Menanam Nilai, Mengubah Tradisi: Cara KTH Sido Makmur Mengawal Reboisasi

Menanam Nilai Mengubah Tradisi Cara KTH Sido Makmur Mengawal Reboisasi - Yopie Pangkey
Pomo menunjukkan salah satu mata air yang kembali mengalir di Bangun Rejo, Punduh Pidada, Pesawaran, Senin (2/3/2026), setelah upaya Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) dalam beberapa tahun terakhir. (Foto: Yopie Pangkey)

Bagi Supomo dan warga Dusun Wonorejo, Desa Bangun Rejo, Kecamatan Punduh Pedada, air pernah menjadi sesuatu yang harus “diperjuangkan”.

Setiap sore, antara pukul 17.00 hingga 20.00, warga bergantian menenteng jeriken menuju sumber air. Anak-anak yang seharusnya mengerjakan tugas sekolah sering ikut membantu orang tua mereka antre dan mengambil air.

Read More

Dalam ingatan warga, masa itu bukan sekadar cerita kekurangan, melainkan rutinitas yang melelahkan dan membatasi.

Hari ini, situasinya berbeda. Air mengalir lebih dekat ke rumah-rumah. Warga tak lagi bergantung pada jam tertentu untuk mendapatkan pasokan.

Perubahan ini bukan terjadi karena satu proyek instan, melainkan melalui proses panjang yang mengubah cara warga memandang hutan. Dari sekadar lahan garapan menjadi penopang kehidupan bersama.

Dari Kopi Monokultur ke Hutan yang Dikelola

Supomo, yang akrab disapa Pomo, adalah salah satu penggerak perubahan itu. Lahir pada 1975, ia tumbuh dalam tradisi bertani kopi tanpa penaung di kawasan hutan lindung.

Praktik tersebut telah lama menjadi kebiasaan: kopi ditanam rapat, pohon besar ditebang agar sinar matahari maksimal.

Hasil panen mungkin terasa cepat, tetapi tanah menjadi keras, lahan kritis, dan air makin sulit disimpan.

“Dulu kami hanya berpikir panen jangka pendek,” kata Pomo di Bangun Rejo, Senin (2/3/2026).

“Kalau kopi berbuah, itu yang kami kejar. Soal hutan, air, dan tanah, belum terpikir sejauh itu.”

Kesadaran baru mulai tumbuh ketika dampak ekologis semakin nyata. Sumber air menyusut, tanah mudah tererosi, dan produktivitas lahan tidak lagi stabil.

Dari kegelisahan itulah Pomo bersama sejumlah petani, didampingi KPH Pesawaran Dinas Kehutanan, membentuk Kelompok Tani Hutan (KTH) Sido Makmur.

Sebuah wadah yang kelak menjadi titik balik pengelolaan hutan di Wonorejo.

Proses Panjang yang Tidak Selalu Mudah

Mengubah kebiasaan bertani bukan perkara sederhana. Ketika Pomo mengajak petani beralih ke pola agroforestri, menanam kopi berdampingan dengan pohon kehutanan dan tanaman bernilai ekonomi, resistensi muncul.

Banyak petani khawatir produksi kopi menurun jika lahan dinaungi pohon besar.

“Waktu itu banyak yang ragu. Takut hasil turun, takut gagal,” ujar Pomo.

Pendekatan yang dilakukan KTH Sido Makmur tidak bersifat memaksa. Diskusi, contoh lapangan, dan proses belajar bersama menjadi kunci.

Perlahan, pemahaman baru tumbuh: hutan yang sehat bukan penghambat, melainkan penyangga produktivitas jangka panjang.

Di fase inilah peran pendampingan menjadi penting. Kasi Penguatan Kelembagaan dari BPDAS Way Seputih–Way Sekampung (WSS), Sodikin, menyebut perubahan di Wonorejo sebagai hasil keterbukaan petani terhadap proses belajar.

