Orkestrasi Pasokan Bawang di Lampung

Orkestrasi Pasokan Bawang di Lampung - muhammad-abdul-majid-PQqQKh8Ots0-unsplash
Foto ilustrasi Orkestrasi Pasokan Bawang di Lampung. (Foto: Muhammad Abdul Majid/unsplash)

Ketahanan pangan selalu jadi soal serius, apalagi kalau bicara komoditas sejuta umat seperti bawang merah. Harganya naik sedikit saja, ibu-ibu di pasar langsung gelisah.

Di Lampung, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal tampaknya paham betul soal ini. Makanya, ia sedang menata ulang sistem logistik dan produksi bawang merah agar lebih rapi dan menguntungkan petani.

Read More

Laporan Kajian Rantai Pasok Bawang Merah di Provinsi Lampung tahun 2023 mencatat bahwa komoditas ini punya andil besar dalam inflasi daerah.

Harganya yang naik-turun bikin petani sering rugi karena margin keuntungan lebih banyak dinikmati tengkulak.

Langkah Gubernur Mirza yang mencoba menyambungkan petani langsung dengan pasar patut diacungi jempol.

Lepas dari Ketergantungan Brebes

Selama ini, Lampung sangat tergantung pasokan bawang dari luar, terutama Brebes yang menguasai sekitar 40% kebutuhan lokal.

Akibatnya, harga di sini ikut naik-turun mengikuti ongkos kirim dari Jawa Tengah.

Padahal, Lampung punya lahan subur dan petani yang tidak kalah hebat.

Gubernur Mirza berkali-kali bilang bahwa Lampung tak boleh cuma jadi pasar belaka.

“Kita punya tanah bagus, petani juga tangguh. Tinggal pemerintah yang harus pastikan infrastruktur dan jalur distribusinya mendukung mereka supaya bisa mandiri,” katanya dalam salah satu kunjungan kerja.

Ini sejalan dengan prinsip dasar manajemen rantai pasok: efisiensi dan kecepatan adalah kunci daya saing.

Hortikultura memang baru menyumbang 1,39% ke PDRB Lampung, tapi potensinya masih sangat besar untuk digali.

Petani Untung, Konsumen Senang

Dari sisi usaha tani, bawang merah di Lampung sebenarnya cukup menguntungkan.

Kajian menunjukkan nilai R/C di atas 1, artinya modal yang dikeluarkan petani balik dengan keuntungan yang layak.

Masalahnya ada di rantai pemasaran yang terlalu panjang dan berliku.

Di sinilah Gubernur Mirza melihat celah. Dengan memangkas jalur distribusi dan memanfaatkan teknologi digital, petani bisa dapat bagian lebih besar dari harga jual.

Bukan cuma teori, ini sudah mulai diterapkan lewat berbagai program pendampingan dan pengembangan pasar lokal.

Baca juga:
* Orkestrasi Gubernur Lampung Jaga Stabilisasi Harga Cabai

Harapan Baru untuk Lampung

Kepemimpinan Rahmat Mirzani Djausal membawa angin segar. Kebijakannya tidak hanya berdasar insting politik, tapi juga didukung data dan kajian ilmiah yang solid.

Kalau daerah seperti Pringsewu dan Lampung Selatan terus didorong produksinya, bukan tidak mungkin suatu hari Lampung jadi pemasok utama bawang merah di Sumatera, bukan lagi cuma pembeli.

Semua itu tentu butuh kerja bareng: pemerintah, akademisi, dan yang paling penting, petani sendiri.

Kalau sinergi ini jalan, ketahanan pangan Lampung bukan lagi mimpi.

*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan

#LampungMaju #KetahananPangan #RahmatMirzaniDjausal

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *