Sepuluh bulan bukanlah waktu yang cukup untuk mengubah wajah sebuah provinsi seluas 35.376 km². Tapi cukup untuk melihat ke mana arah pemerintahan akan melangkah.
Pasangan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Wakil Gubernur Jihan Nurlela, yang dilantik awal tahun 2025 ini, kini tengah dihadapkan pada ekspektasi publik yang tidak main-main.
Kemenangan telak mereka di Pilgub Lampung 2024 membawa konsekuensi: 18 Program Kerja Strategis yang harus dijalankan.
Yang menarik, alih-alih skeptisisme biasa yang menyelimuti pemerintahan baru, ada angin segar optimisme dari Telukbetung. Dan optimisme ini punya alasan.
Sinkronisasi Politik sebagai Modal Awal
Keunggulan terbesar Mirza-Jihan ada pada kedekatannya dengan pemerintah pusat.
Dalam literatur pembangunan daerah, Arsyad (2010) menyebut bahwa kesuksesan ekonomi lokal sangat ditentukan oleh kemitraan strategis antara pemerintah, swasta, dan sumber daya yang tersedia.
Keduanya paham betul soal ini. Makanya, program seperti “Pemberian Makan Bergizi Gratis” dan “Lumbung Pangan Nasional” dijadikan prioritas utama.
Ini bukan cuma soal memenuhi janji kampanye, tapi strategi memastikan dukungan dari pusat tetap mengalir deras ke Lampung.
“Kami minta semua Kepala OPD fokus pada program yang langsung mendukung visi Lampung Maju. Kerja sama dengan pusat dan kabupaten/kota itu tidak bisa ditawar,” kata Gubernur Mirza dalam briefing perdana dengan jajarannya.
Capaian 10 Bulan: Ada Progress, Bukan Cuma Janji
Pertanyaannya sederhana: sudah sejauh mana janji-janji itu terealisasi? Kalau bicara selesai total, jelas belum. Tapi kalau bicara kemajuan konkret, ada banyak yang bisa dicatat.
Beberapa pencapaian sampai akhir tahun ini antara lain:
Di sektor kesehatan, pembangunan RSUD KH. Muhammad Thohir di Pesisir Barat berjalan sesuai rencana, bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC).
Di bidang ekonomi desa, program peningkatan kapasitas BUMDes untuk produksi pupuk organik sudah dimulai di daerah-daerah pertanian seperti Lampung Barat.
Yang cukup membanggakan, Lampung meraih peringkat ke-3 nasional dalam Penghargaan Pembangunan Daerah 2025 sebuah pengakuan bahwa perencanaan pembangunan di sini cukup solid.
Wakil Gubernur Jihan Nurlela berkali-kali menekankan bahwa pembangunan bukan sekadar infrastruktur fisik.
“Kami dorong perubahan mindset dari ketergantungan bantuan ke kemandirian ekonomi. Contohnya, graduasi mandiri penerima PKH yang terus meningkat,” ujarnya di berbagai kesempatan.
Momentum yang Harus Dijaga
Tingkat kepuasan publik di atas 80% pada 100 hari pertama adalah modal besar. Todaro (2003) bilang, pembangunan sejati harus mencakup ketahanan hidup (sustenance) dan harga diri (self-esteem).
Mirza-Jihan sepertinya sedang berusaha mengembalikan martabat Lampung sebagai lumbung pangan dan energi yang diperhitungkan di Sumatera.
Baca juga:
* Lampung Raih Penghargaan Kemendagri: Gubernur Rahmat Mirzani Djausal Sukses Tekan Angka Kemiskinan
Tentu saja, masalah masih ada. Stabilitas harga pangan, pengentasan kemiskinan, dan pemerataan pembangunan masih jadi PR besar.
Tapi dengan langkah terukur dan koordinasi yang kuat, “Lampung Maju Menuju Indonesia Emas” bukan sekadar slogan kampanye di baliho.
Ini peta jalan yang sedang kita tempuh bersama dengan harapan bahwa hasilnya benar-benar bisa dirasakan rakyat.
*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan
#GubernurMirza
#WagubJihan
#LampungMaju