“Kami sangat bangga melihat langsung keberhasilan RHL tahun 2019 ini,” ujar Sodikin, Senin (2/3) di Bangun Rejo, mewakili Kepala BPDAS WSS, Irwan Valentinus Sihotang.

“Terutama tanaman pala yang sudah berbuah dan menjadi salah satu komoditi unggulan KTH,” imbuhnya.

Baca juga:
* WEF Nexus Lampung 2026: Dari Ancaman Krisis Air hingga Strategi Ketahanan Energi dan Pangan

Menata Kelembagaan, Menata Masa Depan

Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) yang berlangsung selama tiga tahun, dari 2019 hingga 2021, menjadi momentum penting bagi KTH Sido Makmur.

Di kawasan Bangun Rejo, BPDAS WSS menyalurkan sekitar 74.400 batang bibit untuk area seluas 186 hektare.

Penanaman dilakukan oleh petani sendiri, dengan kepadatan sekitar 400 batang per hektare.

Jenis tanaman yang dipilih mencerminkan pendekatan agroforestri: pala, cengkeh, kemiri, nangka, durian, pinang, aren, dan petai.

Bagi petani, kombinasi ini bukan hanya soal diversifikasi ekonomi, tetapi juga strategi memulihkan fungsi hutan.

Kini, setelah beberapa tahun berlalu, perubahan fisik mulai terlihat. Tajuk pohon terbentuk, mikroklimat membaik, dan tanah kembali mampu menyimpan air.

Di sela-sela tanaman utama, petani menanam pisang serta sayuran seperti cabai dan daun bawang. Ini memberi pendapatan antara sambil menunggu pohon tahunan berproduksi.

Namun, keberhasilan ini tidak tanpa tantangan.

Beberapa pohon kemiri tumbang akibat angin kencang yang kerap melanda wilayah tersebut. Pohon durian dari program RHL hingga kini belum berbuah.

Fakta-fakta ini menjadi pengingat bahwa rehabilitasi hutan adalah proses jangka panjang, bukan cerita sukses instan.

“Kami tidak hanya bicara teknis tanam,” ujar Sodikin.

“Yang lebih penting adalah memastikan kelembagaan petani kuat, mampu mengambil keputusan, dan mengelola hutan secara mandiri,” tegasnya.

Hutan Hidup, Air Kembali

Meski demikian, dampak sosialnya terasa nyata. Seiring terbentuknya tajuk dan pulihnya fungsi hidrologis kawasan, mata air mulai bermunculan.

Menurut Pomo, ada sekitar 15 mata air baru di sekitar area RHL dan perkampungan.

Bagi warga Dusun Wonorejo, angka itu bukan sekadar statistik. Ini berarti air yang lebih dekat, waktu yang lebih longgar, dan beban harian yang berkurang.

Anak-anak memiliki lebih banyak waktu belajar. Petani tidak lagi diliputi kecemasan setiap kali musim kemarau datang.

“Hutan yang hidup itu seperti tabungan,” kata Pomo. “Tidak langsung terasa, tapi ketika dibutuhkan, dia ada.”

Baca juga:
* Generasi Muda dan Reboisasi: Antara Seremoni dan Masa Depan Berkelanjutan

Menanam Nilai, Bukan Sekadar Pohon

Transformasi yang terjadi di Wonorejo menunjukkan bahwa reboisasi tidak cukup berhenti pada penanaman bibit.

Yang jauh lebih menentukan adalah perubahan cara pandang dan kekuatan kelembagaan di tingkat tapak.

KTH Sido Makmur menjadi contoh bagaimana petani dapat menjadi penjaga hutan sekaligus pengelola sumber penghidupan.

Hari ini, hutan lindung di Desa Bangun Rejo, Punduh Pedada, Pesawaran, tidak lagi dipahami sebagai kawasan yang membatasi ruang hidup warga.

Hutan ini menjelma menjadi ruang belajar, sumber air, dan penyangga masa depan.

Sebuah pelajaran bahwa keberlanjutan tidak tumbuh dari proyek singkat, melainkan dari nilai yang ditanam, dirawat, dan dijaga bersama.

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *