Musim kemarau 2025 meninggalkan sawah-sawah kering di sejumlah wilayah Lampung. Awal Februari 2026, giliran banjir genangan dan angin kencang melanda Pringsewu, Lampung Utara, hingga Metro.
Dua peristiwa ekstrem dalam waktu berdekatan ini menunjukkan satu persoalan mendasar: pengelolaan air, energi, dan pangan yang belum terintegrasi secara utuh.
Di sinilah pendekatan Water–Energy–Food (WEF) Nexus menjadi relevan. Bukan sekadar konsep global, WEF Nexus kini menjadi bagian dari arah pembangunan nasional melalui roadmap Bappenas yang diluncurkan pada 10 Desember 2025 bersama UNDP dan mitra internasional.
Bagi Lampung, provinsi lumbung pangan nasional,WEF Nexus bukan lagi wacana Jakarta, melainkan kerangka strategis untuk menjaga ketahanan daerah di tengah tekanan perubahan iklim.
WEF Nexus: Mengapa Air, Energi, dan Pangan Tak Bisa Dipisahkan

WEF Nexus memandang air, energi, dan pangan sebagai satu sistem yang saling memengaruhi.
Air dibutuhkan untuk irigasi pertanian sekaligus pembangkit listrik. Energi diperlukan untuk pompa air, pengolahan hasil panen, hingga distribusi pangan.
Sementara pangan berperan menjaga stabilitas sosial dan dapat menjadi sumber energi melalui bioenergi.
Jika satu sektor terganggu, dua sektor lainnya ikut terdampak.
Karena itu, roadmap nasional menekankan pendekatan lintas sektor berbasis data melalui Decision Support System (DSS), platform digital yang memungkinkan simulasi kebijakan untuk melihat dampak keputusan pada air, energi, dan pangan secara bersamaan.
Baca juga:
* Webinar Nasional Soroti Peran DAS dan Lanskap Jaga Ketahanan Wilayah Lampung dari Hulu ke Hilir
Kondisi Lampung: Potensi Besar, Kerentanan Nyata
Lampung memiliki luas lahan pertanian lebih dari 1,2 juta hektare dan dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional.
Namun, studi IOP 2022 yang masih menjadi rujukan menunjukkan bahwa water security menjadi faktor penentu bagi ketahanan pangan dan energi di provinsi ini.
Ketersediaan air relatif tinggi, tetapi sekitar 49 persen daerah tangkapan air (catchment area) mengalami degradasi.
Produksi beras yang sempat meningkat pada periode 2010–2017 kemudian menurun akibat fluktuasi curah hujan dan kerusakan daerah aliran sungai (DAS), terutama DAS Way Sekampung.
Di sisi energi, potensi energi baru terbarukan (EBT) Lampung mencapai 153,39 GW, dengan kontribusi terbesar dari energi surya sekitar 121 GW, disusul geothermal, hidro, dan arus laut.
Sejumlah bendungan seperti Batutegi, Way Sekampung, dan Margatiga telah berfungsi ganda sebagai sumber irigasi dan pembangkit listrik.
Namun, pada musim kemarau, penurunan volume air membuat fungsi ganda ini rentan terganggu.
DAS sebagai Titik Kritis WEF Nexus Lampung
Tantangan terbesar Lampung terletak pada degradasi DAS. Provinsi ini memiliki lima DAS utama: Sekampung, Tulang Bawang, Mesuji, Seputih, dan Semaka.
DAS Sekampung menjadi tulang punggung irigasi pertanian di wilayah tengah dan selatan Lampung.
Data Badan Pengelolaan DAS mencatat 388.463 hektare lahan kritis dan sekitar 860 hektare lahan sangat kritis. Sementara itu, rehabilitasi yang berjalan baru sekitar 1.000 hektare per tahun, jauh dari kebutuhan aktual.
Ketimpangan ini berkontribusi pada banjir, erosi, sedimentasi bendungan, serta ancaman berkurangnya pasokan air irigasi.
Strategi Daerah: Bendungan Multifungsi hingga Energi Hidrogen Hijau
Sejalan dengan roadmap nasional, Pemerintah Provinsi Lampung di bawah kepemimpinan Rahmat Mirzani Djausal mulai mengintegrasikan kebijakan air, energi, dan pangan.
Pada 13 Februari 2026, Gubernur Mirza menyatakan bahwa bendungan-bendungan di Lampung perlu dimaksimalkan.
Bendungan difungsikan tidak hanya untuk irigasi dan pengendalian banjir, tetapi juga sebagai sumber energi hijau. Yaitu melalui hydropower, PLTS terapung, dan mikrohidro.
Pendekatan ini menempatkan bendungan sebagai simpul utama WEF Nexus di tingkat daerah.
Sebelumnya, pada September 2025, Lampung mencatat tonggak penting dengan groundbreaking proyek pilot green hydrogen pertama di Indonesia berbasis panas bumi di Ulubelu, Kabupaten Tanggamus.
Proyek yang digarap Pertamina Geothermal Energy ini akan memproduksi hidrogen hijau tanpa emisi karbon, sekaligus memperkuat posisi Lampung sebagai daerah energi bersih.
Reboisasi Massal: Fondasi Ketahanan Air Jangka Panjang
Inisiatif terbaru datang dari agenda reboisasi. Dalam Rapat Koordinasi Forum DAS Provinsi Lampung pada 11 Februari 2026, Gubernur Mirza menetapkan target rehabilitasi 300.000 hektare lahan kritis dalam 4–5 tahun ke depan.
Menyadari keterbatasan anggaran APBD dan kementerian, Pemprov mendorong keterlibatan swasta melalui program CSR serta partisipasi komunitas. Mulai dari kelompok tani, pemuda desa, masyarakat adat, sekolah, hingga aparat kepolisian.
Reboisasi ini diharapkan meningkatkan daya serap air, menekan erosi, dan menjaga stabilitas pasokan air untuk pertanian dan energi.
“Ini bukan untuk hari ini saja, tapi untuk ke depan, menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Gubernur Mirza.
Agenda ini juga ditautkan dengan Gerakan ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang didorong pemerintah pusat.
Menuju Provinsi Model WEF Nexus
Langkah-langkah tersebut menunjukkan pendekatan holistik di tingkat daerah yang sejalan dengan WEF Nexus nasional.
Optimalisasi bendungan, pengembangan energi hijau geothermal dan hidro, serta reboisasi DAS menjadi fondasi ketahanan Lampung ke depan.
Baca juga:
* Dari Rakor DAS ke Aksi, Gubernur Mirza Satukan CSR dan Komunitas untuk Reboisasi Lampung
Ke depan, adopsi Decision Support System dari Bappenas di tingkat provinsi, percepatan pembangunan waduk kecil, serta kolaborasi lintas sektor (petani, PLN, Pertamina, dan perguruan tinggi seperti Universitas Lampung) akan menjadi kunci keberhasilan.
WEF Nexus bukan konsep abstrak. Di Lampung, pendekatan ini mulai terwujud melalui bendungan multifungsi, energi hidrogen hijau Ulubelu, dan reboisasi ratusan ribu hektare DAS.
Dengan dukungan pemerintah daerah dan partisipasi aktif masyarakat, Lampung berpeluang menjadi contoh sukses integrasi air, energi, dan pangan di Indonesia.
Bagaimana menurut Anda, Ulun Lampung?
Apakah langkah reboisasi dan optimalisasi bendungan ini sudah cukup, atau masih ada yang perlu ditingkatkan? Sampaikan pandangan dan saran Anda di kolom komentar. Mari kita jaga alam Lampung bersama, untuk generasi yang akan datang.



