Setelah Satu Dekade Ditinggalkan, Kakao Lampung Timur Mulai Bangkit

Setelah Satu Dekade Ditinggalkan Kakao Lampung Timur Mulai Bangkit
Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, bersama Ketua APiK Lampung Timur, Japung Lasarus, dan para offtaker. (Foto: ist)

Kakao yang sempat ditinggalkan petani di Kabupaten Lampung Timur lebih dari satu dekade lalu kini perlahan kembali dilirik.

Setelah terpukul serangan hama pada awal 2010-an dan ditebang massal, komoditas ini mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan seiring masuknya offtaker, pendampingan intensif, serta upaya perbaikan budidaya dan pascapanen.

Read More

Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APiK) Lampung Timur, Japung Lasarus, mengatakan kakao di wilayahnya pernah mengalami masa suram pada rentang 2010–2012.

Saat itu, serangan hama busuk buah membuat produksi anjlok dan mematahkan kepercayaan petani.

“Banyak petani menebang kakao dan beralih ke komoditas lain. Trauma itu masih terasa cukup lama,” ujar Japung, Selasa (3/2/2026).

Menurutnya, kebangkitan kakao Lampung Timur mulai terlihat sejak 2025. Sejumlah offtaker datang membawa klon baru yang lebih tahan hama, sekaligus melakukan pendampingan langsung kepada petani.

Upaya tersebut diperkuat dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Lampung Timur.

“Kehadiran offtaker seperti PT Papandayan dan Olam memberi harapan baru. Mereka tidak hanya membeli hasil, tapi juga mendampingi petani bersama Pemkab Lampung Timur,” kata Japung.

Di luar persoalan hama, Japung menilai kakao sejatinya memiliki keunggulan yang membuatnya layak diperjuangkan kembali. Kakao dapat ditanam secara tumpang sari dan memberi manfaat ekonomi berlapis bagi petani.

“Kalau bahasa kami, satu hektare kakao itu terasa seperti tiga hektare. Di bawah bisa tanam talas atau umbi, di tengah kakao, di atas bisa kelapa atau alpukat. Panennya berlapis,” ujarnya.

Meski mulai bangkit, Japung mengakui perjalanan kakao Lampung Timur belum sepenuhnya mulus. Salah satu tantangan utama yang masih dihadapi petani adalah persoalan keamanan kebun. Kondisi ini membuat petani kerap memanen buah sebelum matang sempurna.

“Petani sering tidak berani petik tua karena takut keduluan orang. Akhirnya dijual basah, kualitasnya rendah, dan harganya murah,” ucapnya.

Saat ini, harga kakao basah di tingkat petani Lampung Timur masih berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram.

Padahal, menurut Japung, nilai ekonomi kakao bisa meningkat signifikan jika buah dipanen matang dan difermentasi dengan baik.

“Kalau panen matang dan difermentasi, itu sudah masuk kakao premium. Harganya tentu jauh lebih bagus,” katanya.

Untuk mendorong peningkatan kualitas, APiK Lampung Timur bersama Pemkab Lampung Timur tengah merintis kerja sama dengan mitra dari Bandung.

Program tersebut mencakup pendampingan teknis budidaya, penyediaan alat fermentasi, hingga penggunaan solar dryer untuk proses pengeringan.

“Sekarang fokus kami di hulu dan pascapanen dulu. Kalau ini sudah berjalan, target jangka menengahnya adalah memproduksi cokelat sendiri dari Lampung Timur,” ujar Japung.

Selain aspek teknis, penguatan kelembagaan petani dinilai menjadi kunci keberlanjutan kebangkitan kakao. Menurut Japung, petani yang tergabung dalam kelompok akan lebih mudah berkembang, saling belajar, serta menjaga keamanan kebun secara kolektif.

Baca juga:
* Ironi Emas Cokelat: Menagih Janji Hilirisasi di Tanah Lampung

“Kalau petani berkelompok, semuanya bisa jalan. Dari belajar budidaya, sambung sisip, sampai ronda kebun. Ini yang sedang kami dorong agar kakao Lampung Timur benar-benar bangkit dan memberi kesejahteraan bagi petani,” imbuhnya.

Japung menegaskan, kebangkitan kakao Lampung Timur tidak bisa dibaca sebagai keberhasilan instan.

Jalan menuju pemulihan penuh masih panjang, tetapi langkah-langkah awal yang dilakukan saat ini dinilai penting untuk memulihkan kepercayaan petani terhadap komoditas yang pernah runtuh tersebut.

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *