Hujan kembali turun di banyak wilayah Lampung dalam beberapa pekan terakhir. Di sejumlah daerah, genangan air muncul di permukiman, beberapa sungai meluap ke area sekitar, banyak rumah di Kota Bandarlampug dan Lampung Selatan terendam banjir.
Peristiwa seperti ini sering dianggap sebagai konsekuensi alami dari curah hujan tinggi. Namun, kenyataannya persoalan banjir jauh lebih kompleks daripada sekadar intensitas hujan.
Dalam banyak kasus, banjir tidak hanya dipicu oleh air yang turun dari langit, tetapi juga oleh bagaimana lanskap di daratan dikelola.
Ketika kemampuan tanah menyerap air berkurang, hujan yang seharusnya menjadi berkah bagi pertanian justru berubah menjadi limpasan yang bergerak cepat menuju sungai dan permukiman.
Fenomena ini mengingatkan bahwa persoalan air tidak berdiri sendiri. Banjir terkait erat dengan tutupan lahan, tata ruang wilayah, serta keseimbangan antara kawasan hutan, kebun, dan permukiman.
Lanskap yang Berubah
Selama beberapa dekade terakhir, lanskap di banyak wilayah Lampung mengalami perubahan signifikan.
Kawasan yang sebelumnya berupa hutan atau kebun campuran perlahan berubah menjadi lahan pertanian intensif, permukiman, maupun infrastruktur.
Perubahan tersebut tidak selalu bermasalah. Pembangunan memang membutuhkan ruang.
Namun, ketika perubahan penggunaan lahan terjadi tanpa memperhatikan keseimbangan ekologis, fungsi alami lanskap dalam mengatur tata air bisa terganggu.
Pohon dan vegetasi sebenarnya berperan penting dalam siklus air. Tajuk pohon menahan sebagian air hujan sebelum mencapai tanah.
Akar membantu memperbaiki struktur tanah sehingga air dapat meresap lebih dalam. Tanah yang sehat dengan kandungan bahan organik tinggi mampu menyimpan air seperti spons alami.
Sebaliknya, tanah yang terdegradasi atau tertutup permukaan keras akan lebih mudah menghasilkan limpasan. Air hujan yang tidak sempat meresap langsung mengalir ke saluran drainase dan sungai.
Jika volume air yang mengalir melebihi kapasitas sungai, banjir menjadi sulit dihindari.
Sungai sebagai Cermin Lanskap
Sungai pada dasarnya adalah cermin dari kondisi lanskap di sekitarnya. Apa yang terjadi di hulu akan mempengaruhi kondisi di hilir.
Ketika kawasan hulu kehilangan tutupan vegetasi yang cukup, aliran air menjadi lebih cepat dan tidak stabil.
Pada musim hujan, debit air meningkat tajam dalam waktu singkat. Sebaliknya pada musim kemarau, air sungai bisa menurun drastis karena cadangan air tanah berkurang.
Fluktuasi yang ekstrem ini sering menjadi tanda bahwa sistem tata air alami sedang mengalami tekanan.
Dalam konteks pengelolaan wilayah, pendekatan berbasis daerah aliran sungai atau DAS menjadi semakin penting. Pengelolaan air tidak bisa hanya dilakukan di satu titik, melainkan harus melihat seluruh bentang alam dari hulu hingga hilir.
Baca juga:
* Generasi Muda dan Reboisasi: Antara Seremoni dan Masa Depan Berkelanjutan
Pentingnya Tutupan Pohon di Lanskap Produksi
Menjaga keseimbangan tata air bukan berarti menghentikan aktivitas ekonomi di pedesaan. Justru sebaliknya, kegiatan pertanian dan perkebunan dapat dirancang agar tetap produktif sekaligus mendukung fungsi ekologis.
Salah satu pendekatan yang semakin banyak dibicarakan adalah sistem kebun campuran atau agroforestri. Dalam sistem ini, tanaman utama seperti kopi, kakao, atau tanaman pangan dikombinasikan dengan pohon pelindung.
Keberadaan pohon dapat membantu menjaga kesuburan tanah, juga meningkatkan kemampuan tanah menyerap air. Dengan demikian, risiko limpasan berlebih dapat ditekan.
Pendekatan ini juga memiliki manfaat ekonomi jangka panjang. Kebun yang memiliki keragaman tanaman cenderung lebih tahan terhadap perubahan iklim dan fluktuasi harga komoditas.
Di berbagai daerah tropis, agroforestri bahkan mulai dilihat sebagai jalan tengah antara kebutuhan produksi dan upaya pemulihan lingkungan.
Tantangan Tata Ruang
Selain pengelolaan lahan di tingkat kebun, tata ruang wilayah juga memainkan peran penting.
Pertumbuhan kota dan kawasan permukiman sering kali mengubah area resapan air menjadi permukaan keras seperti jalan, bangunan, dan kawasan komersial.
Tanpa perencanaan drainase dan ruang terbuka hijau yang memadai, kota menjadi lebih rentan terhadap genangan saat hujan deras.
Oleh karena itu, pengelolaan tata air seharusnya menjadi bagian dari perencanaan pembangunan sejak awal.
Ruang terbuka hijau, kawasan resapan, dan perlindungan terhadap daerah hulu merupakan investasi jangka panjang bagi ketahanan lingkungan.
Baca juga:
* Catatan Kecil: Refleksi Arah Pembangunan Kehutanan Lampung
Hujan sebagai Pengingat
Musim hujan pada akhirnya selalu datang setiap tahun. Hujan adalah bagian alami dari siklus iklim tropis yang selama berabad-abad justru mendukung kehidupan pertanian.
Namun ketika tetesan air dari langit ini mulai sering diikuti oleh genangan dan banjir, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal bahwa keseimbangan lanskap sedang berubah.
Bagi wilayah seperti Lampung yang bergantung pada sumber daya alam, menjaga keseimbangan antara pembangunan dan fungsi ekologis lanskap menjadi tantangan penting ke depan.
Pada akhirnya, yang menentukan apakah hujan menjadi berkah atau bencana bukanlah hujan itu sendiri. Jawabannya terletak pada bagaimana manusia mengelola tanah, hutan, dan ruang hidup tempat air itu jatuh.
—
Penulis: Yopie Pangkey, pemerhati Kehutanan dan travel blogger.



