menjual” daripada “membeli” yang secara teoritis menyumbang devisa signifikan bagi pembangunan daerah.
Baca juga:
* Membangun Lumbung Pangan dan Jaringan Ekonomi: Menggagas Masa Depan Agribisnis Lampung
Mengapa Bisa Lebih Baik?
Tapi jangan buru-buru senang. Meski surplus, bukan berarti kita sudah beres.
Mengacu pada Teori Keunggulan Komparatif David Ricardo, Lampung memang unggul secara alami di sektor agrikultur. Namun, kalau mau naik kelas, ada beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan:
A. Pemprov & Pemkab/Pemkot harus bergeser dari sekadar fasilitator ekspor bahan mentah jadi pendorong hilirisasi. Insentif pajak bagi investor Malaysia yang mau bangun pabrik pengolahan di Lampung bukan cuma ngambil biji kopi mentah harus diperjelas. Jangan cuma jadi tukang kirim barang mentah terus.
B. Sektor Privat juga perlu berbenah. Pelaku usaha harus mulai melirik standar sertifikasi internasional dan efisiensi logistik. Perusahaan di Lampung perlu manfaatkan digitalisasi rantai pasok supaya bisa bersaing dengan produk serupa dari Vietnam atau negara lain.
C. Investasi juga jadi kunci. Malaysia tercatat sebagai salah satu investor PMA terbesar di Lampung, dengan nilai ratusan miliar rupiah di sektor perkebunan pada 2023.Pemda harus pastikan iklim investasi stabil dan bebas pungli supaya kepercayaan ini tetap terjaga.
Hubungan ekonomi Lampung-Malaysia adalah bukti nyata bahwa potensi lokal, kalau dikelola dengan visi global, bisa kasih dampak riil.
Tantangannya sekarang sederhana tapi berat: bagaimana surplus perdagangan itu tidak cuma tercatat di atas kertas, tapi juga terasa di kantong petani kopi di Lampung Barat dan buruh pabrik di Panjang.
*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan
#EkonomiLampung #PerdaganganInternasional #LampungMalaysia



