Siapa sangka, cabai merah yang sering kita anggap remeh ternyata punya peran besar dalam menentukan inflasi daerah.
Di Lampung, naik-turunnya harga cabai bukan cuma soal dapur rumah tangga, tapi juga bisa bikin kepala pusing karena dampaknya ke industri pangan dan daya beli masyarakat.
Nah, menariknya, di tengah tantangan ini, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal justru menunjukkan pendekatan yang cukup berbeda.
Alih-alih hanya fokus dorong produksi, beliau lebih memilih “menata” seluruh alur dari kebun sampai pasar semacam orkestra ekonomi, kalau boleh dibilang.
Dari Kebun Sampai Meja Makan
Masalahnya memang klasik: produksi cabai di Lampung itu musiman, sedangkan kebutuhannya konstan. Belum lagi jalur distribusinya yang kadang berbelit-belit, bikin harga di tingkat petani rendah sementara di pasar konsumen melambung.
Gubernur Mirza tampaknya paham betul bahwa kunci stabilitas bukan cuma soal panen melimpah.
Yang lebih penting adalah bagaimana cabai dari sentra produksi seperti Lampung Selatan, Pringsewu, dan Lampung Barat bisa sampai ke Bandar Lampung atau Metro dengan efisien.
“Kita harus memastikan petani dapat harga layak, sementara konsumen juga nggak keberatan beli. Ini kerja bareng dalam kelola ekosistem pangan kita,” ujar Iyai Mirza di salah satu kesempatan.
Potong Jalur, Tambah Untung
Salah satu yang menarik dari kebijakan ini adalah upaya memendekkan rantai distribusi.
Dalam teori memang begitu: semakin pendek jalur pemasaran, semakin besar bagian yang diterima petani. Dan ini bukan teori kosong data di lapangan memang menunjukkan hal yang sama.
Dengan melibatkan BUMD dan kerja sama antar-daerah, Pemprov Lampung mencoba merapatkan jarak antara petani dan konsumen. Harapannya, petani untung, konsumen juga nggak boncos.
Baca juga:
* Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu: Mengapa Harga Terus Melonjak di Lampung?
Bukan Sekadar Wacana
Yang patut diapresiasi, ini bukan sekadar program di atas kertas. Dengan menguatkan sistem informasi dan logistik, Gubernur Lampung mencoba menciptakan pasar yang lebih stabil dan terukur.
Bukan hal mudah, memang, tapi langkah ini setidaknya memberi angin segar baik bagi petani cabai di Bumi Ruwa Jurai maupun ibu-ibu yang belanja di pasar.
Kalau dikelola dengan baik, cabai yang tadinya jadi sumber galau bisa justru jadi andalan stabilitas ekonomi daerah.
*Penulis : Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan
#LampungMaju #StabilitasPangan #RahmatMirzaniDjausal #HargaCabai



