Keberhasilan rehabilitasi hutan dan lahan kerap diukur lewat laporan akhir proyek: jumlah bibit tertanam, luas area, atau persentase hidup tanaman.
Namun di Dusun Wonorejo, Desa Bangun Rejo, Kecamatan Punduh Pedada, keberhasilan itu justru terasa paling nyata ketika air kembali mengalir ke rumah-rumah warga.
Di wilayah yang sebelumnya kerap kesulitan air, kini warga merasakan perubahan perlahan namun konsisten.
Mata air bermunculan, debit lebih stabil, dan kecemasan menghadapi musim kemarau dan paceklik mulai berkurang.
Bagi petani hutan, perubahan ini menjadi bukti bahwa rehabilitasi tidak berhenti pada penanaman, tetapi bekerja seiring waktu.
Tiga Tahun Rehabilitasi, Bertahun-tahun Dampak
Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) di kawasan Bangun Rejo, Kecamatan Punduh Pedada, berlangsung selama tiga tahun, dari 2019 hingga 2021.
Dalam periode tersebut, sekitar 74.400 batang bibit ditanam di area seluas 186 hektare, dengan kepadatan rata-rata 400 batang per hektare.
Penanaman dilakukan langsung oleh petani hutan, sementara pelaksanaan program difasilitasi oleh pihak ketiga dengan pendampingan dari BPDAS Way Seputih–Way Sekampung (BPDAS WSS).
Jenis tanaman yang ditanam mencerminkan pendekatan agroforestri: pala, cengkeh, kemiri, nangka, pinang, petai, dan durian.
Pilihan ini sejak awal ditujukan untuk memulihkan fungsi hutan sekaligus membuka peluang ekonomi jangka panjang bagi petani.
Kini, setelah lebih dari tiga tahun sejak penanaman awal, dampak ekologis mulai terlihat jelas. Tajuk pohon telah terbentuk di banyak lokasi RHL.
Struktur vegetasi yang lebih rapat membantu memperbaiki mikroklimat, meningkatkan kemampuan tanah menyerap air, dan memperlambat limpasan permukaan.
Ketika Tajuk Terbentuk, Air Kembali
Supomo, biasa disapa Pomo, menyebutkan bahwa sejak tajuk mulai terbentuk, mata air baru bermunculan di sekitar kawasan rehabilitasi dan perkampungan. Jumlahnya diperkirakan mencapai 15 titik.
Bagi warga Wonorejo, angka ini bukan sekadar data teknis. Ini berarti perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari: air yang lebih mudah diakses, waktu yang lebih efisien, dan berkurangnya beban rumah tangga.
Fungsi hidrologis kawasan hutan yang kembali bekerja menjadi fondasi utama perubahan ini.
Secara ekologis, pohon-pohon hasil RHL berperan sebagai “spons alami”.
Akar membantu meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah, sementara tajuk menahan energi hujan agar tidak langsung menghantam permukaan tanah.
Dalam konteks daerah aliran sungai, proses ini menjadi kunci perawatan jangka panjang.
Baca juga:
* Kisah Idoy Petani Kemiri: Merawat Hutan, Menghidupi Keluarga
Hasil Ekonomi yang Tidak Datang Bersamaan
Dari sisi ekonomi, dampak RHL tidak datang secara serentak. Beberapa jenis tanaman mulai menunjukkan hasil lebih cepat, sementara lainnya masih membutuhkan waktu.
Pala menjadi salah satu komoditas yang telah berbuah. Dari lahan seluas sekitar tiga perempat hektare yang dikelolanya, Pomo mampu memanen hingga 600 kilogram pala per tahun, dengan nilai ekonomi sekitar Rp30 juta.
Hasil ini menjadi penopang ekonomi keluarga sekaligus bukti bahwa rehabilitasi dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan.
Namun tidak semua tanaman menunjukkan hasil serupa. Hingga kini, durian dari program RHL belum berbuah. Di sisi lain, petai mulai menunjukkan hasil di beberapa titik.
Fakta ini menegaskan bahwa rehabilitasi hutan adalah proses jangka panjang dengan dinamika yang tidak selalu seragam.
Tantangan alam juga hadir. Wilayah Desa Bangun Rejo dikenal kerap dilanda angin kencang. Sejumlah pohon kemiri tumbang sebelum mencapai usia produktif.
Alih-alih dianggap kegagalan, kejadian ini menjadi bagian dari proses belajar petani dalam membaca karakter lahan dan risiko ekologis.
Pendapatan Antara dan Adaptasi Petani
Sambil menunggu tanaman tahunan berproduksi penuh, petani memanfaatkan ruang di bawah tajuk. Pisang dan berbagai jenis sayuran, seperti cabai, tomat, dan daun bawang, ditanam sebagai sumber pendapatan antara.
Pola ini membantu menjaga arus ekonomi rumah tangga tanpa mengganggu fungsi utama hutan.
Penguatan kapasitas petani juga terus berlangsung. Pada 2025, Supomo dan rekan-rekannya mengikuti pelatihan agroforestri hasil kerja sama Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Kehutanan.
Pelatihan ini mencakup praktik pertanian yang baik (good agriculture practice), pengembangan pupuk organik cair dan ecoenzyme, hingga pengenalan kakao agroforestri.
Bagi KTH Sido Makmur, pelatihan ini memperluas cara pandang: hutan tidak hanya dipulihkan, tetapi juga dikelola sebagai ruang belajar dan peluang kerja hijau yang berkelanjutan.
Baca juga:
* Muamar Leonardo, Lulusan Pascasarjana UGM yang Pilih Pulang Kampung jadi Petani Agroforestri
Kerja Bersama yang Menjaga Keberlanjutan
Pengalaman reboisasi di Bangun Rejo memperlihatkan bahwa keberhasilan hutan tidak lahir dari satu peran tunggal.
Proses ini berjalan karena adanya pertemuan kerja bersama: kebijakan dan program dari pemerintah pusat, fasilitasi serta pendampingan dari pemerintah provinsi dan kabupaten, dan ketekunan masyarakat yang merawat hutan setiap hari.
Tanpa salah satu unsur tersebut, reboisasi mudah berhenti sebagai proyek, bukan proses yang bertahan.
Lebih dari Sekadar Proyek
RHL di Bangun Rejo, Punduh Pidada, menunjukkan bahwa keberhasilan rehabilitasi tidak dapat dinilai dalam satu musim tanam.
Proses ini bekerja melalui waktu, kelembagaan, dan kesabaran. Ada pohon yang berbuah lebih cepat, ada yang belum. Ada yang tumbuh kokoh, ada pula yang tumbang oleh angin.
Baca juga:
* Menanam Nilai, Mengubah Tradisi: Cara KTH Sido Makmur Mengawal Reboisasi
Namun ketika tajuk terbentuk, air kembali mengalir, dan ekonomi petani perlahan tumbuh, rehabilitasi menemukan maknanya.
Bukan sebagai proyek yang selesai saat papan nama dicabut, melainkan sebagai proses hidup yang terus dirawat.
Di Wonorejo, Bangun Rejo, Punduh Pedada, Pesawaran, hutan yang pulih telah memberi napas bagi alam dan ruang harapan bagi manusia.
Sebuah pengingat bahwa menjaga hutan bukan hanya soal menanam pohon, tetapi menumbuhkan kesabaran untuk melihat hasilnya bekerja dalam jangka panjang.



