Siapa sangka, cabai rawit yang biasanya jadi pelengkap makan kini malah bikin kantong jebol. Menjelang akhir tahun ini, harga cabai rawit di Lampung kembali naik drastis.
Meski stok di pasar tradisional Bandar Lampung masih ada, tapi harganya bikin ibu-ibu rumah tangga mikir dua kali sebelum beli.
Dari hasil sidak Satgas Pangan Kota Bandar Lampung menjelang Natal dan Tahun Baru, cabai rawit jadi komoditas yang paling signifikan kenaikannya dibanding bahan pangan lain.
Bahkan dalam Rakor Pengendalian Inflasi Daerah 2025, cabai rawit disebut sebagai penyumbang utama inflasi pangan di beberapa provinsi, termasuk Lampung.
Yang bikin miris, di beberapa daerah harga cabai rawit bisa tembus Rp70 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram menurut data PIHPS Nasional. Angka yang fantastis untuk ukuran cabai!
Kenapa Harga Cabai Selalu Naik-Turun?
Cabai memang termasuk komoditas yang harganya gampang naik-turun. Beberapa faktor penyebabnya:
A. Faktor cuaca dan musim panen – Cabai sangat bergantung pada cuaca. Kalau hujan terus-menerus, panen bisa gagal atau hasilnya jelek.
B. Permintaan tinggi saat momen tertentu – Menjelang Natal, Tahun Baru, atau hari raya besar, permintaan cabai melonjak sementara pasokan terbatas.
C. Masalah distribusi – Dari petani ke pasar tradisional, jalur distribusi cabai masih banyak hambatan. Ongkos angkut yang mahal juga bikin harga jual ikut naik.
D. Biaya produksi petani – Harga pupuk, pestisida, dan tenaga kerja yang naik otomatis bikin harga jual cabai juga naik.
Dampaknya ke Masyarakat Kecil
Jangan salah, lonjakan harga cabai ini bukan cuma soal angka. Ada dampak nyata yang dirasakan masyarakat:
Keluarga dengan pendapatan pas-pasan harus rela kurangi konsumsi sayur dan bumbu dapur karena harganya nggak masuk akal. Pola makan jadi berubah, yang tadinya tiap masak pakai cabai, sekarang cuma dikasih dikit atau bahkan ditiadakan.
Inflasi umum ikut terdorong naik karena cabai punya bobot besar dalam pengeluaran rumah tangga. Kalau cabai naik, biasanya harga makanan di warung makan juga ikut naik.
Petani lokal pun sebenarnya nggak selalu untung. Kadang mereka justru rugi karena ketidakpastian harga dan tingginya biaya produksi.
Apa yang Bisa Dilakukan Pemerintah?
Pemerintah Lampung lewat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) sebenarnya sudah turun tangan.
Ada operasi pasar murah, pemantauan harga rutin bersama Satgas Pangan, dan koordinasi distribusi pangan. Tapi sejujurnya, butuh langkah lebih dari itu:
A. Benahi rantai pasok dari hulu ke hilir. Pemerintah perlu bantu petani dengan logistik dan distribusi yang lebih efisien. Misalnya kasih insentif transportasi atau fasilitas penyimpanan yang memadai.
B. Dukung petani lokal dengan teknologi pertanian modern. Subsidi benih unggul, pelatihan budidaya, dan fasilitas irigasi yang baik bisa bikin produktivitas cabai naik.
C. Siapkan pasar penyangga dan cadangan pangan. Waktu stok menipis, pasar penyangga bisa jadi solusi untuk menstabilkan harga.
D. Transparansi informasi harga. Pedagang dan konsumen perlu tahu perkembangan harga real-time supaya bisa antisipasi lonjakan.
Apresiasi patut diberikan ke Satgas Pangan Kota Bandar Lampung dan Pemprov Lampung yang terus memantau situasi harga menjelang libur akhir tahun.
Namun, upaya ini harus jadi bagian dari strategi jangka panjang, bukan hanya respons dadakan saat harga lagi naik.
Baca juga:
* Muamar Leonardo, Lulusan Pascasarjana UGM yang Pilih Pulang Kampung jadi Petani Agroforestri
Kesimpulan
Harga cabai yang tinggi memang masih jadi PR besar. Tapi dengan koordinasi yang solid antara pemerintah, petani, dan pelaku pasar, stabilitas harga pangan termasuk cabai bukan hal yang mustahil.
Yang penting, semua pihak harus bergerak cepat dan tepat sasaran.
Buat masyarakat Lampung, semoga ke depannya kita nggak perlu lagi mikir panjang cuma buat beli cabai rawit.
*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan
#CabaiMahal #HargaCabaiLampung #InflasiPangan #KetahananPanganLampung #BeritaLampung



